Arifin Panigoro

Ketua Forum STOP TB PARTNERSHIP Indonesia.

FSTPI

Wamenkes Prof.Dr.Ali Ghufron Mukti, M.Sc. Ph.D melakukan pemukulan gong menandai Kick Off FSTPI.

Kick Off

Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI).

FSTPI

Komitmen Bersama dalam Penanggulangan TB di Indonesia, Istana Wapres 15 Maret 2017

Rekomendasi

Ketua FSTPI menyerahkan rekomendasi penanggulangan TB 2017 kepada Pemerintah melalui Wakil Presiden RI.



KETUA PERSI DR. KUNTJORO AP, M.KES: RUMAH SAKIT HARUS BERPIHAK PADA HAK-HAK PASIEN TB

Kegiatan preventif dan promotif serta penerapan strategi pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung (Directly Observed Treatment Short-Course/DOTs) atas penyakit Tuberkulosis (TB) diharapkan menjadi perhatian serius setiap rumah sakit. Pemanfaatan teknologi juga menjadi sesuatu keniscayaan. Karena itu, pemilik dan manajemen rumah sakit perlu didorong untuk terus memberikan pelayanan berkualitas guna mewujudkan hak-hak pasien TB dalam mendapatkan edukasi TB serta pengobatan yang benar dan tepat waktu.

“Tentu tak ada alasan bahwa obat TB di rumah sakit habis sehingga pasien tak bisa terlayani. Prinsipnya, penanganan pasien TB tak bisa ditunda. Jangan sampai RS, Puskesmas, atau klinik ikut berperan membuat pasien resisten obat atau drop out,” demikian Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dr. Kuntjoro AP, M.Kes di ruang kerjanya, di kantor PERSI, Jakarta, Rabu (11/1/2017).

Kepada tim CEPAT-LKNU, Ketua Umum PERSI Periode 2015-2018 ini menyatakan sangat mengapresiasi komitmen semua pihak, terutama lembaga swadaya masyarakat, swasta, dan komunitas yang begitu peduli dalam memberantas TB di Indonesia, seperti yang terus digelar oleh Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI), CEPAT-LKNU, dan CCPHI.

“Saya merasa terpanggil melihat antusiasme teman-teman dalam memberantas TB ini. Total 2.500 rumah sakit di bawah naungan PERSI dari 16 asosiasi akan saya dorong menjadikan pelayanan TB sebagai prioritas dengan memasukkannya sebagai program. Saya berharap, PERSI dan FSTPI terus berkomunikasi sehingga ada kontribusi nyata yang bisa dilakukan,” kata eyang dari satu cucu bernama Array Arya Anantasena ini.

Ia juga berjanji akan mencoba memasukkan pelayanan TB sebagai regulasi atau salah satu syarat untuk pemberian akreditasi terhadap rumah sakit-rumah sakit.

Untuk diketahui, sebelum dipercaya mengabdi di Kementerian Kesehatan dan sekarang di PERSI, dr Kuntjoro memiliki banyak pengalaman terkait kondisi penanganan TB di RS daerah dan di Puskesmas yang cukup memprihatinkan. Selain mengabdi di PERSI, dr Kuntjoro juga menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi. Ayah dari Intan Kusuma Wardhani (33) dan Danang Adiputra (26) \ mengusulkan, Dewan Ketahanan Nasional (DKN) mengeluarkan deklarasi, “TB mengancam ketahanan nasional”. “Sebagai contoh, ketika DKN mengeluarkan statement, alutsista tidak boleh dibeli dari luar dan harus dibuat dalam negeri, semua nurut! Nah, jika DKN declare bahwa TB mengancam ketahanan nasional, gaungnya akan besar. Rumah sakit nurut, menterinya nurut, semua manut. Itu mesti kita dorong bersama-sama,” kata suami dari Sri Rahayu ini.

