Sejak Jumat, 4 September 2026, Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi dengan status Level III atau Siaga. Angin membawa abu vulkaniknya menyeberang ke Lampung, Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat. Sejumlah warga terdampak mengaku mengalami sesak, sakit tenggorokan, hingga mata berair akibat paparan abu tersebut. Lalu, seberapa bahaya abu vulkanik ini, dan apa yang harus dilakukan untuk melindungi diri?
Lebih Jahat dari Debu Biasa
Sekilas, abu vulkanik mungkin terlihat seperti debu jalanan yang berterbangan terutama pada musim kemarau. Namun secara fisik, keduanya sangat berbeda. Abu vulkanik terbentuk dari batuan yang hancur akibat ledakan gas panas di dalam gunung berapi, sehingga partikelnya keras, tajam, dan abrasif mirip pecahan kaca berukuran sangat kecil. Abu ini terdiri dari fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang tidak beraturan. Itulah mengapa benda-benda yang terkena abu ini, seperti kaca mobil hingga jendela, mudah tergores jika dibersihkan dengan cara yang salah.
Sifat keras dan tajam ini membuat abu vulkanik berkali-kali lipat lebih jahat dibanding debu biasa saat terhirup atau mengenai mata dan kulit.
Bagian Tubuh Paling Rentan
Partikel abu yang sangat kecil dan halus berisiko masuk hingga ke saluran napas bagian bawah. Akibatnya, orang yang menghirupnya bisa mengalami iritasi tenggorokan, batuk, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga memperparah asma bagi mereka yang memiliki riwayat tersebut.
Selain itu, partikel yang tajam juga bisa menggores permukaan kornea mata, apalagi jika dikucek. Karena itu, jangan pernah mengucek mata saat terpapar abu vulkanik. Bilas dengan air bersih, gunakan obat tetes mata jika perlu, lalu periksakan ke puskesmas bila iritasi berlanjut.
Yang tak kalah rentan adalah kulit. Paparan abu yang menempel lama di kulit sangat bisa memicu iritasi, terutama pada kulit sensitif. Membersihkan tubuh dan pakaian segera setelah beraktivitas di luar rumah cukup membantu mencegah abu bersarang lebih lama di permukaan kulit.
Cara Melindungi Diri
Perlindungan yang paling efektif adalah yang langsung menutup celah masuknya abu vulkanik ke pernapasan, mata, dan kulit. Upaya yang bisa dilakukan antara lain:
- Gunakan masker N95/KN95 saat harus keluar rumah. Jika tidak ada, gunakan masker jenis apa pun atau minimal tutup hidung dan mulut selama berada di luar ruangan.
- Lindungi mata dengan kacamata agar tidak langsung terpapar abu.
- Tutup pintu dan jendela agar abu tidak masuk ke area dalam rumah.
- Cuci tangan dan wajah setelah beraktivitas di luar rumah. Gunakan krim pencuci wajah dan jangan digosok kasar agar tidak menimbulkan lecet pada kulit wajah.
- Perbanyak minum air putih untuk menjaga kelembapan saluran napas.
- Hindari membakar sampah atau aktivitas lain yang menambah polusi udara di sekitar rumah.
- Datangi puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami keluhan pernapasan, mata, atau kulit yang tidak kunjung membaik.
Saat ini, Kementerian Kesehatan telah mengaktifkan Health Emergency Operating Center (HEOC) dan menyiagakan puskesmas serta rumah sakit selama 24 jam, lengkap dengan pasokan medis, oksigen, konsentrator nebulizer, dan lainnya untuk mengantisipasi lonjakan pasien.
Cara Aman Bersihkan Rumah
Salah satu kesalahan yang paling umum dilakukan saat membersihkan rumah adalah menyapu abu yang menumpuk. Bahayanya, cara ini justru membuat abu kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup. Berikut cara yang tepat membersihkan rumah dari tumpukan abu vulkanik.
- Basahi sebelum dibersihkan. Semprot area yang tertutupi abu dengan sedikit air agar partikelnya tidak mengudara saat disapu atau dilap.
- Jangan menggosok abu di permukaan kaca atau bodi kendaraan. Sifat abu yang abrasif bisa membuat gesekannya meninggalkan goresan permanen pada suatu benda. Karenanya, basahi dulu dengan air sebelum dilap perlahan.
- Jangan biarkan abu masuk saluran drainase. Hal ini bisa menyumbat sistem pembuangan air dan menimbulkan masalah baru saat hujan turun.
- Buang ke kantong plastik yang kuat. Jika ada, serahkan kantong abu ke truk pengangkut alih-alih dibiarkan menumpuk atau dibuang sembarangan.
Di tengah situasi yang masih berkembang, sikap yang paling tepat adalah tetap tenang tanpa mengabaikan kewaspadaan. Jangan mudah terpengaruh informasi yang belum jelas sumbernya. Sebab, kabar simpang siur hanya memicu kepanikan yang lebih besar dibanding dampak abu vulkanik itu sendiri. Untuk itu, penting bagi masyarakat untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG, PVMBG, dan BNPB terkait perkembangan erupsi, mengingat kondisinya dapat berubah sewaktu-waktu.





