top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Konten Kolaborasi: "Ngobrolin TPT pada Anak" untuk Menyambut Hari Anak Nasional 2022



Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kematian. TBC dapat menyerang semua usia termasuk anak-anak. Terdapat 4 juta anak usia dibawa 5 tahun terkena TBC karena kontak serumah dengan pasien TBC. Pencegahan yang dapat dilaukan untuk kelompok usia tersebut yang kontak dengan pasien TBC adalah dengan memberikan TPT (Terapi Pencegahan TBC).


TPT merupakan rangkaian program pemberian pengobatan dengan satu atau lebih jenis obat antituberkulosis untuk mencegah berkembangnya penyakit TBC di dalam tubuh. TPT dapat diberikan dalam jangka waktu 3-6 bulan sesuai dengan anjuran dokter. Pemberian TPT merupakan upaya dalam mengurangi jumlah anak-anak atau balita yang menjadi sakit TBC. Namun, informasi mengenai TPT di masayrakat masih kurang. Bahkan, terdapat keluarga yang kontak serumah dengan pasien TBC menolak diberikan TPT.


Menjawab keterbatasan informasi di masyarakat mengenai TPT pada anak, Stop TB Partnership Indonesia berkolaborasi dengan PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI membuat talkshow mengenai TPT pada anak. Acara tersebut dikemas dalam acara TALK x Bincang TBC dengan judul "Ngobrolin TPT pada Anak" yang sudah diupload di YouTube STPI (disini).


Acara tersebut dibuat dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2022 (23 Juli) yang mengundang 4 narasumber yaitu Ibu Khadijah (Orangtua Anak Penerima TPT), Ibu Julaeha (Kader TPT Banten), dr. Hetty Wati Napitupulu, SpA (Dokter Spesialis Anak) dan Apt. Rinaldi Nur Ibrahim, S.Farm (Duta TBC) yang diselenggarakan di kantor PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.


Acara talkshow dibuka oleh pemaparan dari Apt. Rinaldi Nur Ibrahim yang menjelaskan kondisi TBC di Indonesia. “Indonesia ini berada pada posisi ke-3 di dunia untuk kasus TBC. Sebenarnya kalau dibandingkan dengan tahun 2020, kasus TBC di Indonesia ini mengalami penurunan, namun bukan karena banyak yang sembuh tapi karena angka notifikasi kasusnya menurun akibat dampak pandemi COVID-19,” ucapnya. Notifikasi yang rendah tersebut juga menunjukkan bahwa kemungkinan penularan TBC masih banyak terjadi. Sehingga, pemberian TPT merupakan langkah yang baik untuk mencegah terjadinya sakit TBC dan menurunkan beban TBC di Indonesia.



(Ibu Julaeha, Kader dari SR Banten menceritakan usahanya dalam memberikan edukasi TPT kepada masyarakat di wilayahnya)

Banyaknya kasus TBC juga dialami oleh provinsi-provinsi di daerah contohnya yaitu Banten. Ibu Julaeha selaku kader TBC mengatakan bahwa wilayah kerjanya yaitu Banten menduduki peringkat ke-3 dengan kasus TBC tertinggi di Indonesia.”Kasus di wilayah kami masih tinggi. Sehingga butuh adanya sosialisasi terhadap masyarakat. Karena eliminasi TBC tidak hanya dapat bertumpu kepada tenaga kesehatan, namun juga para pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah baik dari tingkat desa hingga nasional,” tuturnya.


Sehubungan dengan situasi tersebut, dr. Hetty sebagai dokter spesialis anak memberikan tanggapan terkait dengan kondisi genting yang terjadi saat ini. Beliau menyampaikan bahwa pemberian TPT adalah langkah yang baik sebagai upaya eliminasi TBC terutama pada anak-anak.”TBC ini merupakan penyakit infeksi yang dapat terjadi dalam jangka panjang di tubuh kita. Sehingga, semua anak terutama balita yang kontak dengan pasien TBC Paru harus diberikan TPT. Karena daya tahan tubuh anak-anak belum cukup kuat sehingga ada kemungkinan resiko terinfeksi kuman TBC yang nanti didalam tubuhnya dapat terjadi infeksi TBC Laten bahkan TBC,” jelasnya.


Walaupun sudah kita pahami bahwa pemberian TPT sangat penting untuk mencegah TBC, namun adanya pro kontra opini di masyarakat terkait dengan TPT yang masih sering dijumpai oleh Ibu Julaeha. “Saat melakukan Investigasi Kontak, kami masih sering menemui beberapa orangtua yang menolak untuk kita kunjungi apalagi untuk mendapatkan TPT. Maka saya sebagai kader berharap semua pemangku kepentingan dapat turun tangan untuk membantu mensosialisasikan informasi terkait TPT kepada seluruh masyarakat,” ucapnya.



(Ibu Khadijah selaku orang tua dari anak yang menerima TPT menyampaikan pendapatnya terkait dengan TPT)

Dibalik banyaknya orang tua yang menolak untuk anaknya mendapatkan TPT, Ibu Khadijah sebagai orang tua anak yang menerima TPT mempunyai pandangan lain. Beliau sangat yakin bahwa TPT dapat membantu anaknya untuk terhindar dari TBC. “Kondisi anak saya setelah mendapatkan TPT kondisinya sehat dan baik. Saya menginformasikan keluarga saya bahwa TPT ini sangat baik untuk kesehatan keluarga. Jadi anak saya, bahkan kami sekeluarga juga memutuskan untuk melakukan TPT,” jelas beliau.


Di akhir dialog, seluruh narasumber mengajak seluruh masyarakat untuk bertekad melakukan eliminasi TBC 2030. Mari kita lindungi generasi Indonesia dari kuman TBC dengan melakukan TPT. Semoga, kegiatan Talkshow TALKS x BINCANG TBC ini, dapat membantu meningkatkan literasi masyarakat terkait dengan TPT dan membantu Indonesia bebas TBC tahun 2030.


TALK x Bincang TBC khusus "Ngobrolin TPT pada Anak" sekarang bisa didengarkan di Spotify juga, Loh.

Yuk simak dengan klik link di bawah ini

87 tampilan0 komentar

Comentários


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

bottom of page