Arifin Panigoro

Ketua Forum STOP TB PARTNERSHIP Indonesia.

FSTPI

Wamenkes Prof.Dr.Ali Ghufron Mukti, M.Sc. Ph.D melakukan pemukulan gong menandai Kick Off FSTPI.

Kick Off

Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI).

FSTPI

Komitmen Bersama dalam Penanggulangan TB di Indonesia, Istana Wapres 15 Maret 2017

Rekomendasi

Ketua FSTPI menyerahkan rekomendasi penanggulangan TB 2017 kepada Pemerintah melalui Wakil Presiden RI.










Jakarta, 16 Januari 2018 — Kampanye TBC di seluruh wilayah Indonesia perlu gencar dilakukan secara terus-menerus agar target eliminasi TBC pada 2030 bisa tercapai. Beban penanggulangan penyakit menular ini dinilai begitu besar. Apalagi, Indonesia menjadi negara kedua dalam jumlah kasus TBC di dunia setelah India. Pemerintah dengan jajarannya dari pusat sampai ke daerah perlu bersama masyarakat dari semua lapisan, termasuk media massa dan sektor industri, bersatu mengeroyok TBC hingga tuntas. Demikian benang merah yang mengemuka pada diskusi media massa dengan topik sosialisasi kampanye nasional pemberantasan TBC selama 2018 dengan tema “Peduli Kita Peduli TBC” yang digelar oleh Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI) di Kantor Pusat PPTI, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (16/1/2018).

“Penyakit TBC ini adalah penyakit lama terjadi hampir di seluruh dunia dan penanganannya tidak sederhana. Untuk itu dirasa perlu kita membicarakan apa yang bisa kita perbuat. Pertama, karena penyakit TBC sudah lama, banyak orang menganggap penyakit ini sudah selesai. Kedua, karena masih banyak ditemukan di Indonesia dengan status menjadi peringkat kedua, selalu yang dilihat adalah pemerintah. Pemerintah dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab. Namun, menurut saya, semua masyarakat harus terlibat di situ. Mari kita diskusikan apa yang bisa kita perbuat. Pemerintah bersama masyarakat perlu mengeroyok TBC ini,” kata Arifin Panigoro, Ketua Umum FSTPI.

Menurut Arifin, jika China dengan penduduk terbesar terbukti bisa terbebas dari TBC dan juga Afrika Selatan yang kini posisinya lebih baik daripada Indonesia, semestinya Indonesia juga bisa. Ia menekankan perlu disampaikan kepada setiap keluarga Indonesia agar jika ada anggota keluarganya terkena TBC tidak perlu ditutup-tutupi karena itu justru berbahaya.

“Segera lapor kepada puskesmas dan jalani pengobatan dan semua anggota keluarga yang lain perlu dievaluasi dan memeriksakan diri,” ujar Arifin.

Arifin juga menyampaikan bahwa media massa sangat berperan dalam menyebarkan informasi terkait TBC. Terlebih lewat para anak muda yang sangat dekat dengan gawai atau dunia digital diharapkan bisa menjadi penyampai pesan kepada masyarakat yang lain.

“Tantangan kita ini adalah luasnya geografis Indonesia. Pemerintah saat ini sedang fokus di bagian Barat. Kita bisa bayangkan bagaimana kondisi TBC di daerah Indonesia bagian timur.

Kondisi di Papua, misalnya, di mana lingkungan dan tempat tinggal yang jauh dari memadai,” ujarnya.

Dalam paparannya, Executive Secretary FSTPI Mariani Reksoprodjo menyampaikan FSTPI dalam peran FSTPI sebagai fasilitator terus bekerja sama dengan semua pihak untuk menyebarkan informasi terkait TBC kepada masyarakat Indonesia.

“Berbagai penyuluhan dilakukan dengan prinsip preventif dan promotif. Perlu disampaikan kepada masyarakat bahwa TBC ini bukanlah penyakit turunan, karena guna-guna, atau kutukan. Penyakit TBC harus segera diobati dan pasti sembuh asal pengobatannya betul dan tidak pernah putus obat,” kata Mariani.

Format Kampanye

Target kampanye nasional TBC yang dilaksanakan oleh FSTPI, yakni generasi milenial yang pada kisaran usia 15-30 tahun. Format kampanye dalam bentuk video yang diviralkan lewat berbagai platform media sosial.

