Penyelamatan Nyawa di Desa “Kantong TB": X- Ray Di Kaki Gunung, Di Derasnya Hujan dan Penolakan
- Stop TB Partnership ID
- 1 hari yang lalu
- 3 menit membaca

Hujan di kaki gunung Bogor sering turun tanpa aba-aba. Jalanan menjadi licin, udara menggigil, dan rumah-rumah berdiri berjauhan mengikuti kontur perbukitan. Namun bagi para tim dan kader tuberkulosis (TB), cuaca bukan alasan untuk berhenti.
Mereka tetap berjalan. Dari satu rumah ke rumah lain. Dari RT ke RT. Menjelaskan pentingnya pemeriksaan dan meyakinkan warga bahwa deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa.
Inilah potret kerja sunyi penyelamatan nyawa program FCSDS (Life-saving Facility and Community-based Service Delivery Support for Tuberculosis) di wilayah kerja Bogor, Jawa Barat periode November 2025-Januari 2026.
Ketika Desa Membuka Pintu
Sebelum skrining dilakukan, langkah pertama bukanlah membawa alat X-ray atau daftar nama sasaran. Langkah pertama adalah bersilaturahmi.
Tim harus menemui kepala desa. Meminta izin untuk berkegiatan melakukan investigasi kontak (IK) dan Community Outreach (CO) . Mengurus surat tugas kader karena kader berada di bawah struktur desa. Di sinilah peran pemerintah desa menjadi sangat menentukan.
Ada desa yang sudah berstatus Desa Siaga TB yang memiliki anggaran dan sistem dukungan. Ada pula desa yang belum. Namun satu hal yang menguatkan adalah ketika kepala desa merespons dengan antusias, meskipun tidak semua tapi ini sangat membantu.
Beberapa kepala desa bahkan aktif berdiskusi, berkonsultasi, dan menyebut wilayahnya sebagai “kantong TB” yang perlu perhatian bersama. Istri kepala desa atau ibu PKK pun kerap menjadi motor penggerak. Dengan jejaringnya hingga tingkat RT/RW, penyebaran informasi menjadi jauh lebih mudah.
Di beberapa wilayah, kepala dusun ikut turun langsung. RT dan RW mendampingi saat kunjungan lapangan. Mobil siaga desa disiapkan untuk membantu warga datang ke lokasi skrining.
Tantangan: Stigma dan Ketakutan
Namun perjalanan tidak selalu mulus.
Salah satu tantangan muncul saat skrining akan dilakukan di lingkungan pesantren. Pemeriksaan dilakukan karena terdapat kasus indeks TB di sana. Namun respons awal yang muncul adalah kepanikan.
“Untuk apa X-ray disini? Pasiennya sudah pindah.”
Ketakutan terbesar bukan semata soal hasil pemeriksaan, tetapi kekhawatiran akan stigma. Takut dicap sebagai pesantren dengan banyak kasus TB. Takut nama baik tercoreng.
Kader pun sempat kesulitan masuk. Perizinan tidak mudah. Jumlah santri cukup banyak, tetapi akses terbatas.
Di sinilah koordinasi lintas sektor menjadi kunci. Penanggung jawab TB puskesmas turun tangan. Kantor desa ikut mendukung. Dialog dilakukan berulang kali. Penjelasan diberikan dengan sabar. Hingga akhirnya, skrining bisa dilaksanakan.
Kepercayaan tidak datang dalam sehari. Ia dibangun dengan komunikasi.
Skrining yang Bukan Sekadar Pemeriksaan

Setelah pembekalan kader dan pemetaan sasaran dilakukan, kunjungan rumah dimulai. Undangan dibagikan sesuai arahan.
Hari pelaksanaan skrining menjadi momen tersendiri.
Ada warga yang datang sendiri. Ada yang datang beramai-ramai. Ada yang dijemput mobil siaga desa. Bahkan ada tim yang turut menyetir untuk memastikan peserta sampai dengan aman.
Menariknya, sebagian peserta bukan takut dinyatakan positif TB. Mereka justru takut jika hasil rontgen menunjukkan kondisi lain yang dianggap “jelek”. Ketakutan itu menunjukkan betapa skrining kesehatan masih sering dibayangi kecemasan.
Untuk setiap peserta skrining, disediakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Bukan sebagai gimmick, melainkan bentuk dukungan nyata. Telur rebus dan susu dibagikan. Ada kader yang dengan sukarela menambah isi paket. Namun ada pula yang kewalahan harus merebus telur, mengemas, mencari susu berkualitas, sering kali dengan persiapan mendadak. Di beberapa situasi, penyediaan PMT akhirnya dibantu vendor.
Lebih dari Sekadar Program
Proyek FCSDS ini bukan hanya tentang mendeteksi TB lebih cepat. Ini tentang membangun sistem dukungan di tingkat desa. Tentang memastikan bahwa TB tidak lagi menjadi isu yang dibicarakan dengan bisik-bisik.
Geografi Bogor yang berada di kaki gunung menghadirkan tantangan tersendiri. Hujan yang turun tiba-tiba membuat kader sering kehujanan saat kunjungan. Namun semangat tidak surut.
Pengalaman di Bogor menunjukkan satu hal penting: ketika desa dilibatkan, ketika kepala desa dan ibu PKK bergerak, ketika RT/RW turun tangan, maka skrining TB bukan lagi sekadar program kesehatan, ia menjadi gerakan bersama.Melalui program FCSDS, STPI dan Pelibatan elemen masyarakt desa kota Bogor, tercatat sudah hampir ribuan jiwa sudah dilakukan skrining dan akan terus bertambah.
Hal ini dikarenakan semua sektor bekerjasama, Bukan untuk mencari kesalahan.
Melainkan untuk menyelamatkan nyawa.















