Pentingnya Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT)


Tuberkulosis (TBC) dapat menular lewat udara. Ketika pasien TBC batuk, bersin atau meludah di sembarang tempat, maka bakteri TBC dapat bertahan diudara. Udara yang mengandung baktei TBC dapat terhirup dan masuk ke tubuh orang lain. Namun, ada beberapa kemungkinan jika bakteri TBC masuk ke tubuh oleh orang lain, yaitu:

  1. Tidak sakit. Hal ini terjadi apabila daya tahan tubuh kamu cukup baik. Sistem imun akan melawan bakteri TBC yang masuk sehinga bakteri TBC tidak akan berkembang serta menginfeksi tubuh.

  2. Infeksi Laten TBC (ILTB). Hal ini terjadi saat kamu terinfeksi TBC namun tidak menunjukkan gejala TBC.

  3. Sakit TBC. Hal ini terjadi jika kamu memiliki imunitas yang rendah sehingga bakteri TBC akan aktif.

Sobat STPI perlu perhatikan nih yang nomor 2, ILTB. Nah, ILTB ini cukup bahaya loh karena pada dasarnya kita sudah terinfeksi TBC, tapi bakteri tersebut mengalami dorminasi (tidur) atau tidak aktif dan tidak berkembang sehingga kita tidak menunjukkan gejala TBC. Lebih bahayanya lagi, saat tubuh kita tidak sehat, maka sewaktu-waktu bakteri TBC akan aktif dan akhirnya kita akan sakit TBC. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa 5-10% orang yang ILTB akan berkembang menjadi TBC Aktif (1).


Lalu apa saja faktor risiko terjadinya ILTB?

  • Kontak erat dengan pasien TBC

Biasanya ILTB dialami oleh orang yang sering kontak langsung dengan pasien TBC, misalnya di keluarga kita ada Ayah yang sakit TBC, maka bisa jadi anak atau Ibunya mengalami ILTB. Perlu waspada Sobat, karena kontak erat 15 kali lebih berisiko untuk mengalami ILTB (2).

  • Orang dengan HIV/AIDS

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa Infeksi HIV diperkirakan dapat menyebabkan 10-110 kali risiko lebih tinggi untuk mengalami ILTB (1)

  • Kelompok Risiko Lainnya

Kelompok yang berisiko misalnya orang dengan Diabetes Mellitus (DM), orang yang menjalani transplantasi organ, orang dengan riwayat penyakit gagal ginjal kronik, tenaga kesehatan, dll. Tenaga kesehatan yang sering menangani pasien TBC akan lebih berisiko mengalami ILTB. Penelitian menyebutkan, bahwa dari 395 petugas kesehatan sebanyak 49 (12%) dinyatakan mengalami ILTB (3).


Duh serem ya. Tapi kita jangan takut karena orang dengan ILTB tidak bisa menularkan bakteri TBC ke orang lain karena bakteri TBC-nya tidak aktif/laten. Namun kita perlu waspada karena ILTB bisa menjadi aktif sewaktu-waktu. Nah, agar bakteri TBC pada orang dengan ILTB tidak menjadi aktif, maka bisa dicegah dengan obat Terapi Pencegahan Tuberkulosis atau TPT.


Berdasarkan petunjuk teknis penanganan ILTB 2020, obat TPT perlu diberikan pada orang yang kontak erat dengan pasien TBC, orang dengan HIV/AIDS serta kelompok risiko lainnya. Dengan catatan harus diperiksa terlebih dahulu melalui tes mantoux atau tes darah. Jika hasilnya positif maka bisa diberikan TPT, namun jika hasilnya negatif maka harus diarahkan oleh dokter yang memeriksa apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Pemberian TPT merupakan langkah mencegah TBC aktif. Pemberian TPT juga harus tuntas dan sesuai dengan indikasi dokter agar TBC yang laten tidak mengalami resisten terhadap obat yang masuk. Berikut paduan pemberian TPT yang dikutip dari Kementerian Kesehatan RI:



Paduan 6H:


Paduan ini diberikan dalam bentuk obat Isoniazid (INH). Diberikan setiap 1x sehari, sebaiknya pada waktu yang sama (pagi, siang, sore atau malam) saat perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan) selama 6 bulan.


Paduan 3HP:


Diberikan dalam bentuk obat Isoniazid (INH) dan Pirazinamid (P). Obat dikonsumsi satu kali seminggu selama 3 bulan. Obat sebaiknya dikonsumsi pada waktu yang sama (pagi, siang, sore atau malam) saat perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan).


Paduan 3HR:


Obat yang akan diberikan adalah Isoniazid (INH) dan Rifamisin (R). Obat dikonsumsi satu kali sehari dan lama pemberian selama 3 bulan (1 bulan = 28 hari pengobatan). Obat sebaiknya dikonsumsi pada waktu yang sama (pagi, siang, sore atau malam) saat perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan).


Obat TPT ini harus dikonsumsi secara lengkap dan tuntas atau tidak boleh putus. Pemberian obat TPT baik dewasa maupun anak-anak dikatakan lengkap apabila menyelesaikan minimal 80% rangkaian pengobatan pencegahan sesuai dengan durasi dari paduan TPT yang dipilih. Untuk paduan TPT selengkapnya bisa dilihat disini ya!


Sumber:

  1. Ai JW, Ruan QL, Liu QH, Zhang WH. Updates on the risk factors for latent tuberculosis reactivation and their managements. Emerg Microbes Infect. 2016;5 (September 2014):e10. doi:10.1038/emi.2016.10

  2. Indraswari, Putu Gita. 2020. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Reaktivasi Infeksi Tuberkulosis Laten. Tesis. Universitas Udayana.

  3. Almufty HB, Abdulrahman IS, Merza MA. Latent tuberculosis infection among healthcare workers in Duhok province: From screening to prophylactic treatment. Trop Med Infect Dis. 2019;4(2):1-11. doi:10.3390/tropicalmed4020085