top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Saat Skrining TB Harus Melawan Bukit, Hujan, dan Jarak di Bumi Ratu Kidul Sukabumi Selatan

Catatan Kemanusiaan dari Wilayah Intervensi Sukabumi

Pagi itu, mobil tim FCSDS Sukabumi berhenti di tanjakan terjal Kecamatan Bantargadung. Hujan turun deras. Mesin meraung, roda berputar, tapi mobil tak juga naik. Dua jam mereka tertahan di jalan. Akhirnya, warga setempat turun tangan. Mobil didorong bersama-sama, perlahan, melewati jalan yang lebih mirip tanah bergerak daripada akses layanan kesehatan.


Di wilayah seperti inilah upaya skrining tuberkulosis (TB) dilakukan.


Bagi masyarakat di Desa Bojonggaling, Mangunjaya, atau Buanajaya, layanan kesehatan bukan perkara lima belas menit perjalanan. Tidak ada angkot. Yang ada “dogong” semacam mobil bak terbuka yang membawa warga ke jalan utama dengan biaya 30–50 ribu sekali jalan. 


Medan terjal, listrik tak selalu stabil, sinyal telepon sering hilang. Namun ketika layanan skrining mendekat, masyarakat tetap datang dan antusias.


Antusiasme yang Melampaui Undangan

Di Kelurahan Cicurug, hanya 66 orang yang diundang berdasarkan hasil Investigasi Kontak (IK) dan Community Outreach (CO). Namun yang hadir lebih dari 100 orang.


Sebagian datang tanpa undangan. Ada balita, dewasa, hingga lansia. Ada yang rela menunggu dari sore hingga malam di Desa Boyongsari. Bahkan ketika tuberkulin (tes mantoux) habis dan sebagian harus diminta pulang, mereka tetap berharap bisa diperiksa. Namun, tentu tim akan tetap mengusahakan yang terbaik bagi warga yang sukarela datang.


Awalnya tim mengira antusiasme ini berakar dari adanya PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang biasanya diberikan di posyandu, seperti bubur kacang ijo. Tapi ternyata bukan. Bahkan tidak sama sekali. 


Banyak yang tetap datang meski tidak mendapatkan PMT. Mereka datang karena pemeriksaan ini gratis, ada dokter untuk konsultasi, ada X-ray, dan yang terpenting layanan itu hadir lebih dekat dari biasanya dengan rumah mereka.


Lansia yang Memaksa Datang

Di tengah skrining, seorang lansia datang dengan tubuh bungkuk. Jarak rumahnya sekitar 20 kilometer. Tidak ada ambulans yang menjemput. Secara umum masyarakat di sana memiliki kendaraan, tapi kondisi ekonominya berbeda. Ia memaksa datang sendiri.


Yang paling mengejutkan, Ia meminta ongkos pulang ke tim.


Tidak ada pos anggaran khusus untuk kebutuhan mendadak seperti itu. Semua harus ada nota. Namun di lapangan, kemanusiaan sering lebih menonjol daripada prosedur.


“Ongkosnya saya saja yang tanggung,” Jawab Kang Iman selaku District Technical Officer (DTO).

“Kenapa harus Kang Iman? Kenapa bukan yang lain aja?” saat tim lain bertanya.

“Manusiawi aja, berbuat baik karena gk ada kebaikan yang gk berbalas” ujarnya.


Hal serupa dialami para kader. Ada yang harus mengeluarkan hingga Rp300 ribu untuk ongkos pulang-pergi. Bahkan ada yang berutang demi memastikan warga menerima undangan skrining. Mereka tetap bekerja, meski tahu biaya transportasi sering lebih besar daripada insentif yang diterima. Karena bagi mereka, ini bukan sekadar pekerjaan.


Medan Berat, Data Tak Boleh Bolong

Di sisi lain meja, Agus, data entry, menghadapi tantangan berbeda. Dalam satu hari bisa menginput 200 hingga 300 data peserta. Tanpa dukungan laptop tambahan dan internet yang kerap tidak stabil.


