top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Rekrutmen Koordinator Lapangan Life-saving Facility and Community-based Service Delivery Support for Tuberculosis (FCSDS)


  1. Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat paling mendesak di Indonesia. Pada tahun 2024, diperkirakan terdapat 1.092.000 kasus TB di Indonesia, dengan 856.420 kasus yang telah dilaporkan, termasuk 12.128 orang dengan TB resisten obat (DR-TB). Meskipun terdapat kemajuan dalam pelaporan kasus, masih terdapat kesenjangan signifikan dalam cakupan dan keterlibatan pengobatan. Sebagai contoh, dari kasus DR-TB yang dilaporkan, hanya 9.573 pasien yang memulai pengobatan. Tingkat keberhasilan pengobatan juga menunjukkan ketimpangan, dengan beberapa wilayah mencatat keberhasilan 85% untuk TB sensitif obat (DS-TB), namun hanya 59% untuk DR-TB. Selain itu, cakupan terapi pencegahan TB (TPT) masih sangat rendah—hanya 19,4% pada tahun 2024.


Selama bertahun-tahun, Indonesia telah menerima dukungan substansial dari berbagai mitra, termasuk Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), untuk memperkuat penemuan kasus TB, meningkatkan layanan pengobatan, mendorong keterlibatan masyarakat, dan membangun kolaborasi lintas sektor. Namun, dengan berakhirnya pendanaan program TB dari USAID, sejumlah intervensi penyelamatan jiwa kini menghadapi kesenjangan dukungan yang kritis, yang mengancam keberlanjutan dan kualitas layanan TB di wilayah dengan beban tinggi.


Pemerintah Amerika kembali mendukung Indonesia upaya eliminasi TB melalui Proyek Life-saving Facility and Community-based Service Delivery Support for Tuberculosis (FCSDS) untuk periode Oktober 2025-Maret 2026 yang dirancang untuk mendorong peningkatan penemuan kasus TB secara dini dan membantu pasien dalam mengakses layanan TB yang berkualitas, termasuk diagnosis yang tepat waktu, pengobatan yang efektif, dan pemberian TPT, dengan fokus khusus pada provinsi dan kabupaten yang saat ini menghadapi tantangan terbesar dalam menjaga keberlanjutan layanan TBC.


STPI akan memimpin pelaksanaan proyek ini. Melalui kolaborasi erat dengan layanan kesehatan pemerintah, masyarakat sipil, dan aktor komunitas, proyek ini akan memperkuat layanan TB baik di fasilitas kesehatan maupun berbasis komunitas. Kegiatan akan mencakup peningkatan deteksi dini kasus, peningkatan inisiasi dan kepatuhan pengobatan, perluasan cakupan TPT, serta memastikan dukungan pasien sepanjang perjalanan pengobatan. Dengan menjembatani kesenjangan layanan dan menjaga intervensi penting, Proyek FCSDS bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, mengurangi penularan TB, dan melindungi komunitas rentan dari epidemi TB yang masih berlangsung di Indonesia.


Pelaksanaan proyek kan berfokus di Puskesmas, terutama upaya skrining TB sistematis dan pendampingan orang dengan TB di masyarakat dibutuhkan peran aktif dari kader kesehatan yang berada di Desa dan Kelurahan. Proyek ini melibatkan banyak kader-kader tersebut, oleh karena itu dibutuhkan koordinator kader yang menjadi penghubung dan memfasilitasi kebutuhan kader untuk pendataan, pemberian insentif, dan pelaporan. 


Wilayah kerja Koordinator Lapangan dapat meliputi satu atau lebih Puskesmas dan akan bertanggung jawab kepada Koordinator Distrik, selain itu koordinasi dengan Wasor TB di Dinas Kesehatan Kabupaten, dan Penanggung Jawab TB di Puskesmas harus terus dilakukan.


