Loading

LOADING

Loading

LOADING

Stop TB Partnership Indonesia
Seputar TB
10 September 2026
5 menit baca

Ketika Napas Menjadi Jalan Sembuh: Menyambut Inovasi Obat TB Inhalasi dari Mahasiswa UGM

Ketika Napas Menjadi Jalan Sembuh: Menyambut Inovasi Obat TB Inhalasi dari Mahasiswa UGM

Tuberkulosis masih menjadi salah satu beban kesehatan terbesar yang dihadapi Indonesia. Setiap tahun, ratusan ribu warga terdiagnosis, dan sebagian dari mereka harus menempuh jalan panjang yang melelahkan: minum obat setiap hari, selama berbulan-bulan, kadang hingga lebih dari setahun untuk kasus resisten obat. Di titik inilah, sebuah kabar baik datang dari Yogyakarta, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan pendekatan baru yang berpotensi mengubah wajah pengobatan TB di masa depan: sistem penghantaran obat antibiotik levofloksasin melalui inhalasi, yang mereka namai Levocross.

Mengapa Ini Penting

Bagi banyak orang di luar dunia kesehatan, TB mungkin terdengar seperti penyakit yang "sudah ada obatnya". Namun kenyataan di lapangan jauh lebih rumit. Baik TB Sensitif Obat maupun TB Resisten Obat, keduanya masih mengandalkan pengobatan oral yang harus melewati saluran pencernaan sebelum akhirnya, jika beruntung, mencapai konsentrasi yang cukup di paru-paru, organ yang paling sering menjadi sarang bakteri Mycobacterium tuberculosis. Ukuran tablet yang besar, efek samping mual dan muntah, serta durasi pengobatan yang panjang, menjadi kombinasi yang berat untuk dijalani. Tidak sedikit pasien yang akhirnya berhenti di tengah jalan, sebuah keputusan yang secara diam-diam dapat memperburuk situasi, karena penghentian pengobatan yang tidak tuntas berisiko memunculkan resistensi obat yang lebih sulit ditangani.

Di sinilah gagasan Levocross menemukan relevansinya. Alih-alih membiarkan obat menempuh perjalanan panjang melalui sistem pencernaan sebelum sampai ke paru-paru, tim mahasiswa ini mencoba jalan yang lebih langsung: menghantarkan antibiotik lewat pernapasan, langsung menuju organ yang terdampak.

Sains di Balik Terobosan

Yang membuat riset ini menarik bukan hanya idenya, tetapi juga bagaimana ia dirancang. Tim Levocross, Alphatar Magnus Jonathan Tambunan, Emeliana Putri Ayu Ningsih, dan Ernestus Revan Yogantara Arjuna dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, bersama Desrika Dwi Handayani dan Fatharani Hasya Tsabita dari Fakultas Farmasi, di bawah bimbingan Dr.rer.nat. Ronny Martien, M.Si., berangkat dari fakta biologis yang cukup mendasar: bakteri TB kerap bersembunyi di dalam makrofag alveolar, sel-sel pertahanan tubuh yang justru berada di paru-paru. Artinya, pengobatan yang ideal bukan sekadar mengantarkan obat ke paru-paru, melainkan berpotensi menjangkau sel spesifik tempat bakteri itu bersembunyi.

Untuk menjawab tantangan ini, levofloksasin dipadukan dengan teknologi pembawa berukuran nano dan asam hialuronat. Prosesnya menggunakan metode hot emulsification-ultrasonication, di mana gelombang ultrasonik mengubah campuran bahan menjadi partikel-partikel berukuran nano, sebelum asam hialuronat ditambahkan untuk mendukung fungsi penghantarannya. Formulasi ini kemudian diuji dari berbagai sisi: ukuran dan keseragaman partikel, kapasitas obat yang berhasil dimuat, kestabilan, pola pelepasan obat, hingga kemampuannya membentuk aerosol saat dilewatkan pada nebulizer, sebuah langkah penting untuk memastikan obat benar-benar dapat dihirup dengan efektif. Penelitian ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) 2026, dan saat ini masih berada pada tahap pengumpulan serta analisis data, termasuk pengujian in vitro untuk melihat interaksi formulasi dengan sel.

