Our Recent Posts

Tags

Peran Aktif Kader dan Posyandu Kelurahan Warakas dalam Mengakhiri Tuberkulosis (TBC)

Pada tanggal 29 April diperingati sebagai Hari Posyandu Nasional. Posyandu atau pos pelayanan terpadu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Posyandu memiliki peran sangat penting karena selain mampu membantu mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Posyandu juga memberdayakan para ibu untuk memperhatikan kesehatan anak dan pola konsumsi keluarga (Kemenkes RI, 2018).


Salah satu Posyandu yang aktif adalah Posyandu RW 013 Kelurahan Warakas, Jakarta Utara (Jakut). Meskipun dalam keadaan pandemi COVID-19 dan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kader Posyandu masih tetap aktif dalam melaksanakan kegiatan mereka seperti biasa. Namun yang membuatnya berbeda adalah segalanya dilakukan secara daring (online). Ibu Ike Nimah Tatimu, salah satu dari kader di Posyandu Warakas berbagi kisah kegiatannya kepada tim STPI selama pandemi COVID-19.

Tetap Aktif Meskipun Saat Pandemi

Selain menjadi kader Posyandu, Ibu Ike juga berperan sebagai petugas Jumantik, pengurus RW, Satgas COVID-19 di tingkat RW dan Koordinator Tuberkulosis (TBC) di Kecamatan Tanjung Priok di bawah Sudinkes Jakut dan LKNU. Ibu Ike mengatakan bahwa selama pandemi ini, segala kegiatan tidak dilakukan secara langsung melainkan melalui online. Apabila ada anak balita yang sedang berobat di Puskesmas memiliki berat badan kurang, kader diminta untuk memantau pasien melalui aplikasi WhatsApp (WA). Segala pertemuan yang biasanya di Puskesmas, kini melalui aplikasi meeting Zoom. Kegiatan Jumantik juga dilakukan melalui video call dengan pemilik rumah, di foto dan dikirimkan ke kelurahan. Kegiatan TBC juga sosialisasi di laman Facebook atau WA kemudian diberikan formulir pengisian dari LKNU yang harus diisi oleh warga kemudian dikirimkan kembali ke Sudinkes.


Kegiatan Ibu Ike lebih banyak lagi selama tidak ada pandemi, contohnya untuk upaya penanggulangan TBC dilakukan Investigasi Kontak ke rumah pasien, mencari siapa yang batuk atau sakit selain batuk untuk diperiksakan dahak ke Puskesmas. Hal ini dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit. Ia lebih memilih untuk “jemput bola” dibandingkan meninggalkan pot dahak atau menunggu pasien datang ke Puskesmas saat sudah kondisi parah karena sebagian masyarakat kurang peduli dengan kesehatan diri sendiri. Ia juga mengantarkan obat untuk pasien TBC yang jarang mengambil obat. Jumlah pasien yang ia dukung dapat mencapai 5 atau 10 pasien yang diobati di Puskesmas ditambah dengan pasien yang ia bantu sejak sebelum pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.


"Jemput Bola" Pasien TBC dan Memantau Pasien TBC RO Menelan Obat


Selama pandemi ini, kegiatan kader TBC tidak berhenti dalam investigasi kontak tetapi sebagai contact center. Apabila ada orang dengan gejala TBC di wilayah mereka, orang dengan gejala TBC tetap dapat menghubungi kader. Ibu Ike menerangkan, “Sebelumnya kader harus turun langsung untuk mengantarkan orang dengan gejala ke Puskesmas, tetapi, setelah ada pandemi, kader melaporkan terlebih dahulu ke Puskesmas dan mengikuti arahan tenaga kesehatan”. Selain menjadi contact center, kader juga seminggu sekali datang ke Puskesmas untuk membantu mengambilkan obat pasien TBC yang tidak disarankan mengambil obat sendiri seperti tertulis dalam Protokol Pelayanan TBC Selama Pandemi COVID19.


Untuk memitigasi dampak COVID-19, saat ini pasien TBC Resistan Obat yang tadinya berobat di RSPI Sulianti Saroso dipindahkan ke Puskesmas. Hal ini dilakukan karena dalam daya tahan tubuh yang belum optimal pasien TBC dinilai lebih mudah tertular penyakit COVID-19. “Maka dari itu, untuk pengambilan obatnya kalau tidak anggota keluarga yang mengambil maka kader juga dapat membantu untuk mengambilkan”, ujar Ibu Ike. Namun begitu, saat minum obat pasien harus melakukan video call dengan kader untuk memastikan obat tersebut sudah benar-benar ditelan atau tidak. Ibu Ike menambahkan,

“Harus ada bukti minum obat, khawatir kalau tidak diminum bisa bertambah parah”.