Dokter kelahiran Malang ini, yang genap berusia 61 tahun pada 17 Januari 2017, melihat pemanfaatan teknologi menjadi keharusan. Tak mengherankan, di kantor PERSI kini sedang dibangun ruang webinar untuk telekonferensi jarak jauh dengan sejumlah cabang PERSI di daerah-daerah. Kuntjoro meyakini, dengan teknologi, pemberantasan TB akan lebih berkualitas, termasuk dalam pelaporan dan perekaman data. (*)

Sumber dari : Newsletter kemitraan TB edisi 3


Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK.01.07/MENKES/350/2017 tentang Rumah Sakit dan Balai Kesehatan pelaksana layanan Tuberkulosis resisten obat.

Untuk mendownload file silahkan disini :
www.tbindonesia.or.id

Sumber dari : http://www.tbindonesia.or.id/2017/08/15/keputusan-menteri-kesehatan-republik-indonesia-nomor-hk-01-07menkes3502017-tentang-rumah-sakit-dan-balai-kesehatan-pelaksana-layanan-tuberkulosis-resistan-obat/

Merokok, Tak Ada Untung Banyak Sengsaranya



Begitulah kiranya kesimpulan dari banyak ungkapan penderita masalah kesehatan, seperti kanker laring, TBC, kanker paru-paru, sakit jantung, komplikasi hingga berujung kematian akibat merokok. Semuanya diakui oleh penderita sebagaimana dalam buku Kita Adalah Korban dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dan Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia.

Menurut data WHO, Indonesia merupakan Negara ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Peningkatan konsumsi rokok berdampak pada makin tingginya beban penyakit akibat rokok dan bertambahnya angka kematian akibat rokok. Tahun 2030 diperkirakan angka kematian perokok di dunia akan mencapai 10 juta jiwa dan 70% di antaranya berasal dari Negara berkembang.

Menteri Kesehatan RI periode 2012-2014 Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, M.P.H mengatakan tokoh yang bercerita dalam buku tersebut adalah wajah yang berjuang demi kesehatan masyarakat Indonesia. Mereka merupakan sedikit dari saksi hidup yang bisa berkisah betapa berharganya waktu yang dihabiskan hanya untuk rokok.

'Buku ini adalah wajah dari data yang selama ini tidak terlihat oleh mata kita, di dalamnya bercerita tentang bagaimana rokok telah mampu mengalahkan cinta, memisahkan mereka yang bersatu karena kasih sayang, dan kehilangan orang yang dicintai,' kata dr. Nafsiah di Jakarta.

Kebanyakan dari mereka menderita penyakit parah setelah sekian lama merokok. Promotor Musik Jakarta Adrie Subono misalnya, ia merokok sejak usia 13 tahun sebanyak satu sampai dua bungkus sehari. Di usia 58 tahun ia menderita serangan jantung akibat merokok.

'Saya berhenti merokok Tahun 2011 di usia 58. Artinya, saya diperbudak rokok selama 45 tahun. Jantung saya bermasalah dan harus operasi dengan memasang lima ring,' kata Adrie Subono di Jakarta.

Begitupun dengan penyanyi asal Jakarta Chrismansyah Rahadi atau lebih dikenal Chrisye (Alm), ia menderita TBC tulang dan kanker paru-paru setelah lama merokok sejak di bangku SMA. Bahkan saking sudah kecanduannya, Alm. Chrisye berhalusinasi sedang merokok ketika menjalani pengobatan kanker.

'Sewaktu berobat sebulan di Singapura, Chrisye kerap mengigau seperti sedang merokok, padahal tidak ada apa-apa di tangannya. Barangkali saking kecanduannya, racun nikotin menagih ketika dia sudah berhenti merokok,' kata istri Alm. Chrisye, Gusti Firoza Damayanti Noor di Jakarta.

Muncul stigma di masyarakat bahwa merokok itu menghilangkan stres, padahal sama sekali tidak ada pengaruh. Gusti Firoza mengaku dirinya memilih menghisap rokok jika stres, namun itu tidak berpengaruh sedikitpun. Yang ia rasakan justru kecanduan dan menjadi perokok berat.
Waktu itu banyak yang saya hadapi sehingga saya lari ke rokok. Padahal itu tak benar. Stres juga tak hilang dengan merokok tak membuat saya jadi tenang. Pokoknya rokok tak menolong apa-apa, apalagi menghilangkan masalah, katanya.

