Our Recent Posts

Tags

Peningkatan Risiko Tuberkulosis Resistan Obat saat Pandemi COVID-19

Artikel ini disadur dari Kompas.com dengan judul Jangan Lupakan TBC di Tengah Pandemi yang terbit dari program Fellowship Pemberitaan TBC Stop TB Partnership Indonesia bersama AJI Jakarta



Risiko infeksi tuberkulosis (TBC) tidak dapat disepelekan.

Putus obat, misalnya, berisiko menjadi TBC resistan obat, yang memakan biaya lebih mahal, berpotensi menularkan bakteri yang lebih ganas, dan dapat mengancam nyawa.


---


TANPA pandemi Covid-19 sekalipun, tuberkulosis (TBC) sudah menjadi permasalahan panjang kesehatan. Pandemi membuat bobot masalah bertambah. Setidaknya, ini terjadi di Solo, Jawa Tengah.

Agus Santoso (41 tahun) kurang lebih sudah sebulan batuk pada akhir Maret 2020. Sejak akhir Februari 2020, warga RW 034 Kelurahan Mojosongo, Jebres, Solo, itu juga merasakan nyeri dada saat bernapas.

Namun, keinginannya untuk sembuh saat itu kalah dengan rasa takut tertular atau malah terdiagnosis Covid-19 ketika harus menyambangi fasilitas kesehatan.

“Saya rasa banyak orang lain juga punya kekhawatiran yang sama ketika harus berobat saat pandemi ini. Ya takut tertular, takut juga sudah terkena," kata Agus saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat (27/11/2020).


Khawatir corona

Mau tidak mau, Agus sedikit banyak tahu kabar soal kasus Covid-19 di kotanya. Misal, Agus tahu bahwa pada akhir Maret 2020 sudah ada beberapa orang di Kota Bengawan dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Beberapa di antara pasien Covid-19 meninggal pun dia dengar kabarnya. Terlebih lagi, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo pun saat itu sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) Corona.

Alhasil, laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkutan barang ke luar kota—terutama Jakarta—itu lebih memilih untuk tidak mendatangi dokter. Lagi pula, selama ini Agus pun jarang berobat ketika sakit.

Agus punya alasan tambahan soal keengganannya mendatangi fasilitas kesehatan selama pandemi Covid-19. Ada alasan ekonomi, ada pula soal stigma.

"(Kalau sampai kena Covid-19), otomatis kan kita harus isolasi, tidak bisa kerja. Belum lagi bisa jadi omongan orang lain saat dinyatakan positif corona,” ungkap dia.

Namun, kondisi kesehatanya ternyata tak kunjung membaik sesuai harapan. Pada awal April 2020, Agus tumbang.

Itu pun, dia baru bersedia diajak berobat oleh sang istri, Marlina Pujiyanti (36), setelah sepekan tak sanggup pergi bekerja.


Tes dan pengobatan

Di Puskesmas Sibela, Mojosongo, Solo, Agus diminta melakukan tes dahak. Dia juga diarahkan untuk melakukan pemeriksaan awal atau skrining virus corona.

Agus lega ketika mendapati hasil pemeriksaan virus corona dirinya dinyatakan negatif. Di sisi lain, kekhawatiran istrinya ternyata menjadi kenyataan, hasil tes dahak Agus menunjukkan dia positif mengidap TBC.

Hasil tes dahak itu membuat Agus harus mengonsumsi obat antituberkulosis (OAT) selama enam bulan. Berdasarkan riwayat kesehatan dan berat badannya yang lebih dari 70 kg, dia diminta untuk minum obat tersebut dengan dosis lima tablet sehari.

Namun, saat menjalani pengobatan TBC tersebut, Agus merasa badannya sudah pulih setelah dua pekan meminum obat. Dia pun berhenti minum obat.

Agus sebenarnya sudah diperingatkan sang istri untuk tidak berhenti minum obat. Namun, bapak tiga anak ini bersikeras berhenti minum obat karena merasa badannya sudah membaik.

Terlebih lagi, dia merasa tidak tahan dengan efek samping OAT seperti mual, sakit perut, nyeri sendi, serta gatal dan kemerahan di kulit.


Akibat putus obat

Semula, petugas kesehatan di puskesmas tidak tahu soal Agus berhenti meminum obatnya. Pandemi yang mengubah banyak protokol layanan kesehatan jadi penyebab.

