top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2023: Perokok Lebih Rentan Tertular TBC


Setiap tanggal 31 Maret selalu diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). World Health Organization (WHO) memperingatkan hari tersebut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait dampak buruk konsumsi tembakau. Pasalnya, tembakau dan produknya berdampak buruk bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Tema HTTS tahun 2023 adalah “Kita butuh makanan, bukan tembakau” dengan tujuan mengekspos upaya industri tembakau yang mengganggu upaya penggantian penanaman tembakau dengan tanaman yang berkelanjutan. Hal ini tentu dapat berkontribusi secara positif terhadap krisis pangan global.


Tidak hanya mengganggu krisis pangan global, tembakau yang telah diproduksi sebagai bahan konsumsi dalam jenis rokok juga memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi pernapasan dan imunitas tubuh yang rendah, terutama dalam melawan penyakit termasuk Tuberkulosis (TBC). Rokok yang dikonsumsi akan mengeluarkan asap yang merupakan bagian-bagian dari partikel kecil yang dapat mengiritasi tenggorokan dan paru-paru, serta menyebabkan orang menghasilkan lebih banyak lendir dan merusak jaringan paru-paru.


Hubungan antara merokok dan TBC yang telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian dengan etnik populasi yang berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Naini, et al (2012) menunjukkan bahwa perokok memiliki peluang 3 kali lipat lebih tinggi untuk mengalami TBC dibandingkan yang tidak merokok. Hal ini berkaitan dengan sistem tubuh yang melemah disaat seseorang aktif merokok. Diketahui bahwa terdapat penurunan jumlah CD31, CD91 dan CD44 dan penurunan fagositosis sel epitel pada paru-paru sehingga daya tahan tubuh semakin rendah (Quan, et al. 2022).


Dari sisi kebiasaan merokok sendiri, penelitian Ageng dalam Ibrahim, V (2019) menemukan bahwa 85 orang dengan tuberkulosis terdapat 43 orang perokok dengan hasil 29 orang BTA (+) dan 14 orang BTA (-). Gaya hidup merokok tersebut menjadi faktor risiko untuk seseorang sakit TBC, sehingga sangat berkaitan hubungannya merokok dengan kejadian TBC.


Salah satu cara untuk bisa terhindar dari tingginya risiko TBC pada perokok adalah berhenti merokok dibarengi dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Pada dasarnya perokok yang tidak terpapar bakteri TBC tidak akan tertular TBC, namun sangat disarankan berhenti merokok untuk memaksimalkan kesehatan tubuh terutama sistem imunitas. Selain itu, kebijakan seputar tembakau dari WHO menyarankan bahwa untuk mengenakan pajak tinggi atas penjualan rokok dan produk tembakau lainnya agar tidak terjangkau bagi banyak orang, terutama anak muda.


Kebijakan kenaikan cukai rokok sangat penting dan bisa berpengaruh terhadap perilaku perokok yang merupakan faktor risiko TBC. Jika cukai rokok ditingkatkan, harapannya perokok aktif, terutama kelompok usia produktif, bisa menyimpan dana yang dikeluarkan untuk membeli rokok dan menggunakannya untuk keperluan esensial lainnya. Dampak lain dari menaikkan cukai rokok, secara tidak langsung, adalah mengurangi perilaku merokok yang menjadi faktor risiko seseorang sakit TBC. Mengurangi perokok tentunya akan membantu pencapaian target eliminasi TBC 2030.


14 tampilan0 komentar

Комментарии


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

bottom of page