“Milineal dianggap perlu dijadikan target kampanye karena kelompok ini akrab dengan penggunaan gawai dan sangat aktif di media sosial. Lewat kampanye ini diharapkan informasi terkait TBC bisa diketahui oleh kaum milineal, terutama bagi teman sebayanya dan keluarganya,” ujar Gaby, salah satu anggota steering commettee kampanye nasional TBC FSTPI.

Dijelaskan, dalam kampanye nasional TBC ini, FSTPI menggandeng beberapa figur publik, antara lain Reza Rahardian dan Dona Agnesia serta beberapa seniman mural. Figur publik yang memiliki banyak pengikut di media sosial ini diharapkan bisa menjadi penyebar informasi dan membuat masyarakat yang mengikuti mereka peduli terhadap TBC.

Artis Dona Agnesia yang hadir dalam diskusi media tersebut menyampaikan alasannya tertarik dalam kampanye TBC ini. “Ponakan saya ada yang pernah menderita TBC. Saya tertarik terlibat karena ingin mengetahui lebih banyak lagi soal penyakit menular ini. Setelah mendapatkan informasi di sini, saya kaget juga, ternyata kasus TBC di negara kita ini sangat banyak,” ujar Dona.

Ditambahkan Mariani, kampanye yang dilakukan FSTPI sepanjang 2018 ini akan juga mengajak setiap pemangku kepentingan, baik dari kalangan industri, kementerian/lembaga. “Kita harapkan kampanye ini bisa menyentuh semua lapisan masyarakat hingga ke RT,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, penyintas TBC resistan obat (TBRO), Ully Uliyah, menyampaikan kesaksiannya menjalani pengobatan sejak divonis hingga sembuh. Ully terkena TBC saat umur 10 tahun dan dinyatakan sembuh pada 2011 sembuh. Ia terkena TBRO karena pernah putus berobat. “Ketika itu, saat ditanya ibu saya, apakah sudah minum obat, saya bilang sudah. Padahal, obat itu saya buang. Akhirnya, saya terkena TBC kebal obat,” ujarnya.

Kini Ully aktif mengampanyekan TBC di media sosial. Ia juga aktif dalam organisasi eks pasien TBC kebal obat, yakni Pejuang Tangguh (Peta). “Saya berharap pasien zaman now tidak mengalami seperti halnya ketika zaman saya dulu. Saya selalu mengampanyekan tentang TBC supaya orang-orang di sekeliling saya tidak menderita seperti saya,” ujarnya.

Dr. dr. Erlina Burhan, MSc, SpP (K), dokter ahli paru dari RSUP Persahabatan, membeberkan terkait penyakit TBC. “Umumnya pengobatan TBC pasiennya menganggap dua bulan pertama merasa sudah sembuh sehingga berhenti meminum obat. Ini yang berbahaya. Ini akan menimbulkan TBRO. Untuk itu, yang perlu kita perhatikan adalah pencegahan bagaimana TBC tidak tertular ke kita,” ujarnya. Ia mengingatkan, untuk mencapai Indonesia bebas TB pada 2050 diperlukan usaha luar biasa. Kementerian Kesehatan tentu tidak boleh hanya bekerja apa adanya atau business as usual. Semua kontak pasien TBC, kata Erlina, harus diperiksa dan dievaluasi. Ia juga mengharapkan ada usaha mencari pasien TBC dengan melakukan penapisan (screening) pada tempat-tempat umum, seperti di transportasi publik.

“Salah satu upaya dan wujud kepedulian pemberantasan TBC adalah membiasakan diri menggunakan masker. Terutama yang menderita batuk-batuk, di mana pun, terutama di ruangan berpenyejuk udara (AC) wajib mengenakan masker,” ujarnya.

Ya, #PeduliKitaPeduliTBC! Pekikan para peserta sambil mengepalkan tangan ke udara menandai berakhirnya diskusi sosialisasi kampanye nasional TBC.


Tertanda
Mariani Reksoprodjo
Executive Secretary FSTPI

Didaulat menjadi key opinion leader (KOL) untuk kampanye pemberantasan TBC Eksekutif Forum Stop TB Partnership (FSTPI), model dan presenter Donna Agnesia (39) mengaku kaget dengan data TBC di Indonesia yang masuk peringkat II di dunia setelah India.

