STPI Perkuat Langkah Anti Stigma Terhadap Orang Dengan Tuberkulosis Melalui Proyek Psikososial




Jawa Timur - Kabupaten Sumenep masih menjadi salah satu daerah dengan angka TBC yang tinggi, di tahun 2020 diperkirakan terdapat 2.202 kasus namun baru 1.677 kasus yang ditemukan. Banyaknya orang dengan TBC di daerah tersebut ternyata masih tak terlepas dari stigma yang melekat. Pasien TBC diperkirakan memiliki risiko empat kali lipat mengalami depresi, yang dapat meningkatkan risiko ketidakpatuhan pada pasien hingga menurunkan sistem kekebalan mereka yang dapat mempengaruhi konversi budaya atau kematian di antara pasien (Theron et al., 2015), bahkan hal ini juga memengaruhi tingkat kenaikan angka depresi di Indonesia hingga 7% (Rahvy & Ridlo, 2020).


Melihat permasalahan ini Stop TB Partnership Indonesia (STPI) berinisiatif untuk melakukan aksi nyata dalam mendukung kesehatan mental bagi orang dengan TBC melalui program psikososial. Program ini nantinya akan menciptakan layanan jiwa yang terintegrasi dengan layanan TBC di puskesmas sehingga petugas mampu memberikan dukungan psikososial untuk pasien TBC, sementara program di Desa akan berfokus pada psikoedukasi bagi masyarakat lokal dalam membangun solidaritas dan dukungan sosial untuk mengatasi stigma. Awal kegiatan dimulai dengan pelaksanaan kick off meeting antara STPI bersama pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, perwakilan dari pihak puskesmas, pemerintah desa serta kader daerah Gapura dan Lenteng yang sudah terlaksana pada 16 November 2021 lalu di Aula Dinas kesehatan Kab. Sumenep.


Agus Mulyono selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep berharap agar daerah Gapura, Lenteng dan Arjasa di Kabupaten Sumenep dapat menjadi contoh baik bagi daerah lain dalam membentuk dukungan anti stigma bagi orang dengan TBC di Indonesia.