top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Tuberkulosis pada Anak: Penularan, Gejala, Diagnosis, dan Pencegahannya

Ilustrasi pemeriksaan TB pada anak.
Ilustrasi pemeriksaan TB pada anak.

Tuberkulosis (TB) bisa menyerang semua usia, tak terkecuali anak-anak. Menurut Laporan TB Global 2024, di Indonesia, sebanyak 135.000 anak berusia 0-14 tahun terinfeksi TB.


Layaknya orang dewasa, penularan TB pada anak disebabkan oleh droplet orang yang terinfeksi. Mereka menularkannya saat berinteraksi dengan anak tanpa menggunakan masker. Saat orang tersebut batuk, bersin, tertawa, atau berbicara tatap muka, anak menghirup udara yang sudah terkontaminasi percikan air liur mengandung kuman TB.


Gejala TB pada Anak


Saat sakit TB, umumnya anak menunjukkan beberapa gejala yang dapat diamati secara fisik, seperti:


  1. Berat badan turun atau tidak naik dalam 2 bulan terakhir.

  2. Demam lebih dari 2 minggu atau berulang tanpa sebab yang jelas.

  3. Anak tampak lemas atau lesu, sehingga tidak aktif bermain.

  4. Muncul pembengkakan atau benjolan kelenjar getah bening di leher dan ketiak.

  5. Nafsu makan menurun secara drastis.


Diagnosis TB pada Anak


Diagnosis TB pada anak dilakukan melalui sistem skoring yang mencakup delapan parameter klinis, di antaranya riwayat kontak dengan orang dewasa yang sakit TB, hasil uji mantoux yang positif, serta kondisi berat badan yang menurun tanpa sebab jelas.


Selain itu, skoring juga ditentukan oleh gejala seperti demam lebih dari 2 minggu, batuk kronik lebih dari 3 minggu, adanya pembesaran kelenjar limfe, pembengkakan tulang atau sendi, hingga hasil foto toraks yang mendukung.


Perawatan medis pun lebih intensif dan jangka waktu pengobatannya relatif lebih lama. Dalam sejumlah kasus, anak harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari sampai gejalanya membaik. Kemudian pengobatannya dilanjutkan secara mandiri di rumah selama 6-12 bulan dengan melibatkan pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang disesuaikan dengan berat badan.


Pemberian OAT mungkin memerlukan suplemen tambahan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak. Atau, anak dengan kondisi tertentu sangat mungkin membutuhkan terapi fisik untuk mengatasi komplikasi yang muncul akibat TB, seperti gangguan pernapasan.


Pencegahan TB pada Anak


Sementara untuk mencegahnya, anak usia dini atau bayi baru lahir bisa menjalani imunisasi Bacillus Calmette-Guérin (BCG). Vaksin ini dapat membantu melindungi mereka dari bentuk TB yang paling parah seperti meningitis TB.


Kemudian, menjaga kebersihan dan memastikan ruangan memiliki ventilasi yang baik demi mengurangi konsentrasi polutan.


Setelah itu, beri makanan bergizi seimbang untuk meningkatkan berat badan sekaligus menjaga daya tahan tubuh anak. Setiap harinya, anak harus mengonsumsi makanan Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) yang mencakup protein hewani, karbohidrat, sayur, buah, susu, dan lemak sehat.


Jika anak berkontak dengan orang yang sakit TB, maka harus diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Terakhir, lakukan pemeriksaan rutin untuk mengurangi komplikasi serius.





Referensi:

 
 
 

Komentar


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

HUBUNGI KAMI

Klinik JRC-PPTI, Jl. Sultan Iskandar Muda No.66A Lt 3, Kby. Lama Utara, Kec. Kby. Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12240

Telp: +62 852-8229-8824

  • Instagram
  • twitter
  • facebook
  • Youtube
bottom of page