  1. Tujuan

Rekrutmen ini bertujuan untuk:

  1. Memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia dalam hal ini Koordinator Lapangan untuk Project FCSDS. 

  2. Bekerja sama dengan Penanggung Jawab TB Puskesmas dalam memastikan kegiatan dengan fokus pada Skrining TB Sistematis, investigasi kontak, TPT, dukungan pendampingan pengobatan, advokasi pemangku kepentingan Desa/Kelurahan dapat berjalan secara efektif dan mencapai target

  3. Memastikan aktivitas proyek yang dijalankan oleh Kader dapat dipantau dan dikelola dengan baik melalui Koordinator Lapangan

  4. Memastikan proses laporan kinerja Kader di lapangan berjalan dengan baik.


  1. Keluaran

Tersedianya Koordinator Lapangan di empat wilayah kabupaten dengan jumlah sebagai berikut:

  1. Tasikmalaya 2 Koordinator Lapangan

  2. Sukabumi 4 Koordinator Lapangan

  3. Bogor 7 Koordinator Lapangan

  4. Bandung 5 Koordinator Lapangan


  1. Pelaksana

Stop TB Partnership Indonesia, melalui proyek Life-Saving FCSDS.



Lampiran-1

Scope of Work


Koordinator LapanganLife-saving Facility and Community-based Service Delivery Support for Tuberculosis (FCSDS) 


Tentang STPI

Stop TB Partnership Indonesia (STPI), yang secara resmi dikenal sebagai Yayasan Kemitraan Tuberkulosis Indonesia, telah berada di garis depan upaya masyarakat sipil untuk mempercepat eliminasi TB di Indonesia sejak tahun 2018. Selama bertahun-tahun, STPI telah memantapkan dirinya sebagai mitra utama Pemerintah Indonesia, dengan menghimpun komunitas, masyarakat sipil, dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat respons nasional terhadap TB. Dengan pengalaman luas, jangkauan yang kuat, dan keahlian teknis yang mendalam, STPI telah mendapatkan kepercayaan dari para mitra sebagai kekuatan penggerak dalam penanggulangan TB di Indonesia.


Informasi Posisi

Posisi : Koordinator Lapangan

Laporan Langsung : District Technical Officer 

Status : Konsultan

Durasi : 7 bulan, dengan kemungkinan perpanjangan

Lokasi : Jawa Barat

Jam Kerja : 40 jam/minggu


Kualifikasi

  1. Latar belakang pendidikan minimal lulusan SMA atau sederajat.

  2. Berpengalaman dalam mobilisasi masyarakat dan mengkoordinir pelaksanaan kegiatan

  3. Pengalaman relevan dalam program TB atau kesehatan masyarakat dapat menggantikan gelar akademik lanjutan.

  4. Berpengalaman dalam melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan (pemerintah desa, puskesmas dan dinkes) di wilayah kerjanya

  5. Berpengalaman sebagai kader kesehatan, khususnya program TB, lebih diutamakan. 


Pengalaman Kerja

  1. Implementasi program kesehatan atau TB di tingkat kabupaten, 

  2. Terlibat aktif dalam kegiatan di masyarakat

  3. Memimpin intervensi berbasis komunitas dengan fokus pada pemberdayaan dan mobilisasi masyarakat.

  4. Supervisi tim lapangan dan koordinasi dengan otoritas kabupaten serta kecamatan.

  5. Familiar dengan program TB, khususnya dalam pengaturan Skrining TB Sistematis.


Kompetensi Teknis

  1. Pemahaman kuat tentang intervensi TB: khususnya dalam Skrining TB Sistematis, Investigasi Kontak, Terapi Pencegahan TB (TPT), advokasi komunitas, dukungan pengobatan, dan tindak lanjut untuk pendampingan diagnostik untuk TB resistan obat (TBC RO).

  2. Kemampuan mengkoordinasi kader di beberapa lokasi intervensi dan memastikan keselarasan dengan tugas dan fungsi kader dalam penanganan tuberkulosis di masyarakat.

  3. Pengalaman koordinasi dengan puskesmas dan Wasor Dinkes Kabupaten dan pemangku kepentingan komunitas.

  4. Pemahaman tentang logistik program TB di puskesmas.

  5. Kemampuan menerjemahkan petunjuk teknis program Tuberkulosis dan arahan Koordinator Distrik dan koordinasi dengan District Technical Officer di lapangan. 