Ada 23 tokoh lainya dalam buku tersebut yang menceritakan kesakitan akibat merokok dengan penyakit yang mematikan dan pengalaman yang mengerikan. Seperti tersumbatnya tiga pembuluh darah ke jantung yang dialami Bassist God Bless Donny Fattah Gagola. Kondisi tiga saluran darahnya 90% rusak. Selain itu pemasangan alat bantu pernapasan dan kantung oksigen karena jantung dan paru-paru sudah tidak berfungsi akibat tertumpuk nikotin. Itu dialami oleh karyawan swasta Mikrad Masduki (Alm).

Di samping itu, rokok juga berbahaya bagi perokok pasif. Koki dari Surabaya Ike Wijayanti terkena kanker laring akibat paparan asap rokok. Ia mengaku tidak memiliki pita suara sehingga tak bisa berbicara.

'Di rumah tak ada anggota keluarga yang merokok. Ayah ibu tak merokok, suami juga. Saya menghisap asap rokok orang lain di tempat kerja. Saya bekerja jadi koki di sebuah restoran di Surabaya. Namanya dapur umum orang banyak di sana dan merokok. Sepuluh tahun saya bekerja di sana sampai dinyatakan terkena tumor laring oleh dokter,' kata Wijayanti.

Hal serupa dialami Wiraswasta asal Bogor Zainudin. Ia kehilangan pita suaranya pada usia 23 tahun. Selain itu banyak pula biaya yang dikeluarkan oleh keluarga.

Agar tidak mengalami hal serupa, mereka mengingatkan kepada generasi muda agar berhenti dan tidak merokok. Karena dampak merokok tidak hanya pada kesehatan, namun pada keberlangsungan kesejahteraan hidup rakyat Indonesia.

sumber : www.depkes.go.id

Lima Negara Komit Wujudkan
Masyarakat Bebas TB



Menteri Kesehatan dari Indonesia, India, Afrika Selatan, Nigeria, dan Mozambik berkomitmen dan mendukung kuat penanggulangan tuberkulosis (TB). Dukungan tersebut dinyatakan dalam sesi High Level Ministerial Panel dalam rangka pertemuan Dewan Koordinasi Stop TB Partnership ke-29 di Rocco Forte Hotel da Rome, Berlin, Jerman, Kamis (18/5).

Menteri kesehatan dari ke 5 negara ini memberikan masukan dan berbagi pengalaman tentang inovasi dan kepemimpinan dalam Penanggulangan TB menuju masyarakat bebas TB. Selain itu, menyampaikan masukan dan harapan untuk pertemuan United Nations General Assembly High Level Meeting (UNGA HLM) on TB.

Sesi panel dilanjutkan dialog dengan wakil-wakil komunitas terdampak TB dan mitra pemerintah. Dengan pendekatan dialog ini diharapkan akan dicapai kesamaan harapan, misi dan visi untuk mengakhiri TB antara pemerintah dan komunitas terdampak TB.

Malam harinya, diselenggarakan diskusi panel 3 Menteri Kesehatan, yakni dari Indonesia, Afrika Selatan dan India. Topik yang dibahas terkait peran pemimpin Group of Twenty (G20) dalam mengakhiri masalah kejadian resistensi obat TB. Dalam panel tersebut, Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. dr. Nila F Moeloek, SpM(K) menggarisbawahi pentingnya dukungan dan peran serta semua sektor, segenap mitra, dan seluruh lapisan masyarakat termasuk komunitas terdampak TB, dalam mensukseskan Penanggulangan TB menuju Dunia Bebas TB.

Menkes Nila Moeloek mengatakan Indonesia telah berusaha keras menyikapi berbagai tantangan dalam penanggulangan TB. Terkait geografis Indonesia misalnya, yang berbentuk kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, sementara program kesehatan harus merata ke seluruh wilayah Indonesia. Dinyatakan pula bahwa Indonesia telah memperbaharui strategi Penanggulangan TB melalui edukasi pendekatan keluarga dengan kunjungan ke rumah untuk menemukan dan mengobati pasien TB.