Sebelum pandemi Covid-19, orang dengan TBC diminta untuk kontrol kesehatan dan mengambil obat seminggu sekali. Pandemi membuat petugas kesehatan memperpanjang jeda waktu kontrol dan pengambilan obat menjadi sebulan sekali, untuk meminimalkan kontak fisik.

Rupanya, ini malah jadi celah bagi Agus untuk membandel tak meminum obat. Petugas kesehatan di puskesmas baru tahu soal Agus yang berhenti minum obat setelah Marlina melapor.

Marlina memutuskan menghubungi petugas kesehatan setelah merasa tak sanggup membujuk suaminya meminum obat, sementara dia merasa tindakan berhenti obat itu salah. Mendapat kabar itu, petugas kesehatan dan kader TBC langsung datang ke rumah Agus.

Kunjungan petugas juga tidak serta-merta membuat Agus mau minum obat lagi. Butuh tiga hari dan tiga kali kunjungan petugas untuk Agus mau berjanji melanjutkan meminum obatnya.

Setelah putus obat selama dua bulan delapan hari, Agus baru memulai lagi pengobatannya. Namun, keputusan itu terlambat. Satu dari tiga anaknya sudah tertular TBC yang disebabkan oleh bakteri er TBCC.

Setelah putus obat selama dua bulan delapan hari, Agus baru memulai lagi pengobatannya. Namun, keputusan itu terlambat. Satu dari tiga anaknya sudah tertular TB yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

“Setelah bapak sudah minum obat lagi, kami berempat baru tes," kata Marlina.

Marlina dan anak pertama mereka negatif TBC dari hasil tes dahak. Anak bungsu dinyatakan negatif pula setelah menjalani tes mantoux atau tuberculin skin test (TST).

TST adalah tes yang dilakukan dengan menyuntikkan purified protein derivative (PPD) di kulit lengan. Tes ini bisa dipakai untuk semua usia tetapi lebih dianjurkan untuk anak berusia di bawah lima tahun.

“Tapi, anak kedua saya ternyata sudah positif TBC setelah bab TBC,C dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apakah pasien benar-benar menderita TBC. Pilihannya, rontgen, tes darah, dan tes dahak.

“Tapi, anak kedua saya ternyata sudah positif TB setelah rontgen di RS,” jelas Marlina yang mendampingi Agus ketika diwawancara.

Alhasil, anak kedua Agus dan Marlina yang masih berusia 5 tahun itu pun kini harus ikut mengonsumsi obat secara rutin dengan dosis tiga tablet sehari. Agus mengakui, hasil ini membuat dia menyesal.

Bersyukur, putrinya tak menunjukkan gejala TBC yang parah. Dia hanya mengalami batuk ringan.


Risiko MDR

Satu hal lain yang Agus syukuri setelah sempat putus obat TBC adalah dia tak dinyatakan sebagai pasien multidrug-resistant tuberculosis (TBC MDR).

TB MDR atau resistan obat (RO) adalah TB yang terjadi antara lain karena pasien TB berobat tidak sampai selesai. Dampak pengobatan yang tak tuntas adalah bakteri bermutasi serta berubah menjadi kuat dan kebal obat lini pertama.

Bila seseorang dinyatakan sebagai pengidap TBC MDR atau TBC RO, dia bisa menularkan kuman yang telah resisten obat dan sulit disembuhkan.

Karena bakteri telah kebal dengan obat yang biasa digunakan untuk TB, pasien TB MDR harus mengonsumsi obat kimia linikedua. Obat yang dikonsumsi akan lebih banyak, dosis lebih keras, waktu pengobatan lebih lama—bisa sampai dua tahun—, dan punya efek samping lebih banyak.

“Kata dokter, kalau jadi TBC RO, saya harus menerima suntikan juga setiap hari selama enam bulan. Tapi untungnya tidak, saya hanya diminta untuk mengulang minum obat dari awal dengan dosis lima tablet sehari selama enam bulan,” jelas Agus.

Karena bakteri telah kebal dengan obat yang biasa digunakan untuk TBC, pasien TBC MDR harus mengonsumsi obat kimia lini kedua. Obat yang dikonsumsi akan lebih banyak, dosis lebih keras, waktu pengobatan lebih lama—bisa sampai dua tahun—, dan punya efek samping lebih banyak.

