Loading

LOADING

Loading

LOADING

Stop TB Partnership Indonesia
04 September 2026
Seputar TB
4 menit baca

Unpopular Opinion: Maskulinitas Beracun dan Tingginya Kasus TB pada Pria

Unpopular Opinion: Maskulinitas Beracun dan Tingginya Kasus TB pada Pria

Istilah unpopular opinion yang belakangan ramai di media sosial telah bergeser maknanya menjadi sebutan untuk keyakinan seseorang yang dinilai bertentangan dengan pandangan yang sudah diterima secara umum di masyarakat. Dalam konteks Tuberkulosis (TB), ternyata ada sejumlah unpopular opinion yang masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Hal ini kebanyakan terjadi karena minimnya edukasi atau bertahannya kepercayaan turun-temurun dari generasi ke generasi, sehingga mitos keliru justru lebih dipercaya ketimbang kebenaran ilmiah.

Berikut tiga unpopular opinion seputar TB yang sudah waktunya menjadi popular opinion agar kesalahpahaman berhenti di generasi ini.

Beban TB Pria Lebih Besar Dibanding Wanita

Data Global TB Report 2025 memperkirakan dari total orang yang terinfeksi TB pada 2024, sekitar 54% di antaranya adalah pria, 35% wanita, dan 11% sisanya adalah anak dan remaja. Artinya, jumlah pria yang terkonfirmasi TB jauh lebih banyak dibanding wanita pada rentang usia dewasa.

Kesenjangan ini juga terlihat dalam survei prevalensi TB nasional yang dilakukan di sejumlah negara. Survei tersebut konsisten menunjukkan bahwa pria menyumbang 66-75% dari total kasus TB pada kelompok dewasa. Angka ini jelas jauh lebih tinggi dibanding wanita pada kelompok usia yang sama.

Menurut WHO, kesenjangan ini dipengaruhi faktor biologis, sosial, dan struktural. Secara global, konsumsi alkohol berlebih dan kebiasaan merokok memang lebih umum ditemukan pada pria. Dari sisi struktural, paparan di tempat kerja, misalnya di sektor pertambangan, turut meningkatkan risiko pria terkena penyakit ini. Di sisi lain, pekerjaan informal yang tidak stabil dan minimnya perlindungan sosial menjadi hambatan utama bagi pria untuk mengakses layanan pengobatan. Kondisi ini diperparah oleh norma maskulinitas seperti anggapan bahwa mencari pertolongan medis sama dengan lemah, yang membuat banyak pria enggan memeriksakan diri sejak dini.

Telur Murah Kaya Protein

Salah satu masalah yang paling sering dialami orang dengan TB adalah turunnya kadar albumin dalam darah, yaitu protein penting yang berperan menjaga kekebalan tubuh dan proses penyembuhan. Biasanya, kondisi ini terjadi akibat nafsu makan yang menurun, asupan gizi yang kurang, serta proses peradangan yang terus berlangsung selama jatuh sakit. Kebanyakan orang menganggap bahwa protein berkualitas hanya bisa didapatkan dari daging dan ikan. Padahal, ada telur yang nutrisinya tidak kalah hebat dengan harga lebih ekonomis. Hal ini penting mengingat pengobatan TB kerap menimbulkan beban katastrofik, terutama bagi kelompok menengah ke bawah. Di tengah kondisi seperti ini, telur menjadi pilihan realistis tanpa menambah tekanan ekonomi yang sudah berat akibat penyakitnya.

Sebuah penelitian dari UGM mencoba menjawab persoalan ini dengan memberikan tambahan putih telur kepada pasien TB selama 14 hari. Hasilnya, kadar albumin pasien yang mendapat tambahan putih telur naik lebih tinggi dibanding pasien yang hanya mengonsumsi tahu dan kacang hijau. Selain itu, tingkat peradangan dalam tubuh mereka juga ikut menurun. Para peneliti menyimpulkan bahwa putih telur dapat mempercepat pemulihan pasien TB karena kandungan proteinnya yang berkualitas tinggi mampu menaikkan kadar albumin sekaligus meredakan peradangan dalam tubuh.

