Ubah Tantangan Menjadi Upaya Penanggulangan, Berikut Capaian Kepala Desa Grujugan Mengakhiri TBC



SUMENEP – Penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Sumenep mengalami berbagai tantangan terutama di masa pandemi COVID-19. Penemuan kasus TBC masih belum mencapai target yaitu sejumlah 2.202 kasus dan bahkan mengalami penurunan 10% akibat pandemi COVID-19 yang melanda. Penurunan tersebut dikhawatirkan akan berakibat pada peningkatan angka kematian karena deteksi dini TBC yang terhambat akibat COVID-19. Sehingga mejadi tanggungjawab bersama untuk menemukan selisih orang dengan TBC untuk menekan lebih banyak penularan di masyarakat.


“Tantangan penanggulangan TBC di masa pandemi COVID-19 memerlukan strategi yang baik dan benar, kita perlu menggalakkan keterlibatan lintas sektor, seluruh stakeholder serta organisasi masyarakat sipil (OMS) agar Kabupaten Sumenep mampu meraih Eliminasi TBC pada tahun 2024 dan tahun 2029 di provinsi Jawa Timur” tutur Didik Susanto selaku Kepala Desa Grujugan.


Pada Senin (31/5) Pemerintah Kabupaten Sumenep bekerjasama dengan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) melaksanakan Lokakarya Penanggulangan tuberkulosis (TBC) pada Masa Pandemi COVID-19 yang bertempat di Aula Potre Koneng, Kantor Bappeda Kabupaten Sumenep. Lokakarya yang dimoderatori oleh Mohamad Ekoyanto selaku Direktur Lakspesdam NU Sumenep ini turut dihadiri oleh Hj. Dewi Khalifah selaku Wakil Bupati Sumenep, Lukman Hakim selaku Program Manager STPI, Ibu Satiti Palupi selaku TB Programmer Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan Didik Susanto selaku Kepala Desa Grujugan.


Dalam paparannya, Didik Susanto menjelaskan bahwa Desa Grujugan telah melaksanakan kegiatan penanggulangan TBC, antara lain peningkatan pengetahuan masyarakat tentang TBC dengan sosialisasi TBC dan desa siaga TBC, pelatihan kader TBC desa Grujugan, pembentukan kelembagaan desa siaga TBC, dan penyusunan Rencana Strategis Desa (RENSTRADA) untuk penanggulangan TBC yang akan dimasukkan ke dalam perencanaan pembangunan desa.


Dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Desa Grujugan sebagai Desa Siaga TBC menunjukkan bahwa sebagian masyakat telah paham tentang TBC, terdapat kader yang telah memliki keterampilan investigasi kontak (IK) dan screening secara sukarela pada masyarakat, kader TBC secara simultan koordinasi dengan layanan kesehatan untuk proses pengambilan dahak yang akan diberikan pada laboratorium, dan adanya anggaran pendanaan untuk sosialisasi TBC di level Rukun Tetangga (RT) dari dana pendapatan asli desa (PAD).


“Kami menganggarkan sosialisasi dan screening di tingkat RT dengan menggunakan dana pendapatan asli desa (PAD),” tutur Didik Susanto.


Didik berharap, dengan adanya lokakarya yang diselenggarakan oleh Forum Kemitraan TBC Kabupaten Sumenep ini, Desa Grujugan dapat mengatasi beberapa permasalahan yang masih mereka hadapi dalam upaya penanggulangan TBC, antara lain kurangnya pengetahuan masyarakat tentang TBC, anggapan masyarakat tentang TBC yang merupakan penyakit mistis, anggapan batuk adalah penyakit biasa, dan keengganan masyarakat melanjutkan pengobatan karena efek samping obat dan waktu pengobatan yang lama. Sehingga masyarakat dapat memahami pentingnya upaya bersama dalam mencapai Sumenep akhiri TBC di tahun 2024.