“Setelah saya tahu kondisi TBC di Indonesia dari Ibu Mariani Reksoprodjo, Sekretaris FSTPI, saya kaget juga. Kasus TBC di Indonesia ternyata masih sangat besar. Satu juta lebih kasus per tahun,” kata istri dari aktor dan presenter Darius Sinathrya saat hadir dalam diskusi media bertopik sosialisasi kampanye nasional TBC yang digelar oleh FSTPI, Selasa (16/1/2018), di aula serba guna Lantai 3 kantor Pusat PPTI, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Donna mengaku sudah mengetahui soal TBC sejak lama. Dalam keluarganya ada salah seorang ponakannya yang terkena penyakit TBC. Namun, setelah mendapatkan penjelasan dan mencoba mencari informasi di dunia maya, ternyata kondisi TBC di Indonesia cukup memprihatinkan juga.

Ibu dari tiga anak ini mengaku punya pengalaman ketika dirinya bersama kru dari salah satu stasiun televisi pergi ke luar negeri meliput Piala Dunia. Salah satu kru batuk-batuk hingga dahaknya campur darah. “Kru itu terpaksa dipulangkan langsung ke Indonesia. Sesampai di Jakarta, dia langsung periksa. Ternyata, teman saya itu terjangkit TBC,” ujar Donna dengan tinggi badan 160 sentimeter itu.

Menurut Donna, karena potensi penularan TBC begitu tinggi, dirinya merasa tergerak untuk membantu sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya rasa kepedulian untuk upaya pencegahan TBC. Salah satunya adalah dengan menerapkan etika batuk yang baik.

Pembiasaan penggunaan masker perlu dilakukan. Sebab, kata Donna, jika batuk sembarangan, dahak yang mengandung bakteri penyebab TBC akan melayang di udara dan terhirup oleh orang-orang di sekelilingnya. “Kita harus peduli. Peduli Kita Peduli TBC,” ujar presenter yang juga pernah membintangi beberapa iklan kormesial itu.

Seperti diketahui, selain Donna, FSTPI juga mengajak aktor Reza Rahardian dan beberapa seniman mural untuk membantu kampanye nasional terkait TBC ini. FSTPI sepanjang tahun 2018 akan mencanangkan kampanye pemberantasan TBC terutama kepada generasi milenial. (aps)



Berita terkait :

Foto bersama Ketua Umum BPP-PPTI, Ny Raisis Arifin Panigoro didampingi Ketua I BPP-PPTI, Yanti Budhisantoso dan Sekum BPP-PPTI drg. Mariani Reksoprodjo dengan Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat dr. Erni Guntarti Kumolo dan staf PKK Pusat usai bersilaturahmi dalam rangka menjalin kerjasama Kedua Organisasi di kantor PKK Pusat Jakarta tanggal 1 November 2017.


Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Arifin Panigoro bersilaturahmi dengan Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat Ny. Dr. Erni Guntarti Kumolo dalam rangka menjalin kerjasama kedua organisasi bertempat di kantor PKK Pusat Jakarta tanggal 1 November 2017.


Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro didampingi Sekum BPP-PPTI drg. Mariani Reksoprodjo sedang foto bersama dengan jajaran Pengurus PPTI Kota Depok dan laskar TB bertempat di Aula Lt.l0 Gedung Dibaleka II Balaikota Depok pada tanggal 16 Oktober 2017

Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro menyematkan lencana PPTI kepada Ketua Badan Pengurus PPTI Kota Depok Masa Bakti 2017-2022 Ny. Dr. Rulliana Agustin, MmedED, PhD usai pelantikan yang dilakukan oleh Ketua PPTI Wilayah Jawa Barat bertempat di Aula Lt.l0 Gedung Dibaleka II Balaikota Depok pada tanggal 16 Oktober 2017


Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro didampingi Sekum BPP-PPTI drg. Mariani Reksoprodjo sedang foto bersama dengan jajaran Pengurus PPTI Kota Depok bertempat di Aula Lt.l0 Gedung Dibaleka II Balaikota Depok pada tanggal 16 Oktober 2017


Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro didampingi Sekum BPP-PPTI drg. Mariani Reksoprodjo sedang foto bersama dengan jajaran Pengurus PPTI Kota Depok dan laskar TB bertempat di Aula Lt.l0 Gedung Dibaleka II Balaikota Depok pada tanggal 16 Oktober 2017



Walikota Depok K.H. Dr. Mohammad Idris, MA, bersama Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro didampingi Sekum BPP-PPTI drg. Mariani Reksoprodjo menghadiri pelantikan Pengurus PPTI Kota Depok masa bakti 2017 – 2022 bertempat di Aula Lt.l0 Gedung Dibaleka II Balaikota Depok pada tanggal 16 Oktober 2017