Hebatnya Kader TBC Desa Menemukan Orang dengan Gejala TBC, Yuk Lihat Hasilnya!



Lombok Barat – Tuberkulosis (TBC) tidak akan ada habisnya untuk dibicarakan, salah satunya mengenai Suspek TBC. Suspek TBC merupakan seseorang yang tersangka TBC dengan gejala batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak jelas penyebabnya. Diperkirakan suspek TBC jauh lebih banyak dibandingkan kasus positif TBC. Berdasarkan hal ini Stop TB Partnership Indonesia (STPI) mengusung kegiatan sosialisasi dan skrining tuberkulosis yang dilaksanakan di Desa Sandik, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat dan Desa Sesela, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat.


Desa Sandik merupakan daerah pinggiran lokasi pariwisata serta memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, bahkan penduduknya bercampur antara penduduk lokal dan pendatang sehingga menjadikan Desa Sandik sebagai desa penyumbang terbesar angka temuan kasus tuberkulosis di Kecamatan Batu Layar. Pada 2019 terdapat 21 kasus TBC di Desa Sandik dan 11 kasus pada 2020. Sementara itu, Desa Sesela memiliki karakteristik struktur wilayah yang sangat padat, baik dari penduduk dan lingkungannya seperti rumah tempat tinggal yang tidak memiliki ventilasi udara yang memadai, serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat yang masih rendah sehingga Desa Sesela menjadi tempat berisiko tinggi terjadinya penularan TBC. Berdasarkan dataPuskesmas Sesela, periode Juni – Juli 2021 telah ditemukan 11 kasus TBC.


Kegiatan sosialisasi tuberkulosis bertujuan untuk memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat terkait penyakit tuberkulosis yang terdiri dari cara penularan, pengobatan dan pencegahannya. Sementara skrining tuberkulosis bertujuan untuk deteksi dini kejadian tuberkulosis bagi yang memiliki gejala seperti tuberkulosis. Kegiatan ini akan dilakukan setiap minggunya di Desa Sesela dan Desa Sandik yang pelaksanaanya dimulai sejak 11- 30 September 2021. Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat Desa Sandik dan Desa Sesela yang melibatkan Kader TBC, Puskesmas Meninting, Puskesmas Sesela dan pemerintah setempat.



Pelaksanaan sosialisasi dan skrining yang dilakukan di Desa Sesela sudah dua kali. Pada minggu pertama (9/09) kegiatan dilakukan di salah satu rumah warga yang berada di BTN Panorama Alam Sesela yang dihadiri 15-16 orang. Namun, pada pelaksanaan sosialisasi dan skrining di Dusun Cengok (12/09), ada 29 warga yang hadir. Kegiatan yang sama di Desa Sandik dilakukan di Dusun Kayangan dan warga yang menghadiri sosialisasi sebanyak 26 orang. Rangkaian kegiatan dimulai dari sosialisasi mengenai tuberkulosis dahulu yang

kemudian dilakukan proses skrining pada peserta.


Total keseluruhan yang ditemukan pada kegiatan skrining sebanyak 7 suspek TBC. Dari hasil skrining yang dilakukan di Desa Sesela ditemukan 4 suspek TBC. Temuan ini ditindaklanjuti oleh kader TBC dengan menyerahkan pot dahak ke suspek TBC untuk pengambilan sputum. Dari 4 suspek TBC tersebut, 3 suspek telah menyerahkan sputum ke kader TBC untuk diperiksakan ke puskesmas, namun 1 masih belum memberikan sputumnya. Sesuai hasil pemeriksaan puskesmas, 2 sputum hasilnya negatif dan 1 belum ada hasil pemeriksaan.


Di Desa Sandik, temuan suspek TBC dari hasil skrining yang dilakukan oleh kader TBC sebanyak 3 suspek TBC. Salah satu suspek adalah ibu hamil berusia 35 tahun. Namun setelah 2 kali pemeriksaan sputum hasilnya negatif. Menurut Zulfi Wirman Hadi, PJ TB Puskesmas Meninting, batuk yang dialami oleh ibu hamil tersebut disebabkan faktor kehamilannya bukan karena TBC. Sementara itu, 2 suspek TBClain masih belum menyerahkan sampel dahaknya bahkan tidak mengambil pot dahak yang telah disediakan saat kegiatan sosialisasi dan skrining. Hal ini membuat kader TBC Desa Sandik menyerahkan secara langsung ke rumah suspek tersebut agar dapat segera ditindaklanjuti.




Permasalahan yang dialami ketika pelaksanaan sosialisasi dan skrining di Desa Sesela dan Desa Sandik adalah masih tingginya stigma tuberkulosis yang terjadi di masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan pot dahak yang tidak diambil oleh suspek TBC. Masyarakat merasa malu bila mengambil pot dahak saat kegiatan berlangsung. Hal ini diperjelas oleh Staf Lapangan STPI di Lombok Barat, “…waktu melakukan sosialisasi, masyarakat sedikit malu untuk mengambil pot dahak, jadi kader yang menyerahkan secara langsung pot dahak ini ke masing-masing yang memiliki gejala TBC”. Berdasarkan keterangan dari Lalu Hadi Irawan selaku Staf Lapangan STPI di Lombok Barat, strategi yang dilakukan agar tetap menjaring suspek TBC adalah kader TBC mengantarkan pot dahak secara langsung ke rumah suspek TBC sehingga suspek TBC tidak lagi merasa malu. Diharapkan kedepannya kegiatan ini dapat terus berlanjut dan dapat menjaring suspek TBC lebih banyak lagi di Desa Sesela dan Desa Sandik.