“Kata dokter, kalau jadi TBC RO, saya harus menerima suntikan juga setiap hari selama enam bulan. Tapi untungnya tidak, saya hanya diminta untuk mengulang minum obat dari awal dengan dosis lima tablet sehari selama enam bulan,” jelas Agus.

Kali ini, Agus menepati janji untuk terus meminum obatnya. Pada Desember 2020, Agus tinggal sebulan lagi harus mengonsumsi OAT. Dia berharap pada pemeriksaan berikutnya sudah akan benar-benar dinyatakan sembuh dari TBC.



Penurunan Penemuan Kasus karena Pandemi

KOORDINATOR Program SSR TB-HIV Care Aisyiyah Kota Solo, Iskandarsyah, menyampaikan selama pandemi Covid-19, kader SSR TB-HIV Care Aisyiyah sempat libur tak berkegiatan selama dua bulan pada Maret-April 2020 demi keselamatan bersama.

Dengan demikian, baik program Ketuk Pintu dan untuk menjaring warga yang memiliki gejala TBC maupun kegiatan investigasi kontak dengan mendatangi keluarga dan warga yang tinggal di sekitar pasien TBC tidak dilakukan pada kurun waktu itu.

Alhasil, jumlah orang yang dirujuk kader TBC untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan tes dahak pun berkurang atau lebih sedikit dibandingkan pada 2019. Ini juga yang jadi sebab perubahan data temuan kasus baru TBC.

SSR TB-HIV Care Aisyiyah Kota Solo mencatat, pada Januari-Juni 2019 sedikitnya telah merujuk 417 orang untuk melakukan tes dahak. Adapun pada Juli-Desember tahun lalu, jumlahnya mencapai 666 orang.

Pada 2020, Kader TBC Aisyiyah hanya merujuk 337 warga untuk cek dahak pada kurun Januari-Juni. Adapun selama rentang Juli-25 November 2020, baru ada 150 orang dirujuk.

“Selama pandemi ini, masyarakat juga semakin tidak mau untuk terbuka. Yang pertama takut kalau TBC positif, sekarang jadi tambah cemas karena Covid-19,” ungkap Iskandarsyah.


Target meleset


Kepala DKK Solo, dr Siti Wahyuningsih tak menampik pandemi Covid-19 bisa mengganggu bahkan menggagalkan target Kota Solo mengeliminasi TBC pada 2025 atau lima tahun lebih cepat dibanding target nasional. Namun, dia tak mau menyerah begitu saja. DKK Solo sudah mulai kembali menggelar koordinasi baik di internal maupun dengan sejumlah pihak lain untuk membahas langkah penanganan TBC ke depan. Mereka juga merangkul organisasi atau kelompok peduli TBC untuk kembali menggiatkan program sosialisasi dan penjaringan kasus baru TBC dengan penerapan protokol kesehatan.

"Kami sudah melakukan pertemuan. Mereka siap untuk kembali menjangkau masyarakat secara langsung maupun dengan komunikasi telepon atau online,” ujar Ning.

Pasien TB non-MDR butuh biaya pengobatan Rp 400.000 sampai Rp 1,2 juta, sementara pasien TB MDR bisa menghabiskan lebih dari Rp 100 juta untuk pengobatan.

Selain fokus pada penemuan kasus baru, DKK Solo juga mengajak organisasi peduli TBC untuk ikut aktif dalam pendampingan pasien TBC yang telah ditemukan. Jangan sampai, misalnya, pengobatan pasien TBC terhenti dan membuat mereka menjadi pasien TBC MDR.

Ketika pasien dinyatakan mengidap TBC MDR, peluang kesembuhannya lebih kecil dibandingkan TBC non-MDR. Beban pembiayaan kesehatan untuk pasien TBC MDR pun akan meningkat.

Buat gambaran, pengobatan pasien TBC MDR bisa menghabiskan biaya 200 kali lebih banyak dibanding ongkos pengobatan pasien TBC non-MDR. Jika pasien TBC non-MDR butuh biaya pengobatan Rp 400.000 sampai Rp 1,2 juta maka pasien TBC MDR bisa menghabiskan dana lebih dari Rp 100 juta untuk pengobatannya.

