Stigma TB di Kabupaten Bandung, Lebih Baik Mengaku Sakit Jantung daripada Dikucilkan Tetangga
- Stop TB Partnership ID

- 2 hari yang lalu
- 2 menit membaca

Terik siang itu tak mampu menembus tebalnya gorden yang menutup rapat jendela rumah terduga TB di Kabupaten Bandung. Fitri yang sudah dua tahun menjadi kader TB, menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu kayu yang terasa panas karena tersengat matahari. Dia tahu, di dalam ruang gelap yang sengaja diciptakan itu, ada seseorang yang berusaha menyembunyikan penyakitnya dari telinga dunia. Tugas Fitri kali ini tak hanya memastikannya bersedia memulai pengobatan, tapi juga menjaga statusnya agar tak jadi konsumsi tetangga yang sedang berkumpul di teras sebelah.
Begitu pintu terbuka, penghuni rumah menyambut Fitri dan kader desa yang mendampinginya, dengan senyum yang dibungkus kewaspadaan tinggi. Percakapan mengalir pelan, nyaris berbisik, demi memastikan tak satupun kalimat memantul keluar tembok rumah. Di tengah pembicaraan, napasnya memburu, berulang-ulang menahan batuk kecil. Kader desa yang duduk tenang, sesekali mengangguk simpatik. Dalam benaknya, dia sedang mengunjungi warga yang berjuang melawan penyakit jantung. Setidaknya, itulah narasi yang dia percaya selama ini.
Waktu berpamitan tiba, Fitri dan kader desa kembali menyusuri gang sempit menuju jalan utama. Rasa penasaran sang kader desa pecah.
"Naha rada lami nembé mah bu? Jantungna tos parah? Katingalna asa sesek (Kenapa tadi agak lama bu? Penyakit jantungnya makin parah)," tanya sang kader.
Langkah kaki terhenti sejenak. "Sanes jantung bu, anjeunna TB saur Puskesmas (Bukan jantung bu, dia sakit TB kata Puskesmas)," jawab Fitri pelan.
Seketika, kader desa mematung, mencerna ucapan Fitri. Matanya melongo tak percaya menatap rekan di sampingnya.
"Ah maenya TB? Piraku (Masa sih bu? Gak mungkin)," tanyanya gagap. Selama ini, dia percaya begitu saja pada pengakuan penghuni rumah dan tetangga sekitar tanpa curiga.
Bagi Fitri, keterkejutan sang kader adalah cerminan betapa rapatnya gorden yang dipasang di rumah tadi.
Fitri menepis keheningan itu dengan pergi melapor ke Puskesmas.
Beberapa hari setelahnya, sesak napas yang sempat dianggap lemah jantung menunjukkan wajah aslinya sebagai infeksi paru yang serius. Hasil pemeriksaan tak bisa bohong, dia harus menjalani pengobatan.
Tugas Fitri yang sebenarnya dimulai, dia melakukan Investigasi Kontak (IK) saat gorden di rumah itu perlahan dibuka. Satu per satu anggota keluarga yang tinggal dalam satu atap diperiksa.
Dalam dunia TB, satu orang yang terkonfirmasi adalah pengingat bahwa orang-orang terdekatnya punya risiko yang sama. Menemukan satu kasus bukan berarti selesai, melainkan awal dari upaya memutus rantai penularan agar tidak ada lagi yang mendekam karena takut akan penghakiman dunia luar.
Stigma Terasa Lebih Menyakitkan
Kisah di balik rapatnya gorden itu hanyalah satu dari sekian banyak potret perlawanan terhadap stigma yang mengakar kuat di masyarakat. Di banyak sudut pemukiman, TB adalah vonis sosial yang terasa lebih menyakitkan daripada penyakit itu sendiri.
Bagi sebagian orang, pilihan untuk melabeli dirinya sakit jantung, terasa lebih terhormat dibanding ketakutan akan bisik-bisik tetangga. Padahal, jelas-jelas stigma bisa menghambat proses pengobatan. Rasa malu itu memperbesar risiko penularan. Itulah mengapa menjaga para kader TB harus bergerak bak agen intelijen yang datang tanpa atribut mencolok demi melindungi martabat orang yang mereka dampingi.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi alasan bagi seseorang untuk berbohong tentang penyakitnya. Kita harus membantu mereka memutus rantai penularan yang paling berbahaya, yaitu rasa malu.













Komentar