Our Recent Posts

Tags

Perjuangan Kader TBC Desa Sandik dalam Mendapatkan Obat untuk Pasien Tanpa Identitas

Lombok Barat - Yusril merupakan salah satu kader TBC di Dusun Sandik yang bertugas dalam membantu penanggulangan TBC. Pada 4 September 2021, Yusril ditelfon oleh salah satu warga Dusun Sandik Atas untuk mengurus salah satu anggota keluarganya yang sakit TBC.


Kejadian ini berawal dari orang dengan TBC yang dibawa oleh keluarganya untuk berobat pada tanggal 27 September 2021 ke salah satu klinik di daerah setempat. Selama 2 hari orang dengan TBC tersebut diperiksa dan dirawat, hasil laboratorium (29/10) menunjukkan bahwa ia positif TBC. Setelah mengetahui hal tersebut, pihak klinik langsung menghubungi Puskesmas setempat untuk ditindaklanjuti dan diberikan pengobatan. Kemudian pihak keluarga menelfon Yusril agar bisa meninjau kondisi orang dengan TBC tersebut secara langsung di rumahnya.

Kondisi orang dengan TBC tersebut terlihat sangat memprihatinkan. Orang dengan TBC tersebut terbaring lemah dengan tubuh yang sangat kurus, sulit duduk, berdiri, makan bahkan untuk berbicara-pun ia tidak bisa. “Kondisi terakhir sempat dianggap tidak napas dan dianggap meninggal saat hari sabtu (11/10)”- ujar Yusril. Sebelumnya ada salah satu warga setempat yang merupakan anggota Lombok Charity yang ingin membantu merawat pasien tersebut, namun orang tuanya menolak dan menyerahkannya kepada kader TBC Dusun Sandik. Kondisi pasien seperti ini memang sudah sangat lama, berawal dari kepulangannya dari Malaysia setelah bekerja sebagai TKI, psikisnya terganggu dan kondisinya terus melemah, bahkan ia sampai berhalusinasi.


Orang dengan TBC tersebut tinggal bersama ibu dan keponakannya saja di rumah, tidak ada sumber penghasilan utama sehingga mengandalkan pemberian tetangganya. Makanan yang ia makan hanya es saja dan tidak ingin makan yang lain, sehingga tubuhnya sangat kurus. Keluarganya yang lain memiliki kesibukan masing-masing yang menyebabkan ia hanya dirawat oleh ibunya yang sudah tua.


Menanggapi hal ini, setelah Yusril dan kader TBC Desa Sandik mengetahui kondisinya dan latar belakang keluarganya, akhirnya Yusril dan kader TBC Desa Sandik berinisiatif untuk membantu proses pengobatannya. Namun, terdapat kendala di Puskesmas yang akhirnya tidak bisa mengeluarkan obat untuk orang dengan TBC tersebut karena tidak memiliki NIK (Nomor Induk Kependudukan). Setelah dikonfirmasi oleh ibunya, ia sebenarnya sudah memiliki KTP, namun hilang karena bencana gempa bumi. Saat diperiksa di kantor kecamatan, sayangnya NIK orang dengan TBC tersebut tidak terdaftar atau tidak memiliki identitas.


Hal yang mungkin bisa dilakukan adalah orang dengan TBC tersebut melakukan perekaman kembali di kantor camat, namun melihat kondisinya yang tidak memungkinkan akhirnya kader TBC dan ketua Desa Siaga TBC berdiskusi dengan pihak desa untuk mencari solusi terbaik agar orang dengan TBC tersebut tetap bisa mendapatkan pengobatan. Awalnya Kepala Desa juga tidak bisa menemukan solusinya karena dari pihak Puskesmas hanya ingin memberikan obat pada pasien yang memiliki NIK saja. NIK digunakan untuk mendaftarkan pasien pada SITB (Sistem Informasi TB), sehingga jika tidak ada NIK nantinya akan bermasalah pada SITB.


Setelah berdiskusi panjang, akhirnya ketua Desa Siaga TBC menghubungi Kepala Camat untuk mendapatkan solusi terbaik. Jalan keluarnya adalah pihak kecamatan meminta agar dari pihak desa mengeluarkan surat permakluman yang kemudian diserahkan kepada pihak puskesmas. Surat permakluman merupakan surat tembusan dari kepala camat yang dikeluarkan oleh desa, surat tersebut tertulis bahwa orang dengan TBC tersebut tidak memungkinkan untuk melakukan perekaman di kantor camat karena kondisinya yang memprihatinkan dan harus segera mendapatkan pengobatan. Surat tersebut akhirnya diterima dengan baik oleh pihak puskesmas sehingga mau memberikan pengobatan kepada yang bersangkutan.


Setelah pihak puskesmas memeriksa orang dengan TBC tersebut, kesimpulannya adalah ia tidak hanya memiliki penyakit TBC saja, tapi juga penyakit lain, namun tidak dijelaskan lebih lanjut penyakit lainnya oleh pihak puskesmas. Tindak lanjutnya adalah orang dengan TBC tersebut nantinya akan diurus oleh kader TBC dan kepala desa siaga TBC Desa Sandik untuk bisa menerima bantuan pengobatan dari dinas sosial. Selain itu, Yusril dan kader TBC Desa Sandik juga berencana untuk bisa membawa orang dengan TBC tersebut segera dirujuk ke rumah sakit.


“Harapannya bisa dirujuk ke rumah sakit agar semakin jelas penyakitnya apa saja dan bisa segera diobati” - Yusril

Sementara untuk PMO (Pengawas Minum Obat) akan diserahkan kepada keponakan yang tinggal bersama orang dengan TBC tersebut serta Yusril sendiri sebagai kader TBC yang juga membantu memantau agar bisa menjalani pengobatan hingga tuntas.