Catatan dari Sisi Kebijakan dan Program Penanggulangan TB

Sebagai bagian dari komunitas yang bekerja setiap hari untuk mendukung eliminasi TB, kami melihat inovasi seperti Levocross sebagai pengingat penting: solusi terhadap TB tidak melulu soal menemukan obat baru, tetapi juga soal menemukan alternatif lain untuk menyampaikan obat yang sudah ada kepada pasien. Selama ini, hampir seluruh terapi TB lini kedua, termasuk levofloksasin, hanya tersedia dalam bentuk oral. Belum ada sediaan inhalasi yang beredar untuk indikasi ini. Jika kelak riset semacam ini berhasil melewati seluruh tahapan uji klinis dan terbukti aman serta efektif, potensi dampaknya nyata: pengobatan yang lebih terarah ke organ sasaran, efek samping sistemik yang mungkin lebih rendah, dan, yang tidak kalah penting, pengalaman berobat yang lebih dapat ditoleransi oleh pasien, sehingga risiko putus obat dapat ditekan.

Namun demikian, penting untuk menempatkan optimisme ini secara proporsional. Levocross saat ini masih berada pada tahap penelitian dasar, jauh dari status sebagai obat yang siap digunakan pasien. Jalan menuju uji klinis, apalagi hingga peredaran resmi, masih panjang dan menuntut pembuktian ilmiah yang ketat di setiap tahapnya. Justru karena itu, dukungan terhadap keberlanjutan riset ini menjadi krusial, baik dalam bentuk pendanaan, pendampingan akademik, maupun kolaborasi lintas lembaga, agar temuan tahap in vitro ini tidak berhenti sebagai prestasi akademis semata, tetapi dapat terus didorong menuju pengujian pra-klinis dan klinis.

Menjaga Momentum Menuju Eliminasi TB 2030

Indonesia telah menetapkan target eliminasi TB pada 2030, sebuah target yang ambisius mengingat beban kasus yang masih tinggi. Mencapainya membutuhkan lebih dari sekadar penemuan kasus dan pengobatan standar, dibutuhkan juga inovasi yang berani menantang cara-cara lama dalam menghantarkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Karya anak bangsa seperti Levocross menunjukkan bahwa semangat itu hidup di kalangan generasi muda, termasuk mereka yang masih menempuh pendidikan sarjana.

Kami di Stop TB Partnership Indonesia menyambut baik inisiatif ini dan mendorong agar ekosistem riset kesehatan, universitas, pemerintah, industri farmasi, hingga lembaga pendanaan, bersama-sama mengawal perjalanan Levocross dan riset-riset serupa lainnya. Sebab pada akhirnya, perjuangan melawan tuberkulosis bukan hanya tentang menemukan senyawa yang tepat, melainkan juga tentang memastikan bahwa setiap pasien, di mana pun mereka berada, dapat mengakses pengobatan yang tidak hanya efektif, tetapi juga layak dijalani hingga tuntas.


Sumber referensi: Universitas Gadjah Mada, "Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Penghantaran Obat Tuberkulosis ke Paru Melalui Inhalasi," 31 Agustus 2026.

Topik Terkait

inovasi program tbc
9 Views

Leave a Comment

Comments (0)

No comments yet.

PUBLIKASI LAINNYA

Wamendagri Ajak Anak Muda Lawan TB, Semoga Bukan Sekadar "Tokenistik"
Seputar TB11 September 2026

Wamendagri Ajak Anak Muda Lawan TB, Semoga Bukan Sekadar "Tokenistik"

Tajuk Rencana — Stop TB Partnership Indonesia

PENGADAAN TERBUKA (OPEN BIDDING) JASA AUDIT EKSTERNAL
Pengadaan11 September 2026

PENGADAAN TERBUKA (OPEN BIDDING) JASA AUDIT EKSTERNAL

Proyek Facility and Community-Based Service Delivery Support (FC-SDS) – Indonesia - Stop TB Partnership Indonesia (STPI)

Ketika Napas Menjadi Jalan Sembuh: Menyambut Inovasi Obat TB Inhalasi dari Mahasiswa UGM
Seputar TB10 September 2026

Ketika Napas Menjadi Jalan Sembuh: Menyambut Inovasi Obat TB Inhalasi dari Mahasiswa UGM

Tajuk Rencana, Stop TB Partnership Indonesia Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang melakukan penelitian tentang sistem penghantaran obat yang dirancang untuk mengeksplorasi pemberian antibiotik levofloksasin melalui inhalasi, bernama Levocross.