“Lebih jauh, implikasi peningkatan epidemi TBC MDR ini bisa menurunkan produktivitas SDM dan dapat berpengaruh pada sektor ekonomi dan pariwisata. Jadi, harus diantisipasi bersama,” tegas Ning.

Sepanjang Januari-September 2020, DKK Solo mencatat sudah ada lima temuan pasien TBC MDR baru. Tiga orang di antaranya sudah dalam pengobatan, sedangkan dua orang lainnya tidak berobat.

Tidak berobat di sini bisa berarti pasien menolak diobati dengan berbagai alasan, bisa pula pasien sudah meninggal dunia sebelum atau sesudah diobati.

Tanggung jawab bersama

Selain dengan organsiasi peduli TBC, Ning mengungkap, DKK juga sudah membangun koordinasi dengan layanan kesehatan swasta.

Ini merupakan praktik dari strategi public-private mix (PPM) untuk meningkatkan penemuan kasus dan kualitas layanan dengan melibatkan fasilitas kesehatan swasta tingkat primer-sekunder.

Ning menegaskan bahwa penemuan TBC tidak lepas dari peran layanan swasta. Untuk itu, layanan swasta diharapkan mampu tetap melayani semua suspek TBC secara standar dan dapat dengan mudah diakses seluruh penderita TBC di masa pandemi.

Harapannya, pengobatan TBC dapat berjalan secara optimal meski di tengah wabah, sehingga mampu mencegah penyebaran dan terjadinya TBC resistan obat (RO) di masyarakat.

Ning mengakui, DKK Solo sejak Maret 2020 lebih fokus pada penanganan wabah virus corona. Banyak layanan swasta juga terpantau demikian.

“Intinya masalah TBC adalah masalah bersama. Dengan adanya pandemi ini, kami coba ingatkan kepada yang lain, jangan terus-terusan hanya berkutat dengan Covid-19. TBC tidak kalah bahayanya,” tutur dia.

Lagi pula, kata Ning, Solo sudah mempunyai Perwali Surakarta Nomor 12 tahun 2017 tentang Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Tuberkulosis Kota Surakarta tahun 2016-2021, untuk mempercepat pencapaian tujuan eliminasi TBC.

Dalam peraturan ini, dijabarkan proram aksi daerah berupa langkah-langkah konkret dan terukur yang telah disepakati oleh para pemangku kepentingan dalam penanggulangan TBC.

Sedikitnya ada enam strategi penanggulangan TBC yang tertuang dalam beleid tersebut, yang kemudian di-breakdown ke dalam berbagai program hingga kegiatan secara nyata.

Keenam strategi tersebut, meliputi:

  1. Penguatan kepemimpinan program TBC Solo

  2. Peningkatan akses layanan TOSS-TBC (Temukan Tuberkulosis, Obati Sampai Sembuh) yang bermutu

  3. Pengendalian faktor risiko

  4. Peningkatan kemitraan melalui forum koordinasi TBC

  5. Peningkatan kemandirian masyarakat dalam penanggulangan TBC

  6. Penguatan manajemen progam melalui penguatan sistem kesehatan

Ning mengingatkan, masyarakat umum, kelompok masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi masyarakat, instansi vertikal, dan atau badan hukum dapat berperan serta dalam pelaksanaan program dan kegiatan yang diatur dalam peraturan tersebut.

Peran serta yang dapat dilakukan, sebut Ning, mulai dari sosialisasi di lingkungan masing-masing, memberikan bantuan pembiayaan program kegiatan penjunjang, hingga dukungan fasilitasi.

“Perwali ini dibuat agar ada percepatan-percepatan dalam penanggulangan TBC. Intinya adalah penting keterlibatan stakeholder, lintas sektoral terkait, karena TBC ini bukan tanggung jawab kesehatan saja,” tutur dia.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) DKK Solo, dr. Tenny Setyoharini, meminta masyarakat untuk jangan pernah menunda menghubungi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala TBC.

TBC, ujar Tenny, termasuk penyakit sangat berbahaya dan mematikan. Dia memastikan bahwa 17 puskesmas di Solo siap melayani kasus tuberkulosis, baik secara SDM, sarana prasarana, maupun obat.

“Seluruh Puskesmas di Solo menyediakan layanan secara gratis kepada penderita TBC, termasuk warga dari luar kota. Kebijakan ini diharapkan dapat menjadi alternatif pencegahan penularan penyakit ini,” tegas Tenny.