Our Recent Posts

Tags

Peran Penting Kader dan Kerjasama Masyarakat Sebagai Tonggak Penemuan Kasus TBC di Lombok Barat



LOMBOK BARAT – Pada Rabu (16/6), Pemerintah Desa Sandik dan Desa Sesela bekerjasama dengan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) menyelenggarakan pelatihan Kader Tuberkulosis (TBC) Desa untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sebagai upaya memperkuat pencegahan dan penanggulangan TBC di Desa Sandik dan Desa Sesela. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat, Kepala Desa Sandik dan Sesela, Kepala Puskesmas Meninting, Kepala Puskesmas Sesela, serta Ketua Ikatan Dokter Indonesia cabang Lombok Barat.


Dalam paparannya, Kepala Dinas Kesehatan Made Ambaryati menjelaskan bahwa jumlah kasus TBC di Kecamatan Gunungsari dan Batu Layar termasuk yang tertinggi di Lombok Barat. Berdasarkan data dari Kepala Puskesmas Meninting, diperkirakan pada tahun 2020 hanya ditemukan 25 kasus TBC atau sekitar 12,9% saja dari 193 target capaian. Sedangkan di Kecamatan Batu Layar pada tahun 2020 hanya ditemukan 4 kasus atau 3,67% dari target 109 kasus TBC menurut data dari Kepala Puskesmas Sesela.


Desa Sandik dan Desa Sesela yang merupakan bagian dari dua kecamatan tersebut merupakan desa dengan kasus TBC yang cukup banyak. Dari data Puskesmas didapatkan bahwa Desa Sandik menjadi peringkat pertama kasus TBC terbanyak dengan jumlah 11 kasus dibandingkan 8 desa lainnya di wilayah kerja Puskesmas Meninting. Sedangkan Desa Sesela menjadi posisi tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Gunungsari dengan jumlah 9 kasus. Namun begitu, diperkirakan masih banyak kasus yang belum ditemukan di dua desa tersebut.


Nuriyani, Senior Program Officer STPI menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menjadikan rendahnya temuan kasus TBC di Lombok Barat sehingga perlu sistem pendekatan yang dapat menemukan orang dengan TBC di masyarakat, memastikan pengobatan hingga tuntas, pengawasan efek samping obat dengan cara melibatkan masyarakat desa secara langsung.


“Banyaknya kasus yang tidak terlaporkan menjadi salah satu faktor rendahnya temuan kasus TBC. Selain itu pengetahuan masyarakat tentang TBC yang rendah, banyak pasien TBC yang tidak mau menjalani pengobatan, adapula pasien yang berobat namun putus di tengah jalan, tenaga kesehatan terbatas dan penggunaan alat TCM untuk pemeriksaan TBC belum maksimal.”


Sebelumnya, Desa Sandik dan Desa Sesela telah diresmikan sebagai Desa Siaga TBC di Kabupaten Lombok Barat. Harapannya, Desa Siaga TBC ini akan menjadi wadah pelibatan masyarakat dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian TBC di desa. Salah satu bentuk pelibatan dan pengembangan kapasitas masyarakat adalah pembentukan kader TBC Desa. Lebih lanjut, dengan adanya Kader TBC di tingkat desa diharapkan dapat meningkatkan angka temuan di lapangan.


“Kader TBC Desa harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan penemuan kasus dan pendampingan pasien TBC. Sebagaimana peran penting Kader TBC adalah meningkatkan angka temuan kasus TBC di desa, melakukan pendampingan pengobatan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penanggulangan TBC.” pungkas Nuriyani.