Selain itu, dilakukan pula kerjasama lintas sektor pemerintah dan swasta, memanfaatkan alat pemeriksaan TB mutakhir yang lebih sensitif, menerapkan paduan pengobatan TB yang lebih pendek, serta melakukan penelitian pembuatan vaksin TB yang bisa mencegah penularan TB pada anak dan dewasa.

Di sela-sela pertemuan Stop TB Partnership dilakukan pula pertemuan bilateral antara Menkes RI dan Menkes Singapura untuk membahas berbagai aspek kerjasama di bidang kesehatan antara Indonesia dan Singapura. Di samping itu juga melakukan kunjungan kerja ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin serta melakukan pembicaraan dengan Duta Besar RI untuk Jerman. Kunjungan kerja Menkes RI di Berlin dilanjutkan dengan kegiatan mengikuti G20 Ministerial of Health Meeting pada 19 20 Mei 2017.

sumber : www.depkes.go.id

Penyakit Tuberkulosis dapat Dicegah dan Disembuhkan



Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso dalam rangka memperingati hari Tuberkulosis (TB) sedunia dan HUT RSPI Sulianti Saroso ke-23 mengadakan Talkshow awam 'Menuju Indonesia Bebas Tuberkulosis', di Jakarta (11/4). Pada kesempatan tersebut disampaikan bahwa penyakit TB yang dapat menyebabkan 274 orang Indonesia meninggal dunia setiap harinya ternyata dapat disembuhkan.

'Penyakit TB dapat dicegah dan disembuhkan, tingkat keberhasilan pengobatan TB sensitif obat sebesar 84%. Sedangkan kasus TB yang kebal obat hanya 51%,' jelas Direktur Medik dan Keperawatan RSPI Sulianti Saroso, dr. Djani Kusumowardani, Sp.A.

Dijelaskan oleh dr. Djani bahwa untuk pengobatan penyakit TB kebal obat memerlukan waktu lebih lama dan menyebabkan efek samping serta memerlukan pembiayaan berlipat ganda dibandingkan pengobatan TB yang masih sensitif obat.

Lebih lanjut disampaikan oleh dr. Djani bahwa setiap satu kasus penyakit TB yang tidak diobati dapat menularkan kepada 10-15 orang selama satu tahun. Namun penyebaran kuman TB dapat dicegah dengan memberdayakan masyarakat, salah satunya, menurut dr. Djani adalah dengan membuat kegiatan atau lomba yang sifatnya mengedukasi masyarakat tentang TB.

'Lomba penyuluhan TB ini dilaksanakan untuk mendorong keikutsertaan masyarakat secara aktif untuk melawan TB lewat pencegahan, penemuan kasus, pengobatan yang teratur serta mengajak masyarakat untuk ikut aktif menyebarkan informasi dengan bekal yang benar,' ujarnya.

Sementara pada acara Talkshow, salah satu narasumber, dr. Desrinawati, Sp.A menyampaikan bahwa penyakit TB tidak hanya menyerang orang dewasa tapi juga menyerang anak-anak. Penularan penyakit TB pada anak biasanya didapatkan dari orang dewasa yang terkena penyakit TB.

Namun demikian, penularan TB pada anak dapat dicegah sedini mungkin. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi sejak anak lahir hingga usia 2 bulan.

'Pemberian vaksinasi BCG diberikan saat umur bayi 0-2 bulan untuk pencegahan BCG,' jelas dr. Desri.

Ditambahkan oleh dr. Desri, apabila di lingkungan rumah ada orang dewasa yang terkena TBC maka segera lindungi anak-anak dari penularan kuman TB dengan membawanya ke Puskesmas.

'Supaya anak tidak sakit TB, bawa dia ke Puskesmas atau ke dokter untuk memperoleh pencegahan agar anak tidak sakit TB,' demikian disampaikan oleh dr. Desri.

sumber : www.depkes.go.id