top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Investing Right, Investing Now to End Tuberculosis


Tonton acara di Youtube Kemenkes RI


New York, Kamis, 21 September 2023 – Di sela-sela Pertemuan Tingkat Tinggi Tuberkulosis (High Level Meeting/HLM TB) Majelis Umum PBB (UN GA) ke-78, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Polandia bekerja sama dengan Stop TB Partnership dan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) menyelenggarakan sebuah side event yang bertajuk, “Investing Right, Investing Now to End Tuberculosis”. Acara ini diadakan satu hari sebelum pertemuan HLM TB PBB dan berhasil membangun antusiasme mengenai bagaimana pemangku kepentingan global dan nasional dapat berkolaborasi dalam mewujudkan eliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030.


Dalam sambutan pembukaannya, Lucica Ditiu, Direktur Eksekutif Stop TB Partnership menyebutkan, “Tuberkulosis adalah penyakit yang membahayakan semua orang, penyakit yang ditularkan melalui udara yang menyerang semua negara. Saat ini, kita berada pada momen dimana – dengan alat-alat baru, obat-obatan, dan kandidat vaksin yang potensial – kita benar-benar dapat melihat akhir dari epidemi ini. Namun kita perlu memastikan bahwa hal ini tersampaikan kepada masyarakat dan orang-orang yang terkena dampak TBC dan, oleh karena itu, kita memerlukan kesadaran dan sumber daya. Alat yang kita miliki saat ini tidak hanya membantu dalam mendiagnosis TBC tetapi juga penyakit lainnya dan dapat memperkuat layanan kesehatan primer. Dalam mewujudkan upaya kita untuk mencapai target dalam deklarasi politik, kita perlu berpikir secara cerdas dalam investasi kita untuk menanggulangi TBC.”


Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, menyampaikan kepada hadirin, “Ada keterkaitan yang erat antara Kesehatan dan Politik Luar Negeri. Tuberkulosis masih merupakan bahaya bagi masyarakat kita dan mencerminkan kesenjangan global dengan meningkatnya kasus TBC di negara-negara berkembang. TBC dan kemiskinan adalah lingkaran setan, oleh karena itu, mengakhiri TBC adalah sebuah investasi bagi Pembangunan. Kita harus meningkatkan ketahanan di masyarakat, meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, meningkatkan kesadaran kesehatan, dan berinvestasi dalam terobosan-terobosan seperti vaksin TBC.”


Menteri Budi G. Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia menyampaikan, “TBC berada di antara kita selama berabad-abad. Saat ini, TBC masih membunuh lebih dari 4000 orang setiap hari. Eksekusi menjadi kunci untuk memastikan investasi dalam upaya mengakhiri epidemi ini berjalan optimal. Namun, kita perlu berupaya bersama-sama. Saya sangat mengapresiasi seluruh komunitas dan mitra yang mempunyai visi yang sama untuk mengakhiri TBC. Mari kita tuliskan babak baru tentang bagaimana kita mengakhiri TBC pada tahun 2030.”


Diskusi panel dimoderatori oleh Nurul Luntungan, Ketua Yayasan STPI, bersama Norbert Ndjeka (Kepala Direktur Pengendalian dan Penanggulangan TBC Kementerian Kesehatan Afrika Selatan), Maxi Rein Rondonuwu (Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan Indonesia), Katarzyna Drążek-Laskowska (Direktur Biro Kerja Sama Internasional dari Kementerian Kesehatan Polandia), Timur Abdullaev (Anggota Dewan TB People Global), dan Tereza Kasaeva (Direktur Program Tuberkulosis WHO). Diskusi panel ini menggarisbawahi perlunya investasi yang komprehensif. TBC tidak dapat diatasi dengan solusi yang terfragmentasi. Selain itu, diperlukan keterlibatan masyarakat yang bermakna mulai dari penelitian dan pengembangan untuk inovasi, pengujian, pengobatan, dan pencegahan TBC yang efektif dalam skala besar.


Salah satu panelis, Maxi Rein Rondonuwu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan, “Investasi pada penelitian dan pengembangan TBC khususnya vaksin TBC baru dapat mempercepat pemberantasan epidemi ini. Kita juga perlu berinvestasi pada layanan kesehatan dasar dan penguatan sistem kesehatan dimana TBC terintegrasi dalam berbagai program kesehatan agar berpusat pada masyarakat. Terakhir, kita perlu berinvestasi dalam memperkuat kapasitas kelembagaan pemerintah daerah untuk merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi intervensi lokal untuk memastikan setiap orang yang terkena TBC mendapatkan pelayanan yang berkualitas dan terjangkau”.


Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang melibatkan sektor swasta, mitra pembangunan, dan filantropi. Pembahas yang terlibat dalam side event ini adalah Nina Russell (Direktur TB & Pencegahan dari Gates Foundation), Shadiq Akasya (Presiden Direktur Biofarma), Bience Gawanas (Wakil Ketua Dewan Global Fund), Pandu Harimurti (Senior Health Specialist dari Bank Dunia), Cheri Vincent (Kepala Divisi TB USAID), dan Suvanand Sahu (Wakil Direktur Eksekutif Stop TB Partnership).


Bience Gawanas, Wakil Ketua Dewan Global Fund menekankan, “Investasi bukan hanya soal uang. Saat kita berinvestasi untuk masa depan, kita perlu mendengarkan masyarakat. Mereka yang terkena TBC adalah manusia yang mempunyai hak yang sama seperti kita semua. Orang dengan TBC merupakan kelompok yang paling terpinggirkan dan rentan di masyarakat, mereka juga menghadapi hambatan dalam mengakses layanan kesehatan yang bisa menyelamatkan jiwa mereka. Kita perlu ingat bahwa berinvestasi lebih banyak untuk penanggulangan TBC akan menyelamatkan jutaan nyawa, termasuk anak-anak.”


Sebagai penutup acara, Nurul Luntungan, Ketua Yayasan STPI, menyimpulkan, “Tidak ada keraguan bahwa kita perlu mengoptimalkan investasi kita untuk TBC. Sementara negara-negara anggota dan organisasi internasional mengisi kesenjangan investasi, kita perlu memfokuskan pekerjaan kita di lapangan untuk memastikan pelaksanaan yang efektif dan tepat waktu untuk mengakhiri TBC dengan benar.”


Untuk proceeding kegiatan ini, bisa dilihat di sini

102 tampilan0 komentar

Comentários


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

bottom of page