Salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit menular di Indonesia tak lain adalah Tuberkulosis (TB). Penyakit ini merenggut 120.000 jiwa setiap tahunnya atau 2 orang setiap 5 menit, begitu pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dalam arti lain, saat artikel ini selesai dibaca, kemungkinan besar sudah ada satu nyawa lagi yang melayang akibat penyakit yang sebenarnya bisa disembuhkan ini.
Mengutip Global TB Report 2025 yang dirilis WHO, Indonesia ada di urutan kedua dengan kontribusi 10% dari kasus TB dunia. Bisa dibilang, dari 10 orang yang terkena TB di seluruh dunia, satu di antaranya adalah WNI. Saat kasus TB turun tipis di tahun 2024 setelah dunia terbebas dari COVID-19 sekalipun, WHO justru menyebut Indonesia bersama Filipina dan Myanmar sebagai negara yang konsisten menyumbang kenaikan kasus global pada periode tersebut.
Kekhawatiran Fenomena Gunung Es
Keberhasilan penemuan kasus TB di sejumlah daerah belakangan ini sebenarnya menjadi kabar baik. Skrining yang makin gencar dilakukan sangat membantu memetakan sebaran kasus sekaligus mempercepat pasien yang terdiagnosis untuk memulai pengobatan. Namun di sisi lain, capaian ini justru memicu kekhawatiran. Jangan-jangan kasus yang mengemuka baru permukaan saja, sementara bagian yang jauh lebih besar masih tersembunyi layaknya fenomena gunung es.
Kekhawatiran ini bukan tak berdasar. WHO sudah menghitung gap global antara jumlah orang yang diperkirakan sakit TB dengan jumlah yang benar-benar terdiagnosis dan tercatat oleh sistem kesehatan negara masing-masing. Pada 2024 contohnya, secara global gap ini tembus di angka 2,4 juta orang. Dan ironisnya, Indonesia menjadi negara dengan selisih terbesar antara jumlah orang yang diperkirakan sakit TB dan terlapor dalam sistem.
Gap ini terjadi karena dua hal. Pertama, underdiagnosed atau pasien belum pernah terdeteksi sama sekali oleh layanan kesehatan. Kedua, underreporting atau pasien sudah terdiagnosis hanya saja datanya tidak tercatat resmi. Pola yang sama juga terjadi pada kasus TB Resisten Obat (RO). Indonesia menyumbang 7,3% dari gap pengobatan global, setelah India (33%) dan Filipina (9,3%).
Meski begitu, ada kabar yang bisa membuat WNI bernapas lega. Dalam studi inventarisasi TB nasional 2023 disebutkan bahwa terjadi penurunan signifikan pada tingkat underreporting dibanding studi pertama pada 2017. Alhasil, hasil estimasi kasus di tanah air konsisten dengan model perhitungan WHO. Studi ini menjadi pertanda bahwa sistem deteksi dan pelaporan TB di Indonesia sudah membaik.
Rencana Vaksinasi TB 2029
Di tengah kekhawatiran ini, ada satu harapan yang bisa menjaga optimisme jangka panjang. Menkes Budi mengungkap rencana produksi vaksin TB pada 2028 dan vaksinasi massal pada 2029.
Indonesia sendiri kini masih menjadi salah satu dari 7 negara di dunia yang dipercaya melakukan uji klinis vaksin M72 yang dikembangkan Bill & Melinda Gates Foundation. Sejauh ini, uji klinis sudah berjalan di 5 pusat riset dan menurut Menkes hasilnya positif. Dia juga berharap, M72 sama berhasilnya dengan penanganan penyakit menular lain seperti COVID-19 dan cacar air.
Sembari menanti vaksin, perbaikan dari sisi penemuan kasus dan pengobatan juga terus berjalan meskipun sama-sama kita ketahui anggaran penanggulangan TB nasional merosot dari Rp2,4 triliun tahun 2025 menjadi Rp2,01 triliun pada 2026 atau menurun sekitar 16,12%.
Referensi:
- Global Tuberculosis Report 2025
- https://nasional.kompas.com/read/2026/08/13/22034061/kemenkes-targetkan-vaksinasi-tbc-dimulai-bertahap-pada-2029
- Buku II Nota Keuangan Beserta RAPBN 2026 & 2025