  6. Mempunyai kemampuan untuk bisa membagi tugas melakukan IK pada Indeks Kasus kepada para kader.


Kompetensi Umum

  1. Keterampilan komunikasi, interpersonal, dan pemecahan masalah yang sangat baik.

  2. Kemampuan bekerja kolaboratif dengan tim teknis, pemerintah lokal, komunitas, dan manajemen proyek.

  3. Fasih berbahasa lokal.

  4. Bersedia melakukan perjalanan intensif ke lokasi intervensi di wilayah kabupaten Jawa Barat.

  5. Keterampilan organisasi yang kuat dan kemampuan supervisi kegiatan serta tim secara efektif.


Nilai-Nilai

  1. Menjunjung tinggi integritas serta menghormati keberagaman dan kesetaraan.

  2. Berorientasi pada hasil dan dampak optimal.

  3. Kolaborasi bermakna dengan mitra dan pemangku kepentingan.

  4. Mendorong inovasi yang memperkuat pencapaian.

  5. Bertanggung jawab dalam pelaporan kemajuan dan hasil.


Peran dan Tanggung Jawab

Dukungan Teknis

  1. Melaksanakan program dengan fokus pada Skrining TB Sistematis, investigasi kontak, TPT, dukungan pendampingan pengobatan, advokasi pemangku kepentingan Desa/Kelurahan. 

  2. Memastikan semua arahan terkait pelaksanaan skrining TB bisa diterapkan dengan baik dan dikomunikasikan kepada kader.

  3. Mengidentifikasi hambatan dan isu serta merespons untuk meningkatkan efektivitas intervensi.

Supervisi Lapangan

  1. Melaksanakan langsung investigasi kontak dan penjangkauan komunitas bersama kader sesuai penugasan.

  2. Mewakili proyek FCSDS dalam pelaksanaan Skrining TB Sistematis, dan bekerja sama dengan Penanggung Jawab TB Puskesmas dalam mempersiapkan, melaksanakan, monitoring, dan evaluasi kegiatan.

  3. Melaporkan kemajuan Skrining TB Sistematis, investigasi kontak, kepatuhan pengobatan kepada District Technical Officer. 

Keterlibatan Pemangku Kepentingan di Kabupaten

  1. Menjalin hubungan dengan rumah sakit, Puskesmas, Wasor Dinas Kesehatan Kabupaten dan tokoh masyarakat.

  2. Memfasilitasi koordinasi antara tim lapangan, otoritas lokal, dan manajemen proyek.

  3. Melaporkan pembaruan penting, tantangan operasional, dan keberhasilan kepada Koordinator Distrik untuk pengambilan keputusan.

Logistik dan Pemantauan Sumber Daya

  1. Mendukung District Technical Officer dalam persiapan dan pemantauan logistik dan sumber daya manusia untuk kegiatan investigasi kontak, penjangkauan komunitas dan Skrining TB Sistematis.

  2. Bersama Penanggung Jawab TB Puskesmas memastikan dipenuhinya kebutuhan logistik di lokasi intervensi secara tepat waktu.

Pemanfaatan Data dan Pelaporan

Bersama Data Inputer, mengumpulkan, meninjau, dan menyediakan data Investigasi Kontak, Community Outreach dari kader, dan hasil SSTB dan pendampingan untuk pelaporan.


Proses Rekrutmen

Kirim Surat lamaran dan CV melalui link google drive berikut : Link Job Application


Kandidat terpilih akan melalui proses rekrutmen yang terdiri dari tahapan; seleksi administrasi dan penilaian CV, Interview dan tes tertulis (opsional), pengecekan referensi dan pengiriman surat penawaran.


Stop TB Partnership Indonesia merupakan lembaga yang membuka kesempatan yang setara bagi siapapun. Pelamar tidak boleh didiskriminasi karena ras, agama, jenis kelamin, asal negara, etnis, usia, disabilitas, afiliasi politik, orientasi seksual, identitas gender, warna kulit dan/atau status perkawinan.

Stop TB Partner mengakomodasi pelamar dengan disabilitas, dimana pelamar dengan disabilitas yang memenuhi syarat dapat berpartisipasi dalam proses aplikasi. Harap beri tahu kami secara tertulis tentang kebutuhan khusus pada saat melamar.



Komentar


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

HUBUNGI KAMI

Klinik JRC-PPTI, Jl. Sultan Iskandar Muda No.66A Lt 3, Kby. Lama Utara, Kec. Kby. Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12240

Telp: +62 852-8229-8824

  • Instagram
  • twitter
  • facebook
  • Youtube
bottom of page