top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Wiraswasta Paling Banyak Terkena TBC-RO, Mitos atau Fakta?


Beberapa informasi terbaru yang cukup mengejutkan bahwa pekerja adalah kelompok yang cukup rentan tertular TBC, tak terkecuali wiraswasta. Wiraswasta adalah pelaku usaha atau pelaku kegiatan dalam penyedia barang maupun jasa yang dilakukan baik secara mandiri maupun kelompok. Kelompok ini dikabarkan paling banyak tertular TBC Resisten Obat (RO) khusus di kalangan pekerja, mengapa demikian?


Keterangan dari Kementerian Kesehatan RI bahwa buruh adalah kelompok yang paling banyak terinfeksi TBC Sensitif Obat (SO) dari kalangan pekerja dengan jumlah kasus sebanyak 54.800, disusul dengan petani (51.900) dan wiraswasta (44.200). Sementara itu, TBC Resisten Obat (RO) paling banyak dialami oleh wiraswasta dengan jumlah kasus sebanyak 751 orang, kemudian 635 orang buruh dan 564 pegawai swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Jadi, secara data adalah fakta bahwa wiraswasta merupakan kelompok yang paling banyak terkena TBC RO.


Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut dapat keluar melalui droplet pasien positif TBC lewat udara yang bisa terhirup oleh orang yang sehat. TBC terdiri dari 2 jenis yaitu TBC Sensitif Obat (SO) dan TBC Resisten Obat (RO). TBC SO adalah TBC yang biasanya menyerang paru-paru, namun bisa juga menyerang organ tubuh lain. Sementara TBC RO adalah TBC paru dan TBC ekstra paru yang telah kebal atau resisten terhadap obat pada lini pertama atau obat TBC SO sebelumnya. Yang menjadi pembeda antara kedua jenis TBC ini adalah lama pengobatannya, TBC SO bisa antara 6-12 bulan sementara TBC RO antara 6-24 bulan ternagunt resisten obat yang dialami.


TBC RO setiap tahun terus mengalami peningkatan di Indonesia. Di tahun 2021 terdapat 8.268 kasus dan meningkat menjadi 12.794 di tahun 2022. Angka keberhasilan pengobatan TBC RO tergolong kecil yaitu hanya 55%, cukup berbeda dengan TBC SO yang mencapai 86% di tahun 2022. Data lain dari PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI bahwa pasien TBC RO saat ini didominasi oleh kelompok primer TBC RO atau diartikan sebagai pasien yang didiagnosa TBC RO langsung tanpa ada riwayat pengobatan TBC SO sebelumnya. Artinya telah banyak pasien-pasien yang tertular TBC RO secara langsung oleh pasien TBC RO lainnya.


Kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena wiraswasta merupakan salah satu pekerjaan yang cukup banyak digeluti oleh penduduk Indonesia. Apabila masa produktifnya terganggu maka akan menghambat pemasukan keluarganya, ditambah apabila dirinya adalah tulang punggung keluarga maka akan berdampak secara ekonomi dari keluarga tersebut. Penelitian STPI juga menemukan bahwa pasien TBC RO mengalami beban katastropik sehingga orang yang terkena TBC RO sangat rentan untuk jatuh miskin.


Penjelasan dari bahwa pekerja termasuk wiraswasta yang rentan terinfeksi TBC karena adanya kontak langsung dengan pasien TBC yang mungkin saja tidak diketahui. Ditambah mereka yang memiliki mobilitas tinggi sehingga bertemu dengan banyak orang dalam waktu yang cukup lama membuatnya semakin rentan (Nhamoyebonde & Leslie, 2014). Selain itu keterangan dari Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), selaku Guru Besar dalam Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bahwa apabila mereka memiliki perilaku yang tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol atau memiliki penyakit penyerta seperti gangguan ginjal, diabetes dan HIV/AIDS akan lebih mudah terinfeksi TBC karena adanya gangguan imunitas tubuh.


Pada dasarnya, orang dengan TBC RO memiliki gejala yang tidak biasa bahkan ada yang mengalami batuk berdarah secara berkepanjangan. Hal ini membuatnya jadi sulit untuk bekerja sehingga berpotensi untuk tidak melanjutkan pekerjaannya. Selain itu, pelaku usaha sangat rentan mendapatkan stigma di lingkungan tempat tinggal atau tempat kerjanya, bahkan bisa berdampak pada usaha yang dijalankan misalnya masyarakat atau konsumen tidak percaya lagi dan memilih untuk tidak membeli produk/jasa yang disediakan, sehingga pendapatannya bisa menurun.


Perlu adanya peran dari tenaga kesehatan maupun Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) untuk menginformasikan terkait TBC RO agar stigma bisa menurun. Upaya lain yang perlu dilakukan oleh para pekerja terutama wiraswasta yang sedang menjalani pengobatan TBC RO adalah jangan berhenti untuk minum obat sebelum dokter menyatakan sembuh. Menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan membuang ludah/dahak pada tempatnya menjadi penting untuk mencegah penularan di tempat kerja. Orang di sekitar seperti keluarga dan teman dekat dapat memberikan perhatiannya kepada pasien TBC RO dan memberikan semangat agar pasien TBC RO dapat menjalani pengobatannya hingga tuntas.


642 tampilan0 komentar

Comments


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

bottom of page