Desa Sandik dan Desa Sesela Jadi Desa Percontohan dalam Penanggulangan TBC, Kok Bisa?


Foto Bersama Kader Desa Sesela (11/8)

Lombok Barat - Pada 9 Agustus 2022 lalu, STPI mengadakan Semiloka Isu TBC dengan Dinas terkait (OPD) dan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Arief Suryawirawan, S.Si, Apt., M.PH selaku Kepala Dinas Kesehatan Kab. Lombok Barat yang memberikan sambutan pada acara yang dihadiri oleh 30 peserta dari pemerintahan maupun OMS tersebut.


Dalam sambutannya, beliau merasa sangat bangga dengan adanya 2 desa yang menjadi contoh untuk desa lain di Kabupaten Lombok Barat. Kedua desa tersebut adalah Desa Sesela dan Desa Sandik yang menjadi daerah intervensi Tim Program Daerah STPI.


“Coba kita lihat 2 desa di Lombok Barat, Desa Sesela dan Desa Sandik. Mereka cukup berhasil menganggarkan dana desa dalam penanggulangan TBC. Dua desa tersebut adalah contoh untuk desa lainnya”, ujar Arief Suryawirawan, S.Si, Apt., M.PH selaku kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat. Beliau pun menyampaikan kepada Ns. I Made Santiana, S.Kep, M.Kes selaku Kepala Seksi Surveilans P3KL Dinas Kesehatan Kab. Lombok Barat untuk menghadirkan masing-masing kepala desa tersebut dalam rapat koordinasi pemerintah desa Kab. Lombok Barat secara internal.


Anggaran yang dikeluarkan oleh Pemerintah Desa Sandik adalah 25 juta untuk tahun 2022, sementara Pemerintah Desa Sesela sebesar 15 juta untuk tahun 2022. Dana tersebut sudah dicairkan kepada 20 kader pada setiap desa yang melaksanakan kegiatan secara teknis di lapangan.


Anggaran tersebut dapat disetujui oleh kepala desa setempat melalui serangkaian tahapan advokasi. Dimulai dari audiensi kepada pemerintah desa setempat, pembentukkan kader desa dan Desa Siaga TBC hingga membuat rencana dana yang dibutuhkan untuk penanggulangan TBC di desa.


Terbentuknya Desa Siaga TBC menunjukkan bahwa pemerintah Desa Sandik dan Desa Sesela berkomitmen penuh untuk menanggulangi TBC di daerahnya. Desa siaga TBC juga menjadi wadah bagi kader desa untuk bersama-sama membantu pemerintah dalam menanggulangi TBC.


Kegiatan yang dilakukan kader desa cukup beragam, mulai dari melakukan sosialisasi, melakukan skrining massal/door to door, hingga mengantarkan dahak/sputum dari masyarakat yang batuk lebih dari 2 minggu ke puskesmas. Namun, sebelum kader desa turun ke masyarakat, mereka mendapat pelatihan untuk melakukan tugasnya. Kader desa dibekali pengetahuan terkait TBC secara umum, komunikasi interpersonal hingga peningkatan skill dalam berkomunikasi kepada masyarakat desa.


Adanya anggaran dana desa untuk penanggulangan TBC dan pembentukan kader desa, merupakan sebuah kombinasi yang baik untuk bisa saling membantu dalam eliminasi TBC 2030.