top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

TB jadi Program Prioritas Selain MBG: Pasien TB Diberi Bantuan Susu Pendamping


Ribuan pasien TB di Banyuwangi mendapatkan susu pendamping dari Kementerian Kesehatan RI. Ada 1.000 dus yang diterima dengan masing-masing dus terdapat 60 sachet susu formula berbahan khusus seperti susu kambing dan ekstrak kurma berkualitas. Nantinya akan dibagikan pada puskesmas untuk diberikan ke pasien TB dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. 


Program tersebut merupakan bagian dari pilot project nasional yang bertujuan mempercepat penyembuhan pasien TB. Tuberkulosis (TB) sendiri menjadi program prioritas pemerintahan presiden Prabowo selain Makanan Bergizi Gratis (MBG).


Namun yang menjadi pertanyaan apakah program susu pendamping pasien TB ini sudah tepat? Yuk kita bahas


Kondisi Pasien TB

Pasien TB sendiri ketika terinfeksi, gejala yang dialami adalah hilangnya nafsu makan yang mengakibatkan berat badan turun drastis. Ditambah beberapa pasien juga mengalami gejala keringat di malam hari sehingga sulit tidur yang dapat mengganggu waktu istirahat dan mengakibatkan kulit terlihat pucat tidak segar.


Penurunan berat badan ini juga ditandai dengan rendahnya kadar leptin atau hormon yang mengatur nafsu makan. Kekurangan leptin akan berdampak pada penurunan nafsu makan dan berkurangnya berat badan secara drastis.


Saat menjalani pengobatan pun, pasien TB harus minum obat setiap hari selama berbulan-bulan, umumnya 6 bulan, yang bisa membuatnya sering mual dan muntah. Lagi-lagi, mual muntah bisa menurunkan nafsu makan sehingga berat badan sulit bertambah yang bisa berdampak pada lama sembuh. 


Berdasarkan hal tersebut, pasien TB memang sudah seharusnya diberikan makanan pendamping. Selain Obat Anti Tuberkulosis (OAT) sebagai obat utama, perlu tambahan lain untuk meningkatkan nafsu makan agar berat badan bisa bertambah agar tingkat keberhasilan pengobatan semakin besar.


Susu Pendamping Pasien TB

Penelitian di Medan menunjukkan bahwa pasien yang diberikan susu kambing etawa mengalami kenaikan berat badan yang signifikan. Rata-rata berat badan pasien sebelum diberikan susu adalah 45 kg, sebulan setelahnya rutin diberikan susu kambing rata-rata berat badannya jadi 48 kg. Hal ini disebabkan karena susu kambing yang dibarengi dengan OAT dapat meningkatkan nafsu makan, mengurangi batuk dan sesak nafas serta membuat kulit terlihat lebih segar (tidak pucat). Meski hasilnya menjanjikan, temuan ini masih terbatas pada skala penelitian tertentu dan perlu dikaji lebih luas sebelum dijadikan rekomendasi nasional. 


Penelitian lain menunjukkan bahwa susu kambing berpotensi membantu melindungi hati dari efek samping obat TB. Dalam percobaan pada tikus, pemberian obat TB dalam jangka waktu tertentu terbukti menyebabkan kerusakan hati, namun tikus yang juga diberi susu kambing mengalami kerusakan yang lebih ringan. Kondisi hati mereka lebih baik, peradangannya berkurang, dan sel-sel hati lebih terlindungi dibandingkan yang hanya mengonsumsi obat TB saja. Meski hasil ini masih berdasarkan penelitian pada hewan dan belum bisa langsung diterapkan pada manusia, temuan ini memberi gambaran bahwa susu kambing berpeluang menjadi pendukung untuk menjaga kesehatan hati selama pengobatan TB, tanpa menggantikan peran obat utama.


Perbandingan komposisi susu kambing dan susu sapi dalam 100 gram

Komposisi

Susu Kambing

Susu Sapi

Energi

64 kalori

61 kalori

Protein

4,3 gram

3,2 gram

Lemak

2,3 gram

3,5 gram

Kalsium

98 mg

143 mg

Sumber: Tabel Komposisi Pangan Kemenkes, 2017


Susu kambing memiliki karakteristik yang lebih ringan, mudah dicerna dan mudah diserap tubuh. Dibandingkan susu sapi, susu kambing mengandung kadar laktosa lebih rendah sehingga lebih nyaman bagi orang yang sensitif terhadap susu. Tidak seperti susu sapi yang menghambat penyerapan zat besi, susu kambing memiliki bioavailabilitas zat besi yang lebih baik sehingga tidak mengganggu penyerapan zat besi walaupun kadarnya sama dengan susu sapi (0,05 mg/100 gram). Tak hanya itu, susu kambing memiliki kemampuan yang baik dalam meningkatkan kekebalan tubuh untuk melawan bakteri. Oleh karena itu, susu kambing sangat potensial untuk menjadi alternatif makanan tambahan bagi pasien TB. 