Integrasi Kegiatan Promosi TBC di UKBM

Di Kelurahan Warakas, tidak hanya ada Posyandu balita tetapi juga terdapat Posyandu lansia dan Posbindu. Kegiatan di Posyandu balita antara lain adalah penimbangan yang dicatatkan di KMS (Kartu Menuju Sehat). Apabila terdapat anak balita yang selama 2 bulan tidak menunjukkan kenaikan berat badan, maka akan dirujuk ke Puskesmas baik itu poli gizi atau poli anak.


“Nah, kalau setelahnya masih tetap di garis kuning, maka kader perlu memperhatikan tanda-tanda apakah terdapat TBC. Misalnya, dengan menekan leher karena ditakutkan adanya TBC Kelenjar yang tanda-tandanya tidak terlihat. Apa lagi batuk juga bukan gejala utama TBC pada anak.”, imbuh Ibu Ike.


Kader juga sering melakukan sosialisasi tentang TBC dan juga penyakit kusta karena penularannya sama-sama melalui kontak dan udara. Sosialisasi biasa dilakukan di Posyandu, Posbindu, pengajian atau diundang ke tempat senam, musholla, saat arisan RT/RW, perkumpulan Dasa Wisma dan PPSU Warakas. Di PPSU Warakas juga sudah dilakukan skrining massal untuk seluruh anggota tanpa terkecuali, sampelnya langsung dibawa untuk dites di laboratorium. Pelaksanaan skrining massal ini dilakukan bekerjasama dengan Puskesmas setempat.


Kegiatan Sosialisasi di Posyandu dan Rumah Warga

Menurut Ibu Ike, peran kader Posyandu dalam menanggulangi TBC sangat penting untuk dilakukan karena masih ada beberapa warga seperti ibu-ibu yang sudah tua dan tinggal di pelosok yang beranggapan bahwa TBC adalah penyakit guna-guna atau santet. Namun, sekarang hampir semua masyarakat di wilayahnya sudah mengetahui penyakit TBC bukan dari santet dan keberhasilan ini merupakan bagian dari upaya para kader juga.

“Penting sangat penting. Karena masih ada masyarakat yang tidak mengenal tentang penyakit TBC dan penularannya. Meskipun kita sudah pernah memberikan sosialisasi edukasi, tapi kan belum semua lapisan masyarakat mendapatkan edukasi tersebut. Namanya masyarakat kan sangat luas.”

Tantangan dan Harapan

Selama 6 tahun menjadi kader TBC dan 19 tahun menjadi kader Posyandu, Ibu Ike tidak merasakan kesulitan dalam melaksanakan tugas. Hanya beberapa pasien yang “bandel” dalam minum obatnya karena awalnya malu dan tidak terima dengan penyakitnya. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan pendekatan, mengajak bicara, edukasi sehingga pasien menjadi mengerti. “Ada pasien TBC RO yang bosan minum obat, merasa saat baru mau masuk Puskesmas sudah mencium bau obat dan terbayang-bayang obatnya sudah di hidung. Saya sampaikan, agar tidak terlalu dipikirkan dan menjadikan obat itu sebagai teman karena akan sembuh”, ujarnya.


Saat pandemi ini, pekan imunisasi yang seharusnya berjalan tanggal 24-30 April terpaksa tidak berjalan. Sebagaimana dengan Posyandu yang belum berjalan sejak bulan Maret 2020. “Semua tertunda dan hanya dapat mengerjakan yang dapat dikerjakan melalui ponsel”, kata Ibu Ike. Tantangan yang muncul dalam kegiatan Ibu Ike saat ini adalah ketika form yang harus diisi tidak dikirimkan kembali, atau adanya warga yang tidak punya ponsel sehingga harus mengisi melalui ponsel saudara atau tetangganya.


Ibu Ike berharap agar pandemi COVID-19 cepat berakhir agar banyak balita yang datang ke Posyandu agar generasi baru ini terbebas dari gizi buruk dan hidup sehat. Ia juga berpesan untuk ibu-ibu dan masyarakat agar lebih peduli dengan kesehatan, mau membawa balitanya ke Posyandu dan jangan ragu untuk menghubungi kader di masa pandemi COVID-19.

 

(021) 782 1932

©2018 Forum Stop TB Partnership Indonesia. Proudly created with Wix.com