Kementerian Kesehatan juga menganjurkan orang dengan TB mengonsumsi protein sekitar 2-2,5 gram per kilogram berat badan setiap hari, lebih tinggi dibanding kebutuhan orang sehat pada umumnya. Telur menjadi salah satu sumber protein hewani yang direkomendasikan karena kandungan asam aminonya lebih lengkap dan lebih mudah diserap tubuh dibanding protein nabati. Sehingga, telur sangat cocok untuk membantu memperbaiki jaringan yang rusak akibat infeksi TB. Selain unggul dari sisi gizinya, telur juga jauh lebih terjangkau dan mudah didapat dibanding sumber protein hewani lain seperti daging sapi atau ikan.

Tidak Menular Lewat Alat Makan

Anggapan bahwa TB menular lewat alat makan nyatanya masih banyak dipercaya orang, padahal secara medis anggapan ini jelas keliru. TB menular lewat udara, tepatnya melalui percikan dahak yang keluar saat batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi. Percikan inilah yang kemudian terhirup oleh orang di sekitarnya, masuk ke saluran napas, dan berkembang di jaringan paru-paru. Karena proses penularannya terjadi lewat udara, alat makan sama sekali tidak berperan dalam penyebaran bakteri TB. Dengan begitu, selama dicuci bersih menggunakan air dan sabun cuci piring, alat makan milik orang dengan TB tetap aman digunakan siapa saja, termasuk mereka yang sehat.

Sebaliknya, kebiasaan memisahkan alat makan sama saja dengan menstigma orang dengan TB. Tindakan ini bisa membuat mereka merasa dikucilkan, seolah menjadi kelompok yang harus dijauhi. Padahal, begitu menjalani pengobatan, tingkat penularan penyakit pada dirinya akan menurun. Diskriminasi semacam ini pada akhirnya hanya memicu rasa takut yang bisa saja membuat orang dengan TB enggan melanjutkan pengobatan.

Sumber:

Topik Terkait

Tuberkulosispenyembuhan TB
5 Views

Leave a Comment

Comments (0)

No comments yet.

PUBLIKASI LAINNYA

Unpopular Opinion: Maskulinitas Beracun dan Tingginya Kasus TB pada Pria
Seputar TB04 September 2026

Unpopular Opinion: Maskulinitas Beracun dan Tingginya Kasus TB pada Pria

Ada sejumlah unpopular opinion seputar TB yang masih dianggap tabu oleh masyarakat, seperti beban TB pada pria lebih tinggi dibanding wanita, telur adalah alternatif murah kaya protein yang menunjang penyembuhan, serta bakteri TB tidak menular lewat alat makan.

PB IDI Izinkan Dokter Masuk Dunia Politik,Positif atau Negatif?
Seputar TB02 September 2026

PB IDI Izinkan Dokter Masuk Dunia Politik,Positif atau Negatif?

Ketua IDI mengizinkan dokter dan pengurus organisasi bergabung dengan partai politik, yang dinilai bertentangan dengan sumpah dokter untuk tetap netral dan tidak terpengaruh politik.

2 Nyawa Melayang Tiap 5 Menit, Waspada Gunung Es TB di Indonesia
Seputar TB28 Agustus 2026

2 Nyawa Melayang Tiap 5 Menit, Waspada Gunung Es TB di Indonesia

Semakin banyaknya kasus TB yang ditemukan di Indonesia, tentu menjadi kabar baik bagi kita semua. Namun, di sisi lain, keberhasilan ini dikhawatirkan hanya menjadi fenomena gunung es. Angka yang terlihat hanyalah sedikit dari segudang kasus yang masih tersembunyi di luar sana.