Alat Kontrasepsi yang Cocok untuk Pasien TBC


Sumber: freepik.com

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi momok di dunia. Pasalnya, TBC tergolong sebagai 10 penyakit mematikan tertinggi di dunia. Di Indonesia sendiri, TBC berada pada posisi ke-3 setelah India dan Cina. Diestimasikan terdapat 824 ribu kasus TBC dengan kematian 98 ribu jiwa pertahun atau setara dengan 11 orang kematian per jam di tahun 2021.


Dibalik angka yang tinggi, sebenarnya TBC dapat disembuhkan dengan antibiotik tertentu yang disebut Obat Anti Tuberkulosis (OAT) diantaranya adalah Rifampicin dan Isoniazid. Namun demikian, terdapat beberapa efek samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang sering dialami Orang dengan TBC selama pengobatan.


Efek samping ringan seperti mual, pusing dan demam merupakan hal yang umum terjadi pada Orang dengan TBC dan efek samping tersebut cenderung hilang dengan sendirinya. Namun, apabila merasakan beberapa efek samping yang berat seperti mata menguning, nyeri atau bengkak pada sendi dan hilangnya pendengaran, maka pasien harus segera periksa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.


Selain itu, konsumsi OAT khususnya bagi para perempuan perlu diperhatikan interaksinya dengan obat lain, seperti kontrasepsi contohnya. OAT berjenis Rifampicin juga dapat berinteraksi dengan obat Pil KB. Cara kerja obat Pil KB yaitu mempengaruhi produksi hormon estrogen dan progesteron sehingga akan menghambat proses ovulasi, sementara cara kerja Rifampisin berlawanan dengan obat pil KB. Rifampicin dapat menghambat proses kerja obat pil KB karena terdapat enzim hepatik yang mampu menurunkan efektivitas kerja obat pil KB.


Tidak hanya pil KB, namun semua jenis kontrasepsi hormonal lainnya, seperti suntik KB dan implan. Oleh sebab itu, apabila Orang dengan TBC sedang menjalani pengobatan dan menggunakan alat kontrasepsi, sebaiknya menggunakan alat kontrasepsi non-hormonal seperti IUD atau kondom. Namun, pasien dapat tetap berkonsultasi dengan dokter jika tetap ingin menggunakan KB hormonal.


Berdasarkan penjelasan dari tuberkuloosi.fi Orang dengan TBC sangat disarankan untuk menunda kehamilan selama menjalani pengobatan karena OAT dapat berpengaruh terhadap janin dan beberapa diantaranya tidak aman selama kehamilan. Selain itu, Orang dengan TBC yang sedang menjalani pengobatan dianjurkan untuk fokus pada pengobatannya sesuai dengan anjuran dokter agar tidak meningkatkan penularan kepada orang sekitar dan risiko mengalami resisten obat.