Peran Anggota FSTPI Meningkatkan Pelibatan Layanan Kesehatan Swasta Dalam Penanggulangan TBC



Mengakhiri bulan April 2022 ini, FSTPI kembali melaksanakan pertemuan forum bulanan secara daring dengan mengangkat tema yang bertajuk pelibatan layanan kesehatan swasta dalam penanggulangan TBC di Indonesia. Tema ini merefleksikan salah satu tantangan besar dalam penanggulangan TBC di Indonesia yaitu masih minimnya kontribusi notifikasi kasus dari layanan kesehatan swasta dan kualitas perawatan TBC pada sejumlah layanan tersebut yang masih perlu untuk ditingkatkan agar sesuai dengan standar. Tema ini juga kembali menegaskan salah amanat dalam Perpres No. 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan TBC, dimana guna meningkatkan akses layanan TBC yang bermutu dan berpihak kepada pasien dibutuhkan optimalisasi jejaring layanan TBC di Fasilitas Pelayanan Kesehatan milik pemerintah dan swasta.


Berdasarkan Inventory study tahun 2017 dilaporkan bahwa under-reporting pada klinik/DPM dan lainnya mencapai 96%. Pada tahun yang sama, studi menunjukkan bahwa 74% orang bergejala TBC memulai mencari pengobatan di fasilitas kesehatan swasta baik pemberi layanan kesehatan formal atau pun informal. Namun, tingkat pelaporan yang rendah masih cenderung terjadi, terutama pada fasilitas pelayanan kesehatan swasta yang mencapai 71% (Kemenkes RI, 2020). Laporan tahun 2020 menunjukkan bahwa proporsi notifikasi kasus TBC dari Rumah Sakit Swasta mencapai 15 %, sehingga belum mencapai target yang ditetapkan yaitu 30% (USAID, 2021)


Sejalan dengan hal diatas, Joint External Monitoring Mission (JPPM EMM) pada tahun 2020 memberikan rekomendasi untuk memperluas jangkauan (Public -Private Mix). Hal ini menjadi esensial, mengingat jumlah layanan swasta terus berkembang, pada tahun 2018, jumlah rumah sakit swasta telah mencapai sekitar 59% dari total rumah sakit di seluruh Indonesia (Kementerian Kesehatan RI, 2018).


Guna membahas mengenai topik ini, hadir sebagai pembicara dr. Fauziah Asnely Putri yang merupakan perwakilan dari USAID TBPS (Tuberculosis Private Sector), sebuah inisiatif yang dijalankan oleh FHI360 melalui pendanaan USAID bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI. Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan model dan meningkatkan peran sektor swasta dalam eliminasi TBC. Turut hadir dalam pertemuan ini sejumlah organisasi mitra FSTPI antara lain Perdhaki, Apindo, PR Penabulu-STPI, PB IBI, PP AISYIYAH, dan STPI selaku sekretariat dari FSTPI.


Dalam paparan yang diberikan, perwakilan TBPS memulai dengan menjelaskan mengenai beberapa latar belakang program TBPS, yaitu rendahnya angka pengobatan di FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama), terutama di FKTP swasta, angka rujuk balik dari rumah sakit ke FKTP untuk melanjutkan pengobatan yang masih rendah, dan monitoring kepatuhan pengobatan yang tidak memadai dan hasil akhir pengobatan yang kurang baik pada layanan swasta.


Adapun sejumlah kegiatan yang tengah dilakukan oleh TBPS yaitu implementasi paket intervensi dasar Kabupaten/Kota, belanja kesehatan strategi, intermediary partner, dan pendampingan teknis. Selain itu, TBPS juga menjalankan kegiatan Recovery Plan Activities yang terdiri dari Big Chain Hospital Engagement (BCHE), Awareness Campaign, dan Call Center. Kegiatan TBPS dilaksanakan di 6 Kabupaten/Kota yaitu Medan, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Gresik, Denpasar dan Samarinda.


Paket intervensi dasar kegiatan TBPS yang dilaksanakan pada 6 Kabupaten/Kota tersebut terdiri dari peningkatan akses ke TCM (jejaring dengan faskes terdekat), peningkatan akses ke obat program berkualitas (FDC) (jejaring dengan Puskesmas/Dinas Kesehatan setempat), meningkatkan akses ke fungsi kesehatan masyarakat dari program TBC ke pasien TBC (akses ke investigasi kontak, pelacakan pasien mangkir), meningkatkan akses ke fungsi kesehatan masyarakat dari program TBC ke pasien TBC (akses ke investigasi kontak, pelacakan pasien mangkir), Meningkatkan perilaku mencari pengobatan dan mengoptimalkan patient pathways (e-referral tool), meningkatkan notifikasi TBC dari faskes swasta (aplikasi WiFi TB), dan memperbaiki pengawasan kepatuhan pengobatan pada pasien TBC (TINJAU TB).


Pembicara juga menjelaskan mengenai strategi dari recovery plan yang ditujukan untuk meminimalisir dampak COVID-19 terhadap pelayanan TBC, salah satunya melalui Big Chain Hospital Engagement (BCHE) yang merupakan pelibatan jaringan rumah sakit swasta di 68 Kabupaten/Kota melalui pendekatan dari atas atau corporate management, dengan fokus kegiatan pada pengembangan jejaring internal dan eksternal rumah sakit, skrining TBC pada pasien rumah sakit, dan integrasi SIMRS dan SITB.


Pada sesi diskusi terdapat beberapa materi diskusi, beberapa diantaranya terkait eLearning yang dikembangkan oleh TBPS dan akan diluncurkan tahun ini untuk mengatasi masalah kapasitas pelatihan dan memberikan kemudahan akses pelatihan bagi tenaga kesehatan di fasyankes swasta. Selain itu, dibahas pula potensi keterlibatan komunitas pada 6 Kabupaten/Kota area TBPS guna menjaring pasien mangkir yang berasal fasyankes swasta. Hal lain yang juga menjadi pembahasan adalah upaya mendukung fasyankes swasta mengakses investigasi kontak dan layanan pasien mangkir. Dijelaskan bahwa kunci PPM adalah jejaring antar fasyankes, klinik swasta dengan sumber daya yang terbatas dan tidak dapat memberikan perawatan TBC perlu merujuk pasien TBC ke faskes lain dan klinik swasta dengan sumber daya yang memadai dapat melakukan penemuan kasus, diagnosis, pengobatan, termasuk kegiatan pencatatan dan pelaporan.


Pertemuan bulanan FSTPI diselenggarakan secara rutin dengan menghadirkan pembicara dari perwakilan organisasi yang merupakan anggota forum untuk memaparkan kegiatan organisasi sehingga mendorong terciptanya koordinasi, harmonisasi dan peluang kolaborasi dalam mendukung program TBC nasional.



Media sosial USAID TB PS

Website : fhi360

IG : @usaidtbps_id

Youtube : USAID TB Private Sector

Facebook : USAIDTBPS