Our Recent Posts

Tags

Risiko Tuberkulosis Menurun Akibat Berhenti Merokok – Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021




Rokok dan Tuberkulosis


Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, perokok memiliki risiko dua kali lebih besar untuk jatuh sakit akibat tuberkulosis (TBC) dengan mengubah status TBC laten menjadi aktif, begitupun pada perokok pasif. Sedangkan, sekitar 25% populasi dunia memiliki status TBC laten (WHO, 2020). Pada Maret 2020 lalu, Dr. N. Paranietharan, WHO Representative to Indonesia menyampaikan bahwa perokok memiliki risiko tinggi untuk memperburuk progresi penyakit COVID-19 dan Tuberkulosis. Karena kebiasaan merokok membuat fungsi paru menjadi menurun dan melemahkan sistem imun terutama dalam paru-paru sehingga akan lebih mudah terkena penyakit.


Perokok menghadapi risiko 40-50% lebih tinggi untuk terkena keparahan penyakit dan kematian akibat COVID-19 (WHO, 2021). Namun, selama pandemi COVID-19, rasio perokok aktif di Indonesia meningkat 1 persen sehingga jumlah perokok di Indonesia menjadi 61 juta penduduk. Hal ini sangat bertolak belakang dengan informasi dan himbauan kesehatan yang sedang digencarkan pada masa pandemi sebagaimana disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin pada pertemuan virtual dengan tajuk “Tanggung jawab kita bersama: Akhiri Epidemi Rokok dan Pandemi COVID-19 di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES), dan Asia Pacific Cities Alliance for Health and Development (APCAT).


“Indonesia merupakan negara dengan beban tuberkulosis terbesar kedua setelah India dan kita telah bekomitmen untuk mengakhiri TBC di tahun 2030.” beliau menambahkan.



Rokok dan Kemiskinan


Setiap tahun, rokok membunuh sekitar 8 juta orang di dunia, termasuk di dalamnya 250.000 orang Indonesia (WHO, 2020). Namun begitu, masyarakat Indonesia dengan pendapatan 40 persen terendah yang merokok memilih menghabiskan 11,5 persen pendapatan keluarga tiap bulannya untuk membeli rokok sehingga tidak dapat mencapai asupan kalori harian minimal. Sebagai contoh, di Nusa Tenggara Timur, orang tua menjual hasil panennya untuk membeli rokok dan mi instan. Hal ini menambah tingkat kemiskinan di daerah urban maupun rural sejumlah 10,7 persen (Badan Pusat Statistik, 2016).


“Mereka lebih cenderung untuk membeli sebungkus rokok dibandingkan makanan bergizi untuk keluarganya,” ucap Budi Gunadi Sadikin pada kesempatan yang sama.


Hal ini dapat menambah dampak buruk pada kesehatan mulai dari risiko yang disebabkan oleh perilaku merokok, kondisi lingkungan yang tidak baik akibat kemiskinan, kurangnya pemenuhan asupan gizi, menurunnya sistem imun tubuh sehingga seseorang akan lebih mudah terkena penyakit, khususnya penyakit paru, TBC dan COVID-19, kanker dan penyakit jantung.



Berhenti Merokok itu Keren


Maka dari itu, pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada tanggal 31 Mei 2021, World Health Organization meluncurkan tema global “Commit to Quit” yang bertujuan untuk mengajak 100 juta perokok di dunia untuk bersama-sama berhenti mengonsumsi rokok. Karena adiksi rokok membuat seseorang menjadi kecanduan, maka tanpa adanya dukungan yang adekuat akan menjadi tantangan tersendiri bagi perokok aktif untuk berhenti.


Menurut Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, terdapat beberapa persiapan yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan tekad dan komitmen kuat dalam upaya berhenti merokok. Ingat START (Set, Tell, Anticipate, Remove, dan Talk):

  • SET, tetapkan tanggal untuk berhenti

  • TELL, beritahu teman, keluarga dan lingkungan sehari-hari untuk memberikan dukungan

  • ANTICIPATE, antisipasi dan kenali waktu timbulnya godaan merokok serta buat rencana untuk menghadapi godaan tersebut. Misalkan dengan mengganti kebiasaan waktu merokok dengan makan buah potong, atau mengganti memainkan puntung rokok dengan memainkan pensil dan pulpen.

  • REMOVE, jauhkan rokok dan korek api dari jangkauan

  • TALK, konsultasikan ke dokter layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) melalui QUITLINE.INA 0-800-177-6565 atau konsultasikan di klinik UBM terdekat.


Berhenti merokok memberikan banyak sekali keuntungan. Delapan jam awal setelah berhenti merokok dapat menurunkan setengah kadar nikotin dan karbon monoksida dalam darah, berhenti 48 jam membuat paru-paru memperbaiki jaringan yang rusak akibat residu rokok, 72 jam setelah berhenti membuat pernapasan lebih lancar, 2-12 minggu selanjutnya membuat sirkulasi darah membaik, berhenti 3-9 bulan membuat batuk dan mengi berkurang, 10 tahun berhenti merokok dapat menurunkan risiko terjadinya kanker paru-paru, 15 tahun berhenti dapat menurunkan risiko serangan jantung, dan banyak keuntungan lainnya setelah berhenti merokok.


Meskipun pepatah mengatakan bahwa, “Quitters never win”, namun pada kasus rokok, “Quitters are the real winners”. Berhenti merokok dapat memperbaiki kualitas hidup dan kesehatan diri sendiri termasuk semua orang di sekitar. Mari berhenti merokok dan ajak sahabat serta keluarga kita! Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia.