top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Lokakarya Bagi Pendamping Komunitas: Update Pengobatan TBC-RO Mulai dari 6 Bulan Pengobatan



Jakarta - Stop TB Partnership Indonesia (STPI) telah melaksanakan “Lokakarya Perawatan dan Pengobatan TBC-RO yang Berpusat pada Pasien Bagi Pendamping Komunitas dan Organisasi Penyintas TBC di Indonesia” pada 18 Januari 2023. Kegiatan yang didukung oleh LIFT TB ini terdapat sekitar 491 peserta yang diikuti oleh Sub Resipien (SR), Sub-sub Resipien (SSR), Manajer Kasus serta Patient Supporter (PS) dari PR Konsorsium Penabulu-STPI dalam lokakarya tersebut secara daring.


Tujuan kegiatan tersebut adalah meningkatkan literasi pengobatan TBC-RO di antara pendamping komunitas dan anggota organisasi penyintas TBC, dalam rangka pemberdayaan dan advokasi terkait perawatan dan pengobatan TBC yang berpusat pada pasien. Mengingat estimasi kasus TBC di tahun 2022 sebanyak 969.000 kasus dengan 28.000 kasus terkonfirmasi resisten obat (TBC-RO). Berdasarkan Global TB Report 2022, kondisi ini menempatkan Indonesia berada pada posisi ke-2 dunia setelah India.


Acara tersebut dimulai dengan pembukaan dan sambutan yang dilakukan oleh dr. Nurul H.W Luntungan selaku Ketua Pengurus Yayasan STPI. Beliau menyampaikan harapannya agar literasi pendamping pasien TBC-RO bisa meningkat serta diharapkan bisa melakukan advokasi untuk melaksanakan regimen baru TBC-RO yang saat ini masih belum tersedia di seluruh Indonesia.


dr. Tiffany Tiara Pakasi, MA selaku Plt. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular mengatakan bahwa acara tersebut sangat penting dan strategis, terkhusus sebagai potensi modal untuk eliminasi TBC. “Penyintas TBC yang melakukan pendampingan tidak hanya sekedar mengawasi saja, tetapi juga memberikan pengalamannya kira-kira apa yang bisa dishare, dibagikan untuk memotivasi serta membantu menjembatani bagi keluarga pasien yang diperiksa untuk Investigasi Kasus agar bisa mendapatkan TPT”, ujarnya.


Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan sesi paparan oleh narasumber yang terdiri dari beberapa tokoh, diantaranya: dr. Tiffany Tiara Pakasi, MA; Barry Adhitya; dr. Retno Kusumadewi, MPH; dr. Erlina Burhan, Sp.P(K); dr. Meilina Farika, M.Epid dan Rachmat. Paparan pertama mengenai situasi TBC di Indonesia yang disampaikan oleh dr. Tiffany Tiara Pakasi, MA. Beliau menerangkan perbandingan antara indikator dan capaian program TBC-RO di Indonesia, berdasarkan indikator cakupan pengobatan TBC-RO terdapat 25% capaian dari 70% target, sementara persentase pasien TBC-RO yang memulai pengobatan sebanyak 56% capaian dari 93% target dan indikator terakhir adalah angka keberhasilan pengobatan sebanyak 49,3% capaian dengan 80% target. Dapat disimpulkan bahwa target capaian tersebut masih belum sesuai harapan yang telah ditetapkan.


Paparan kedua mengenai implementasi pendampingan dan dukungan komunitas untuk Pasien TBC-RO yang disampaikan oleh Barry Adhitya selaku Program Manager PR Konsorsium Penabulu-STPI. Beliau menegaskan bahwa peran utama komunitas adalah mendukung layanan kesehatan dari sisi pendampingan pasien dan penemuan kasus TBC. Dalam praktik di lapangan, terdapat beberapa kendala yang dialami oleh Manajer Kasus (MK) maupun Patient Supporter (PS) selama pendampingan seperti Lost to Follow Up atau pasien mangkir. Namun, seiring berjalannya waktu terdapat 9.657 dampingan yang berhasil dipantau sejak 2018-2022 dengan hasil 72% masih dalam pengobatan dan 15% dinyatakan selesai pengobatan (sembuh dan lengkap) sisanya ada yang pindah (1%), mangkir (3%), gagal pengobatan (2%), meninggal (6%) dan belum mulai pengobatan (1%).


