top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Menyoal tentang Suku Baduy dan Tuberkulosis


Sumber: CNN Indonesia

Dalam satu bulan terakhir, telah dilaporkan sebanyak 9 warga baduy meninggal dengan diagnosis Campak dan Tuberkulosis (TBC). Awalnya, ditemukan sebanyak enam orang suku baduy yang meninggal dengan dugaan TBC, namun setelah dilakukan pemeriksaan darah diketahui sebanyak sembilan warga yang meninggal dengan tujuh diantaranya terinfeksi Campak dan dua diantaranya putus berobat dari pengobatan TBC. Selain itu, hingga 22 September 2022 dilaporkan terdapat 18 warga Baduy yang terdiagnosis sakit TBC. Hingga saat ini, dua diantaranya dirujuk ke RSUD Banten untuk menjalani pengobatan TBC.


Salah satu pasien tersebut masih berusia tujuh tahun, Bohani namanya. Ia sebelumnya sempat menjalani pengobatan TBC selama 2 bulan, juga berat badannya bertambah dari 8 kg menjadi 12 kg. Namun demikian, Ia tak melanjutkan pengobatan dikarenakan jarak Puskesmas yang cukup jauh dari rumah.


Kondisi Bohani saat ini semakin memburuk karena mengalami gizi buruk. Sebelumnya, Muhammad Arif Kirdiat selaku Ketua Koordinator Sahabat Relawan Indonesia (SRI) menginformasikan bahwa Tim Medis SRI sempat melakukan kunjungan pada tanggal 19 September lalu, saat itu kondisi Bohani cukup baik, bahkan ia berlari-lari dan bermain bersama temannya. Namun, pada 21 September lalu dilaporkan kondisi Bohani memburuk. Akhirnya Tim Medis SRI membawa Bohani ke RSUD Banten untuk melakukan pengobatan.


Sumber: republika.co.id

Jarak tempuh dari rumah Bohani ke RSUD Banten cukup jauh, yaitu 80 KM. Sebenarnya terdapat RSUD Adjidarmo yang lebih dekat, namun karena Bohani tidak ada Kartu Indonesia Sehat (KIS) sehingga ia tidak bisa berobat di RSUD tersebut. Pada akhirnya, Bohani mendapatkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang bisa menggantikan KIS untuk mendapatkan pengobatan gratis di RSUD Banten.


Menanggapi permasalahan yang sedang dialami warga Baduy saat ini dapat dilihat bahwa cukup jelas perbedaan pelayanan kesehatan di daerah pedalaman seperti Baduy Dalam dan Baduy Luar. Akses pelayanan kesehatan di daerah Baduy cukup sulit dijangkau, bahkan untuk bisa menuju Puskesmas warga Baduy perlu menempuh jalan 4-5 jam.


Selain permasalahan jarak, masalah jaminan kesehatan juga masih belum bisa menjangkau daerah pedalaman. Pengobatan gratis dapat diberikan apabila masyarakat memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) atau BPJS. Sementara jika tidak ada, maka warga tersebut harus memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk tetap bisa mendapatkan pengobatan gratis.


Hal tersebut tentu sangat problematik, birokrasi yang cukup sulit membuat masyarakat merasa enggan mengurus keperluan tersebut. Dapat dibayangkan, betapa banyaknya orang tertular TBC dari pasien TBC aktif yang tidak diobati hanya karena tidak ada SKTM atau bahkan BPJS/KIS. Padahal, satu orang yang terinfeksi TBC aktif dapat menularkan 20 orang di sekitarnya. Hal ini akan merugikan semua pihak, tidak hanya masyarakat yang tertular TBC namun, dari sisi cost effective pemerintah juga tidak akan efektif.


Permasalahan lain yang mungkin dapat menyebabkan warga Baduy terlambat diobati adalah minimnya tenaga kesehatan di daerah tersebut. Dari beberapa laporan berita yang terbit, kebanyakan dari mereka melaporkan bahwa yang menemukan warga Baduy sakit adalah Tim Medis SRI. Artinya, belum banyak tenaga kesehatan yang disebar dan ditugaskan untuk menjangkau masyarakat Baduy. Hanya setelah mendapat laporan dari Tim Medis SRI kemudian Dinas Kesehatan setempat bergerak untuk menindaklanjuti kasus tersebut.


Terlepas dari beberapa pandangan diatas, perlu diketahui Suku Baduy merupakan masyarakat adat yang berada di wilayah pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Suku tersebut terbagi menjadi dua yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy dikenal teguh terhadap adat dan kearifan lokalnya, meskipun demikian wilayah Baduy bukanlah daerah terisolir dan terasingkan dari dunia luar.


Terdapat banyak sekali mitos dan pandangan buruk terhadap suku Baduy. Salah satunya mereka dianggap tidak bisa menerima orang asing masuk ke wilayahnya. Namun, apabila melihat beberapa berita dari kasus TBC di Baduy, terdapat seorang tokoh Baduy, Kemi, sangat menerima dengan baik kehadiran Tim SRI untuk memberikan pengobatan kepada Warga Baduy. Artinya, ada potensi untuk bisa mengembangkan sistem kesehatan yang lebih baik di wilayah tersebut.


Pada akhirnya, semua peluang perlu digunakan dengan baik oleh pihak manapun. Langkah awal yang potensial adalah dengan memberikan pemahaman kepada Warga Baduy terkait penyakit TBC. Dengan pemahaman yang baik akan membuat masyarakat tahu bagaimana mencegah penularan serta apa yang harus dilakukan mereka apabila terdapat keluarga/orang terdekatnya yang terinfeksi TBC.


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

bottom of page