top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Ketua tim DPPM Jakarta Timur Optimis Target 17.000 Temuan Kasus TBC Bisa Tercapai


dr. Yulius Sumarli, MARS Ketua tim DPPM Jakarta Timur menandatangani komitmen bersama DPPM

Jakarta Timur – Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama RPRI (Riset dan Pelatihan Respirasi Indonesia) mengadakan kegiatan Lokakarya District-Based Public Private Mix (DPPM) pada 7 Maret 2024 di Fieris Hotel Jakarta Timur. Kegiatan ini untuk membangun kesepakatan di tingkat kecamatan terkait mekanisme dan alur kerja dari Dokter Praktik Mandiri (DPM) serta Klinik untuk memastikan implementasi kesepakatan mekanisme serta membahas solusi untuk permasalahan dalam jejaring DPPM.


Dalam pertemuan tersebut juga dipaparkan terkait kondisi dan situasi TBC di Jakarta Timur tahun 2023. Angka terduga TBC sebesar 83.339 kasus. Keberhasilan pengobatan TBC Sensitif Obat (SO) mencapai 10.021 (81%), Angka TBC Resisten Obat (RO) 414 kasus. TBC RO yang memulai pengobatan 306. Keberhasilan pengobatan TBC RO pada tahun 2021 sebesar 190 kasus. Angka TBC anak 2.347 kasus. Pasien TBC status HIV 77%. Angka TPT masih 12% yang targetnya 60%. 


Menariknya adalah temuan kasus TBC di Jakarta Timur pada 2024 ditargetkan sebesar 17.000 kasus. Hal ini didasari dari data tahun 2023 yang dapat menemukan kasus hingga 15.680 dari target 13 ribu. “Target kita 17.000 temuan kasus di tahun ini. Ini bukan angka yang sedikit, meskipun tahun lalu sudah ditemukan 15.000. Salah satu strategi yang bisa kita selenggarakan adalah dengan PPM dan caranya adalah dibentuk DPPM” dr.Helly Zafni perwakilan Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur. 


Konsep DPPM sendiri menjadi penting untuk membangun dan memperkuat kolaborasi antara sektor kesehatan pemerintah dan swasta untuk meningkatkan deteksi, pengobatan, dan pencegahan TBC. Keterlibatan penyedia layanan swasta, seperti klinik swasta dan apotek, sangat diperlukan karena mereka terlibat dalam pelayanan kesehatan untuk masyarakat. 


Ketua tim DPPM Jakarta Timur,  dr. Yulius Sumarli, MARS, SH, menyampaikan optimis untuk bisa mencapai target 17.000 kasus TBC di tahun 2024. “Saya optimis 17.000 bisa ditemukan, di Jakarta Timur ada Kupat, Kumis, Lapas Rutan. Lapas Rutan ada 21.000 warga binaan, kalau bisa skrining disana paling tidak 10% saja sudah bisa menyumbang banyak keberhasilan penemuan kasus.” jelasnya.


Selain itu, Kota Jakarta Timur juga telah mendapatkan beberapa penghargaan diantaranya; sebagai Pengendalian TBC Terbaik tahun 2022 dan Juara 1 Capaian Program Tuberkulosis di Tingkat Provinsi DKI Jakarta tahun 2023. 


Namun yang menjadi permasalahannya saat ini adalah penemuan kasus yang tinggi namun pengobatan masih rendah. “Kita ini merupakan kotak aglomerasi. Ini daerah pusat tapi orang yang ada berasal dari kota sekitarnya. Bisa jadi pasien terdiagnosis di Jakarta tapi pas pengobatan malah ke kampung.” terang dr. Yulius yang juga sebagai dokter klinik di Rutan Cipinang kelas 1. Beliau juga menyampaikan bahwa dalam menyiasati permasalahan tersebut, perlu menerapkan DPPM dengan baik seperti menelusuri Orang dengan TBC yang tidak berobat, melaporkan ke Waki Supervisor (Wasor) TBC di Dinkes daerahnya serta memantau Orang dengan TBC yang tidak berobat hingga jelas keberadaannya.  


Pada pertengahan acara juga diadakan penandatanganan komitmen bersama DPPM yang ditandatangani oleh setiap perwakilan peserta yang terdiri dari; Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur, Klinik Rutan Cipinang, Petugas TBC Puskesmas Wilayah Jakarta Timur, dan beberapa organisasi asosiasi profesi lainnya. 


Ketua tim DPPM Jakarta Timur,  dr. Yulius Sumarli, MARS, SH berharap melalui DPPM ini kita bisa menjawab tantangan yang ada. Harapannya kita bisa membangun jejaring agar penemuan kasus, pengobatan, dan cakupan TPT juga bisa kita maksimalkan. 


14 tampilan0 komentar

Comments


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

bottom of page