Webinar Forum STPI: Active Case Finding

Pembelajaran dan Praktik Baik Active Case Finding dari TB REACH serta Perencanaan dan Algoritma Implementasi ACF yang Optimal di Asia Tenggara




Jakarta - Sekretariat Forum STPI menyelenggarakan webinar tentang Active Case Finding (ACF) TBC yang telah dilaksanakan pada Jumat 7 Oktober 2022 dari pukul 14.00 - 16.00 WIB secara virtual melalui Zoom dan Youtube STPI. Webinar ACF TBC menjadi kegiatan pembelajaran yang mengundang pembicara dari tingkat global, regional, dan nasional tentang praktik baik implementasi penemuan kasus aktif (active case finding - ACF) TBC di luar maupun dalam negeri. Acara tersebut dihadiri hingga 100 peserta di zoom dan 62 orang di Youtube.


Penemuan kasus TBC secara aktif di Indonesia sejauh ini masih sangat kurang. Berdasarkan Report WHO tahun 2021, estimasi 824 ribu kasus TBC di Indonesia yang terlaporkan hanya 339 ribuan saja, artinya terdapat 500 ribuan atau 51% kasus TBC yang belum ditemukan baik secara aktif maupun pasif. Minimnya penemuan kasus TBC tersebut akan berpotensi menyebar dan menularkan ke orang lain. Salah satu langkah untuk menemukan kasus TBC adalah dengan melakukan active case finding TBC atau menemukan secara aktif orang yang terinfeksi TBC. Secara teknisnya, para tenaga medis didukung oleh kader mengunjungi langsung rumah warga terkhusus kelompok yang berisiko agar dapat segera menemukan kasus aktif TBC.



Nurul Nadia H.W. Luntungan, Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia

Kegiatan dimulai dengan sambutan oleh Nurul Nadia H.W. Luntungan selaku Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia yang menyampaikan tujuan dari kegiatan Webinar FSTPI yaitu untuk memberikan pengetahuan bagi pemangku kepentingan program TBC di Indonesia dalam meramu inovasi untuk active case finding. Selain itu, dr. Imran Pambudi, MPHM, Direktur P2PM Kemenkes RI juga menyampaikan sambutannya terkait harapan dari webinar ini, “Di Indonesia sudah dilakukan beberapa active case finding seperti di Yogyakarta dan pesantren, namun mungkin bisa disampaikan pembelajaran dari negara lain untuk pemerintah bersama para mitra dalam forum ini untuk meningkatkan active case finding di Indonesia”.


dr. Imran Pambudi, MPHM, Direktur P2PM Kemenkes RI

Setelah sambutan, webinar dilanjutkan dengan paparan oleh para narasumber yang dimoderatori Dyah E. Mustikawati selaku Sekretaris Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI). Pemateri pertama adalah Dr. Jacob Creswell selaku TB REACH Team Leader Stop TB Partnership Global. Beliau menyampaikan tentang Lesson Learned & Best Practices of TB Active Case Finding from TB REACH. Dalam paparannya ia menyampaikan permasalahan yang sering dialami dalam menemukan kasus TBC, yaitu: tidak semua orang bisa mengakses pelayanan dan perawatan TBC; seseorang yang mengalami gejala TBC saat periksa di pelayanan kesehatan tidak langsung di tes TBC atau justru didiagnosa penyakit lain; kasus TBC yang tidak dilaporkan ke data nasional. Beliau juga menyampaikan solusi dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, diantaranya: memasifkan tes TBC; meningkatkan diagnosis; memperbaiki sistem pelaporan kasus.



Skrining TBC dengan X-Ray dada menggunakan mobil van di Pakistan

Tak hanya itu, Dr. Jacob Creswell memberikan beberapa contoh active case finding yang sukses dilakukan di beberapa negara lainnya, seperti di Pakistan dan Kamboja melakukan skrining TBC dengan X-Ray yang memanfaatkan mobil van. Di Indonesia juga menggunakan cara home visit oleh tenaga kesehatan dengan mengumpulkan sputum dahak dari orang yang bergejala TBC di daerah Nias. Contoh terakhir adalah dari Nigeria yang memanfaatkan acara tertentu untuk melakukan skrining TBC dengan menggunakan jingle radio untuk memotivasi masyarakat agar ingin dilakukan test TBC di hari spesial atau acara tertentu.


Dalam paparannya, Dr. Jacob Creswell juga menyampaikan bahwa terdapat inovasi skrining TBC memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) pada X-Ray dada, “ …AI pada X-Ray dada saat ini sudah disetujui oleh WHO, banyak data (penelitian) yang membuktikan penggunaannya tersebut. Petunjuk teknis WHO akan diperbaharui berdasarkan data tersebut. X-Ray dada dengan AI dapat mengidentifikasi orang-orang yang tidak merasakan gejala TBC namun juga dapat mengurangi keterlibatan para ahli (dokter) untuk proses tes berlangsung” tambahnya.