Pada sesi selanjutnya dr. Retno Kusumadewi, MPH yang menyampaikan tentang Diagnosis terbaru TBC-RO dan Panduan Pengobatan TBC-RO yang tersedia di Indonesia. Ia menyampaikan WHO telah membuat modul yang merekomendasikan LF-LAM untuk menegakkan diagnosis pada TBC aktif. Selain itu, pada negara low-and middle-income direkomendasikan untuk menggunakan IGRA sebagai deteksi TBC laten. Selain itu, WHO juga merekomendasikan pengobatan 6 bulan dengan bedaquiline, pretomanid, linezolid and moxifloxacin (BPaLM) regimen pada pasien TBC-RO.


Paparan keempat disampaikan oleh dr. Erlina Burhan, Sp.P(K) dengan tema update hasil riset operasional/clinical trial dan paduan pengobatan BPaL di Indonesia. Di Indonesia terdapat 3 jenis paduan dalam pengobatan TBC-RO yaitu paduan jangka pendek, paduan jangka panjang dan yang terbaru adalah paduan BPaL (Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid). Paduan BPaL sendiri memiliki jangka waktu pengobatan yang relatif cepat yaitu 6 hingga 9 bulan, paduan ini hanya bisa diberikan pada pasien TBC-RO dengan kriteria yang telah ditentukan.


WHO mengeluarkan rekomendasi penggunaan paduan BPaL (Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid) untuk pengobatan TBC-RO dalam tatanan penelitian operasional, khususnya untuk pengobatan TBC-RO yang intoleran, kasus gagal pengobatan TBC-RO dan TBC pre-XDR. Penelitian operasional ini baru diimplementasikan di 15 lokasi dengan kriteria pasien berusia > 18 tahun, berat badan > 35 Kg, terkonfirmasi TBC RR/MDR dalam 3 bulan terakhir dan telah menerima pengobatan lini dua namun tidak ada respon serta tidak intoleran terhadap pengobatan, terbukti resisten pada rifampisin dan fluorokuinolon dalam 3 bulan terakhir dan memiliki bukti klinis dan radiologis sebagai TB aktif dan kontak erat serumah serta bersedia patuh menjalani pengobatan.


Hasil dari penelitian ini adalah diantara 62 pasien yang eligible terdapat 4 diantaranya yang dinyatakan sembuh dalam jangka waktu 6 bulan pengobatan yang dimulai dari Juli 2022 hingga Januari 2023. Dalam praktiknya sendiri dr. Erlina mengakui bahwa perlu peran dari komunitas untuk bisa memantau pengobatan pasien agar selesai, “Sejauh ini pengobatan BPaL masih cukup baik, namun demikian perlu peran dari komunitas untuk pendampingan hingga pengobatan selesai”, tambah dr. Erlina saat menutup paparannya.


dr. Meilina Farika, M.Epid selaku penanggung jawab program TBC RO Tim Kerja TBC nasional menyampaikan bahwa pengobatan BPaL di Indonesia masih belum bisa diterapkan pada pertengahan tahun ini. “Meskipun penelitian operasionalnya sudah ada dan menunjukkan hasil yang baik, namun untuk mengimplementasikan pada program nasional perlu adanya persiapan yang matang”, pungkas beliau. dr. Mei juga menambahkan bahwa program BPaL dan BPaLM harus terus dipantau perkembangannya karena tatalaksana pengobatan TBC-RO berpusat pada pasien (Patient-Centered Approach). Sebagai penutup, perwakilan dari POP TB Indonesia Bapak Wahyu Hidayat selaku Manajer Kasus (MK) di Tulungagung menerangkan pasien-pasien TBC-RO yang menjalani pengobatan perlu diperhatikan juga efek samping yang dirasakan.


Kesimpulan dalam lokakarya ini adalah paduan BPaL dan BPaLM yang telah direkomendasikan oleh WHO sangat membantu dalam jangka waktu pengobatan yang relatif cepat yaitu 6 bulan. Perlu adanya dukungan dari komunitas untuk mendampingi pasien dalam pengobatan agar selesai dan tuntas. Selain itu, pendamping pasien dan seluruh pihak termasuk organisasi pasien dan mitranya perlu melakukan advokasi dan memberikan informasi yang masif lagi agar paduan baru ini bisa segera diterapkan secara nasional. Namun demikian, juga perlu memantau perkembangan pengobatan BPaL yang berfokus pada pasien agar bisa meminimalisir beberapa kemungkinan yang terjadi di masa yang akan datang seperti efek samping obat, pasien lost to follow up, gagal pengobatan, meninggal hingga belum mau untuk memulai pengobatan.


“Pendamping komunitas perlu memperkuat pendampingannya terkhusus pada pasien TBC-RO sehingga angka lost to follow up bisa diperkecil dan angka keberhasilan pengobatan bisa meningkat”, tambah dr. Henry Diatmo, MKM selaku Direktur Eksekutif STPI.





376 tampilan0 komentar

Comments


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

bottom of page