top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Komunitas HIV Menjadi Kunci Mencapai #EndingAIDS2030


(Dokumentasi STPI)
(Dokumentasi STPI)

Jakarta - Tema Hari AIDS Sedunia 2023 adalah Let Communities Lead yang bertujuan untuk menyampaikan pesan bahwa penanggulangan AIDS di berbagai negara tidak akan mampu dilakukan apabila tidak melibatkan komunitas HIV/AIDS. Mereka adalah ujung tombak tenaga kesehatan yang bisa menjangkau hingga ke populasi kunci sehingga program-program penyehatan bisa berjalan dengan baik.


Tepat tiga hari sebelum Hari AIDS Sedunia, 28 November 2023 lalu, Stop TB Partnership Indonesia (STPI) menghadiri Press Conference dan Community Champion Awards 2023 yang diadakan oleh UNAIDS Indonesia di Hotel des Indes Menteng Jakarta Pusat. Acara tersebut dihadiri oleh dr. Imran Pambudi MPHM selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, perwakilan donor UNAIDS, agensi UN, jaringan nasional HIV, komunitas dan juga individu serta media. Press Conference ini bertujuan untuk menginformasikan tentang kondisi HIV dan AIDS di Indonesia maupun secara global, juga menekankan peran komunitas dalam upaya #EndingAIDS2030.


Krittayawan Boonto selaku UNAIDS Country Director Indonesia menyampaikan terdapat 1,3 juta infeksi baru HIV dengan 630.000 kematian akibat AIDS yang masih di atas rata-rata 500 ribu artinya kematian akibat AIDS di dunia masih sangat tinggi. “Ada sesuatu yang masih belum oke. Indonesia memiliki kasus infeksi baru HIV sebanyak 24 ribu, bila dibandingkan dengan Malaysia sebanyak 3 ribu sementara Thailand 7 ribu, kasus HIV di Indonesia sangat tinggi” ujar Krittayawan Boonto dalam penjelasannya. Ia juga menambahkan bahwa hampir 50% infeksi baru HIV terjadi pada anak-anak muda dibawah umur 19 tahun.


Melihat angka tersebut, 40 tahun komunitas HIV telah banyak memberikan dampak positif dalam mencapai target akhiri AIDS 2030. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan komunitas HIV diantaranya:

  1. Harga terapi antiretroviral atau ARV berhasil turun dari USD25 menjadi USD7 akibat advokasi dari komunitas HIV.

  2. UNAIDS mengadakan program PrEP sebagai layanan pencegahan bagi komunitas dan sebanyak 8.000 orang telah memanfaatkan layanan PrEP yang tersebar di 21 Kabupaten/Kota yang lebih dari 60 lokasi di seluruh Indonesia.

  3. Dukungan Emak Club yang digagas oleh Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) dari 2018-2020 telah berhasil mendampingi 455 ibu hamil yang melahirkan bayi HIV negatif. 

  4. Saya Berani dan Tanya Marlo merupakan platform edukasi yang dipimpin oleh komunitas yang lebih tahu harus membuat konten seperti apa untuk sasaran agar lebih tertarik dengan isu HIV/AIDS

  5. Indonesia mulai menerapkan social contracting untuk respon terhadap pendanaan domestik program HIV. Kota Denpasar dan Semarang berhasil mengalokasikan pendanaan untuk tahun 2024. Sementara 6 kota lainnya akan menargetkan pada tahun 2025.


Peran komunitas bagi pemerintah pusat sangat dibutuhkan dalam pencegahan, penemuan, pengobatan dan perawatan HIV/AIDS. “Penemuan kasus HIV hampir 90% terutama pada populasi kunci yang mudah diakses oleh komunitas” jelas dr. Imran Pambudi MPHM selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular yang menjadi narasumber yang menjelaskan pentingnya peran komunitas HIV. Beliau juga menyampaikan bahwa TBC erat kaitannya dengan HIV sehingga Pak Imran berharap program-program HIV kedepannya bisa terintegrasi dengan program TBC, pasalnya TBC sudah memiliki Peraturan Presiden No.67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan TBC yang didalamnya terdapat amanah terkait HIV. 


Pada akhir sesi konferensi pers tersebut, terdapat Community Champion Awards 2023 yang diberikan kepada individu dari komunitas HIV yang terpilih. Hal ini merupakan langkah untuk meningkatkan semangat komunitas dalam memberikan dampak pada bidang edukasi HIV/AIDS dan pemberdayaan pada Orang dengan HIV/AIDS.


37 tampilan0 komentar

Comments


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

bottom of page