Apakah pemberian susu kambing dengan ekstrak kurma sudah tepat diberikan pada kelompok ekonomi menengah ke bawah?

Terkait penggunaan susu kambing dengan tambahan ekstrak kurma, hingga saat ini belum terdapat dokumen atau publikasi yang menunjukkan hasil langsung intervensi tersebut pada pasien TB. Secara umum, susu kambing dalam bentuk bubuk memiliki rasa yang berbeda dari susu sapi dan tidak selalu dapat diterima oleh semua pasien. Penambahan ekstrak kurma kemungkinan ditujukan sebagai pemanis alami agar rasa susu lebih mudah diterima oleh pasien, serta tambahan serat karena susu kambing segar umumnya tidak mengandung serat.


Tujuan utama dari pemberian susu pendamping adalah mendukung percepatan penyembuhan pasien TB di daerah. Program ini tetap perlu dipantau dan dievaluasi secara berkala.


Menurut dr. Henry Diatmo, M.K.M., selaku Direktur Eksekutif Stop TB Partnership Indonesia (STPI) mengatakan, “Kami cukup mengapresiasi langkah Kementerian Kesehatan dalam menyalurkan susu pendamping bagi pasien TB di Banyuwangi. Dukungan nutrisi merupakan bagian penting dalam membantu proses pemulihan pasien selama menjalani pengobatan dan menunjang nutrisi.” ujarnya.


Sebagai catatan penting, susu memang dapat membantu melengkapi kebutuhan gizi pasien TB, namun susu bukanlah pengganti makanan utama. Susu kambing dikhususkan untuk pendamping atau suplemen tambahan. Pasien TB dari kelompok ekonomi menengah ke bawah sangat membutuhkan pemenuhan kebutuhan dasar yang seimbang berupa makanan pokok yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat. 


Dalam webinar TB perlindungan sosial tahun lalu, penyintas TB, Dewi, mengatakan “...ternyata makanan bergizi itu sangat penting untuk pasien TB supaya tidak ada efek samping berat setelah minum obatnya” pungkasnya.


Erin Penyintas TB juga menyampaikan dalam webinar yang sama bahwa “Kebutuhan nutrisi itu sangat dibutuhkan karena tidak semua pasien memiliki penghasilan yang bagus dan bagaimanapun itu (obat) pendamping utamanya adalah nutrisi. Kadang ada pasien yang memang tidak bisa makan, bahkan saya dulu seperti itu, pengobatannya sudah bagus tapi kalau uang tidak cukup maka tidak akan makan hari itu” terangnya.


Tuberkulosis bukan sekedar penyakit medis, tetapi sangat erat kaitannya dengan isu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Banyak pasien TB dari kelompok ekonomi menengah ke bawah mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makan harian, bahkan hanya mampu makan satu hingga dua kali sehari dengan kualitas gizi yang tidak seimbang. Selain itu, stigma sosial yang masih kuat kerap memperburuk kondisi psikososial pasien dan berdampak pada pengucilan di lingkungan sekitar.


“Ke depan, kami mendorong agar program ini disertai pemantauan dan evaluasi berkala, baik dari sisi distribusi maupun dampaknya terhadap keberhasilan pengobatan. Penguatan kolaborasi dengan fasilitas layanan kesehatan dan komunitas juga penting agar intervensi ini berjalan efektif dan berkelanjutan dalam mendukung upaya eliminasi TBC di Indonesia. Semoga program baik ini bisa terus berlanjut” Tambah dr. Henry. 


Inisiasi program pemberian susu pendamping ini patut diapresiasi. Namun, agar tujuan percepatan penyembuhan pasien TB dapat tercapai secara optimal, kebijakan yang diambil perlu benar-benar selaras dengan kebutuhan riil pasien di lapangan. 


Komentar


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

HUBUNGI KAMI

Klinik JRC-PPTI, Jl. Sultan Iskandar Muda No.66A Lt 3, Kby. Lama Utara, Kec. Kby. Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12240

Telp: +62 852-8229-8824

  • Instagram
  • twitter
  • facebook
  • Youtube
bottom of page