Loading

LOADING

Loading

LOADING

Stop TB Partnership Indonesia
02 September 2026
Seputar TB
3 menit baca

PB IDI Izinkan Dokter Masuk Dunia Politik,Positif atau Negatif?

PB IDI Izinkan Dokter Masuk Dunia Politik,Positif atau Negatif?

Ketua Umum PB IDI, dr. Slamet Budiarto, menyatakan bahwa dokter maupun pengurus organisasi kedokteran diperbolehkan berkecimpung dalam politik. Pernyataan ini membuka ruang baru, padahal selama ini keterlibatan dokter dalam politik kerap dipandang hati-hati karena dianggap bertentangan dengan sumpah dan kode etik kedokteran, yang menekankan bahwa keputusan medis tidak boleh dipengaruhi kepentingan politik.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Salah satu contohnya adalah kasus dokter yang terlibat dalam skenario "kecelakaan" Setya Novanto, mantan Ketua DPR RI yang tersangkut korupsi e-KTP, untuk menghindari proses hukum. Dokter tersebut akhirnya divonis penjara. Ini menunjukkan bagaimana profesi medis bisa disalahgunakan ketika batas antara profesi dan kepentingan kekuasaan menjadi kabur.

Namun, apakah itu berarti dokter sebaiknya sama sekali menjauh dari politik? Belum tentu.

Ada contoh lain, George Habash, dokter Palestina yang aktif dalam gerakan politik karena baginya kesehatan tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial dan politik masyarakat. Pertanyaannya, jika seorang dokter melihat sistem kesehatan tidak berjalan baik, akses tidak merata, tenaga medis terkonsentrasi di wilayah tertentu, pendidikan dokter spesialis bermasalah, cukupkah ia hanya mengobati pasien satu per satu? Di titik inilah politik menjadi relevan, karena persoalan sistemik semacam itu tidak selalu bisa diselesaikan dari ruang praktik klinis.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat mungkin bukan "apakah dokter boleh masuk politik?", melainkan "untuk apa dokter masuk politik?" Jika untuk kekuasaan atau kepentingan pribadi, itu jadi persoalan etik. Tapi jika untuk memperjuangkan kebijakan kesehatan yang lebih adil, kehadiran dokter di politik bisa jadi bermakna, selama ia tetap membawa nilai profesinya: kejujuran, independensi, dan mengutamakan kepentingan masyarakat.

Stetoskop dan politik memang berada di ruang berbeda, tapi keduanya bisa punya tujuan sama: membuat hidup manusia lebih baik. Menyembuhkan satu orang butuh seorang dokter. Mengubah sistem yang membuat banyak orang sakit butuh keberanian untuk memperjuangkannya.

Saat ini di Indonesia sudah ada beberapa dokter yang sudah memasuki dunia politik, diantaranya :

Nama

Profesi

Partai

Jabatan saat ini

dr. Gamal Albinsaid

Dokter

PKS

Anggota DPR RI 2024–2029, Dapil Jawa Timur V

dr. Sofyan Tan

Dokter

PDI Perjuangan

Anggota DPR RI 2024–2029, Dapil Sumatera Utara I

drg. Putih Sari

Dokter gigi

Gerindra

Anggota DPR RI 2024–2029, Komisi IX

dr. Sasa Chalim Nur Syajarotuddur

Dokter

PKB

Anggota DPRD Provinsi Lampung 2024–2029

dr. Maria Caecilia Stevi Harman

Dokter

Anggota DPD RI 2024–2029, NTT (DPD bukan representasi partai)

Semoga para dokter yang menjabat sebagai wakil rakyat ataupun yang terjun ke dunia politik, memiliki keberpihakan kepada kesehatan masyarakat karena di situlah sumpah profesi mereka pertama kali diucapkan, untuk mendahulukan keselamatan dan kepentingan pasien di atas segalanya.

Sebab stetoskop yang pernah mereka kenakan seharusnya tidak pernah benar-benar dilepas, ke mana pun mereka melangkah, termasuk ke ruang tempat kebijakan dibuat. Jutaan rakyat terus menunggu sistem kesehatan yang lebih adil, dan itulah alasan sesungguhnya mengapa mereka layak berada di sana.

Topik Terkait

Diskusipemerintah
2 Views

Leave a Comment

Comments (0)

No comments yet.

PUBLIKASI LAINNYA

PB IDI Izinkan Dokter Masuk Dunia Politik,Positif atau Negatif?
Seputar TB02 September 2026

PB IDI Izinkan Dokter Masuk Dunia Politik,Positif atau Negatif?

Ketua IDI mengizinkan dokter dan pengurus organisasi bergabung dengan partai politik, yang dinilai bertentangan dengan sumpah dokter untuk tetap netral dan tidak terpengaruh politik.

2 Nyawa Melayang Tiap 5 Menit, Waspada Gunung Es TB di Indonesia
Seputar TB28 Agustus 2026

2 Nyawa Melayang Tiap 5 Menit, Waspada Gunung Es TB di Indonesia

Semakin banyaknya kasus TB yang ditemukan di Indonesia, tentu menjadi kabar baik bagi kita semua. Namun, di sisi lain, keberhasilan ini dikhawatirkan hanya menjadi fenomena gunung es. Angka yang terlihat hanyalah sedikit dari segudang kasus yang masih tersembunyi di luar sana.

PHK Cekik Pekerja Terdiagnosis TB, Aturan Sebatas Manis di Atas Kertas
Seputar TB13 Agustus 2026

PHK Cekik Pekerja Terdiagnosis TB, Aturan Sebatas Manis di Atas Kertas

Banyak orang dengan TB dikucilkan hingga menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Padahal praktik ini melanggar Permenaker No.13 tahun 2022 mewajibkan perusahaan memberikan dispensasi bagi karyawannya untuk menjalani pengobatan hingga penyakitnya dinyatakan tidak lagi menular, sekaligus membayarkan haknya sebagai pekerja.