Jalur “Horor” Perjalanan Penemuan Kasus TB: Di Antara Jurang dan Kuburan, X-Ray TB tetap Berjalan Meski Ada yang “Tak Terlihat”
- Stop TB Partnership ID

- 13 menit yang lalu
- 3 menit membaca

Percaya tidak percaya, ini benar-benar terjadi saat saya bertugas.
Sebut saja saya Asep (bukan nama asli). Sehari-hari saya menjadi driver untuk tim program skrining TB di Sukabumi. Kami bagian dari upaya “penyelamatan nyawa” lewat skrining Tuberkulosis (TB) di desa-desa membawa edukasi, pemeriksaan dahak, dan tes X-Ray untuk mereka yang bergejala. Biasanya rutinitas ini penuh tantangan medan, tapi hari itu rasanya berbeda.
Hari itu kami menuju sebuah posyandu di daerah perbukitan. Target kami menemukan kasus sedini mungkin, agar warga yang batuk lama ataupun keluarganya tidak terlambat ditangani. Tim Puskesmas berangkat lebih dulu karena khawatir terlambat. Saya dan tim menyusul, hanya berbekal Google Maps.
Awalnya perjalanan biasa saja. Aspal masih lebar. Sinyal masih ada.
Lalu pelan-pelan jalan berubah.
Google Maps mengarahkan kami masuk ke area kebun sawit. Kanan kiri hanya batang-batang tinggi menjulang, rapat seperti pagar hidup. Jalan menyempit. Tidak ada rumah. Tidak ada warung. Bahkan tidak ada satu pun orang yang bisa ditanya.
Cuaca mendung. Gelap turun lebih cepat dari biasanya.
Firasat saya mulai tidak enak.
Tapi tim tetap berpikir positif. “Mungkin sebentar lagi tembus jalan utama,” kata salah satu dari mereka.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Jalan semakin kecil. Aspal retak. Kanan kiri berubah jadi jurang. Mobil hanya cukup untuk satu lajur. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan, entah bagaimana kami harus menghindar.
Sampai akhirnya kami berhenti di depan jembatan kecil yang tak mungkin dilewati mobil. Terlihat tua. Di bawahnya sungai kecil mengalir deras. Padahal menurut peta, jarak kami ke posyandu sudah sangat dekat.
Kami terdiam.
Saya mematikan mesin.
Kami menghubungi tim Puskesmas. Sinyal putus nyambung. Penjelasan mereka setengah terdengar, setengah hilang. Dengan sedikit intuisi dan sisa arah yang saya pahami, kami memutar balik.
Rute berikutnya tak kalah sunyi.
Kami melewati pepohonan tinggi, lalu area pemakaman tua. Batu nisan miring. Rumput liar lebat. Tidak ada satu pun manusia. Jalan menanjak, aspal kecil, hanya cukup satu mobil.
Saya fokus menyetir.
Lalu saya melihatnya.
Seorang nenek berjalan perlahan di pinggir jalan. Membungkuk. Bertongkat. Sendirian.
“Mang Asep, sekedap. Urang taros si Mak bade ka mana?”
(Mang Asep, sebentar. Kita tanya nenek itu mau ke mana.)
Saya menepi.
Jendela dibuka.
“Bade kamana, Mak?”
(Mau ke mana, Nek?)
“Bade ka Posyandu, di payun.”
(Mau ke posyandu, di atas.)
Kami saling pandang.
Kebetulan sekali.
“Hayuk sareng Mak, abdi oge bade ka Posyandu.”
(Ayo sama kami, Nek. Kami juga mau ke posyandu.)
Tanpa banyak kata, nenek itu naik ke mobil.
Tapi ada satu hal yang membuat saya heran.
Tongkatnya ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Padahal tongkatnya terlihat bagus dan mahal.
Saya refleks bertanya,“Tongkatna naha ditinggalkeun, Mak?”
(Kenapa tongkatnya ditinggal, Nek?)
Ia menjawab pelan, tanpa menoleh,
“Keun wios… masih aya nu sanes.”
(Biarkan saja… masih ada yang lain.)
Saya tidak paham maksudnya.
Saya kembali menyetir.
Sepanjang jalan menuju puncak bukit, suasana di dalam mobil berubah. Biasanya tim ramai bercanda, membahas target skrining, membicarakan warga yang perlu di X-Ray. Tapi kali itu… sunyi.
Tidak ada yang berbicara.
Termasuk nenek itu.
Saya bahkan lupa menanyakan namanya. Dari desa mana. Apakah batuk lama. Apakah ingin skrining atau gimana.
Hanya sunyi.
Sesampainya di posyandu, nenek itu turun perlahan. Tim langsung sibuk menurunkan alat skrining, formulir, dan daftar warga. Hari itu kami memang menargetkan warga yang sudah kader sebar undangan untuk skrining TB dengan X-Ray.
Kami kira nenek itu akan ikutan juga.
Tapi tanpa sepatah kata, ia pergi begitu saja.
Dan… hilang dari pandangan.
Awalnya kami berpikir ia mungkin pulang sebentar ke rumahnya yang dekat dengan posyandu.
Namun saat kegiatan berjalan, kami bertanya ke tim Puskesmas dan kader.
Apakah ada warga lansia dengan ciri-cirinya membungkuk dan memakai tongkat kalau berjalan.
Tak satu pun mengenali.
Warga sekitar yang ikut skrining pun menggeleng. Padahal desa itu kecil. Hampir semua orang saling kenal.
Tidak ada nenek seperti itu.
Sore hari, saat kegiatan selesai dan kami merapikan alat, cerita tentang nenek tadi kembali dibahas. Salah satu kader berbisik bahwa di sekitar posyandu memang ada kuburan lama. Dan warga sering merasakan “sesuatu” lewat tanpa mengganggu, tapi terasa hadir.
Kami terdiam.
Apalagi satu hal yang baru saya sadari saat hendak pulang.
Tongkatnya.
Kami tidak pernah melihatnya lagi di jalan saat turun.
Seolah tidak pernah ada.
Sampai hari ini saya tidak tahu siapa nenek itu. Apakah ia benar-benar hendak skrining? Apakah ia ingin X-Ray seperti warga lain yang kami bantu hari itu?
Yang saya tahu, di perbukitan sunyi itu, di antara jurang dan pemakaman, kami tetap menjalankan tugas mencari yang kontak serumah dengan pasien TB, menemukan yang tersembunyi, dan memastikan tak ada yang terlambat diobati.
Termasuk… mungkin… yang tak lagi terlihat.













Komentar