Dyah E. Mustikawati, Sekretaris Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI)

Menanggapi paparan Dr. Cresswel, M. Bintari Dwihardiani selaku Active Case Finding (ACF) Project Manager Zero TB Yogyakarta menyatakan, “Target ACF menyasar pada orang-orang yang belum mencari pengobatan atau orang-orang yang mengalami TBC Subklinis (belum bergejala namun sudah ada kelainan yang bisa terdeteksi dengan X-Ray dada)” tambahnya. Kegiatan yang dilakukan oleh Zero TB Yogyakarta yaitu dengan menggunakan X-Ray dada yang difokuskan pada kelompok rentan untuk menghasilkan penemuan kasus yang banyak namun tidak memakan biaya yang besar.


Tantangan yang dialami Zero TB Yogyakarta dalam ACF tidak hanya sekedar mengorganisir masyarakat, namun juga mendeteksi pada fase awal yang sangat sulit yaitu keahlian dokter yang masih belum memadai sehingga dokter juga perlu dilatih dan didampingi. Selain itu, banyak masyarakat menolak saat dianjurkan untuk berobat TPT karena merasa belum sakit. Pembelajaran yang didapatkan adalah Zero TB Yogyakarta perlu mengikutsertakan semua pihak, termasuk pemerintah dan tokoh masyarakat untuk memaksimalkan peserta yang hadir dalam skrining TBC.


Pemaparan kedua diberikan oleh Dr. Vineet Bhatia selaku Regional Advisor (TB) WHO Southeast Asia Regional Office. Beliau menyampaikan Pedoman dan Petunjuk Pelaksanaan WHO untuk implementasi skrining sistematis terhadap penyakit TBC dan pengalaman baik yang ada di Asia Tenggara. Dalam paparannya, implementasi skrining TBC dimulai dari identifikasi sistematis orang yang berisiko terkena TBC. Kelompok sasaran tersebut perlu dites dan diperiksa untuk penanganan yang lebih cepat. Kelompok yang direkomendasikan untuk skrining TBC secara sistematis adalah orang yang serumah sebagai kontak erat pasien TBC, orang dengan HIV, pekerja tambang yang sering terpapar debu silika serta tahanan penjara. Tak hanya itu, beliau juga menyampaikan populasi yang akan diskrining diantaranya: orang yang mengalami lesi fibrotik saat diskrining dengan X-Ray dada; orang yang berisiko tinggi untuk terkena TBC seperti yang mengalami gizi kurang atau gizi buruk, diabetes, penyintas TBC, penyakit paru-paru kronis dll; orang yang berisiko TBC secara struktural dan sulit untuk menjangkau pelayanan kesehatan seperti penduduk miskin, tunawisma, para pencari suaka atau pengungsi, para imigran dan kelompok yang terpinggirkan.



Dr. Vineet Bhatia, Regional Advisor (TB) WHO Southeast Asia Regional Office.

Dr. Vineet menyampaikan beberapa pengalaman dan contoh yang dilakukan di beberapa negara Asia Tenggara yang sukses melaksanakan ACF. Diantaranya seperti melakukan skrining pada kontak serumah yang terbukti meningkatkan penemuan kasus TBC di Kamboja (bertambah 12%) dan India (bertambah 63%). Selain itu, melakukan skrining pada penduduk tahanan di penjara serta kelompok populasi yang berkoloni seperti di asrama sekolah. Anda harus meningkatkan efisiensi proses penemuan kasus dengan ketersedian diagnosis dan pelayanan yang inisiatif. Juga, anda harus memonitor implementasi ACF dengan menggunakan ACF virtual platform” saran dr. Vineet dalam mengimplementasikan Active Case Finding.


Selanjutnya adalah sesi tanggapan dari paparan dr. Vineet Bhatia yang ditanggapi oleh Heny Akhmad selaku Direktur PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, beliau menyampaikan tantangan yang dialami kader selama investasi kontak untuk melakukan kegiatan ini, “ACF ini sangat dipengaruhi oleh sosio kultural di suatu wilayah dan komunitas dimana habit custom itu sangat mempengaruhi prosesnya” ujarnya. Untuk tetap menjalankan ACF di lapangan (para komunitas) maka diperlukan strategi khusus termasuk pelibatan para CSO dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat.


Dari paparan yang sudah disampaikan oleh para pemateri dan penanggap terdapat banyak sekali contoh dan praktik baik yang sudah dilakukan. Misalnya skrining TBC dengan X-Ray dada dengan menggunakan Mobil Van, melakukan kunjungan door-to-door kepada kelompok rentan serta menggunakan event tertentu seperti posyandu dan posbindu untuk menjalankan ACF. Harapannya, dengan beberapa contoh tersebut bisa menjadi bahan masukan untuk para pemerintah serta organisasi masyarakat sipil terutama anggota FSTPI berupaya meningkatkan penemuan kasus. Tentunya, ACF harus disesuaikan dengan karakteristik dan sosiodemografi dari tiap-tiap wilayah di Indonesia.


Bahan dari webinar:

Notulen webinar

Pertanyaan sesi diskusi