Satu desa sempat bermasalah karena pengukuran ada yang tidak lengkap, sehingga tim harus mengira-ngira angka pastinya. Tapi setelah briefing, semua berkomitmen tidak boleh ada data yang bolong. Karena satu angka kosong bisa berarti satu orang terlewat.


Tim yang Tidak Sekadar Datang dan Pergi

Kesolidan tim menjadi kunci. Bahkan driver ikut membantu menghitung formulir hingga malam.


Mas Atmam, 25 tahun, bukan hanya mengantar mobil lalu menunggu. Ia membantu dari pagi sampai skrining selesai.


“Dari hati saja,” katanya. “Kasihan teman-teman kalau pulang terlalu malam.”


Ia berharap proyek ini panjang. Lebih solid lagi. Lebih banyak masyarakat yang terjangkau.


Di beberapa lokasi, Babinsa, kader, dan perangkat desa turut dilibatkan. Posyandu dipilih karena dekat dengan balai desa. Komunikasi dengan perangkat daerah berjalan baik. Bahkan ada media yang tiba-tiba datang dan meliput, menyatukan persepsi antara pemerintah, puskesmas, dan tim lapangan. Kolaborasi terbangun bukan dalam rapat besar, tetapi di medan berlumpur dan ruang skrining sederhana.


Lansia yang Menghilang dan Jalan yang Salah

Di Desa Bumi Sari, sasaran banyak lansia, termasuk yang pernah stroke dan tidak mampu berdiri lama. Mereka digendong untuk diperiksa. Cuaca tidak bersahabat. Jalanan sempit dan rawan.


Suatu hari, tim sempat tersesat. Mengandalkan peta digital, mobil masuk ke kebun sawit, jalan makin menyempit, jurang di kiri kanan. Hingga akhirnya mentok di jembatan kecil yang tak bisa dilalui mobil.


Mereka putar balik. Dalam perjalanan, bertemu seorang nenek berjalan sendiri menuju posyandu tempat tim melaksanakan Skrining TB. Karena satu tujuan, mereka menawari tumpangan. Nenek itu naik mobil, diam sepanjang perjalanan. Sesampainya di lokasi, ia turun… dan tak lama kemudian tak terlihat lagi.


Kemana Ia pergi? 


Wilayah itu memang banyak pemakaman tua. Cerita itu jadi obrolan ringan di akhir hari yang panjang. Mungkin kebetulan. Mungkin hanya cerita lapangan yang akan terus diingat.

Namun satu hal pasti lansia di sana tetap datang berbondong-bondong ketika layanan hadir.


Di Balik Angka, Ada Perjalanan

Memang tiap wilayah punya cerita masing-masing. 


Yang hadir skrining TB ada 174 dari 200 sasaran.Ada yang hanya 78 dari 200.Tapi ada juga 132 yang datang di tengah hujan.Bahkan ada yang lebih dari 100 yang hadir dari target 66.


Itu bukan sekadar capaian. Itu adalah perjalanan melalui jalan terjal, listrik padam, data yang harus lengkap, kader yang berhutang ongkos, driver yang bekerja dari hati, dan lansia yang memaksa datang meski tak punya biaya.


Di wilayah-wilayah seperti Caringin, Bantargadung, Cicurug, dan Bumi Sari, skrining TB bukan hanya kegiatan program. Ia menjadi pertemuan antara sistem kesehatan dan kemanusiaan.


Dan sering kali, yang membuatnya berhasil bukan hanya alat X-ray atau formulir skrining. Tetapi orang-orang yang memilih untuk tetap datang, tetap membantu, dan tetap peduli meski jalannya kacau.


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

HUBUNGI KAMI

Klinik JRC-PPTI, Jl. Sultan Iskandar Muda No.66A Lt 3, Kby. Lama Utara, Kec. Kby. Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12240

Telp: +62 852-8229-8824

  • Instagram
  • twitter
  • facebook
  • Youtube
bottom of page