Our Recent Posts

Tags

Konsultan untuk Pengelolaan Kegiatan Kampanye TBC Melalui Pemberdayaan Kaum Muda


TOR Pengadaan Konsultan Kampanye Pelibatan Kaum Muda
.pdf
Download PDF • 2.18MB

Latar Belakang

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dan menimbulkan masalah yang kompleks baik dari segi medis maupun sosial, ekonomi, dan budaya. Berdasarkan Global TB Report WHO 2020, Indonesia merupakan negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia. Diestimasikan terdapat 845.000 kasus TBC baru setiap tahunnya dengan angka kematian mencapai 98.000 kasus atau setara dengan 11 kematian/jam. Penularan dan perkembangan penyakit TBC semakin meluas karena dipengaruhi oleh faktor sosial seperti kemiskinan, urbanisasi, pola hidup yang kurang aktif, penggunaan tembakau, dan alkohol.[1]


TBC adalah tantangan untuk pembangunan Indonesia karena 75% pasien TBC adalah kelompok usia produktif, 15-54 tahun[2]. Lebih dari 25% pasien TBC dan 50% pasien TBC resistan obat berisiko kehilangan pekerjaan mereka karena penyakit ini[3]. Menurunnya produktivitas atau kehilangan pekerjaan akibat kecacatan, pengeluaran biaya medis, dan biaya langsung non-medis seperti biaya transportasi dan nutrisi berkontribusi pada beban ekonomi rumah tangga orang dengan TBC.


Dalam kondisi pandemi COVID-19 di wilayah endemis TBC seperti Indonesia, promosi kesehatan untuk mempromosikan perilaku mencari layanan yang tepat semakin diperlukan. Menurut kajian modelling Stop TB Partnership, USAID, dan Imperial College UK, lockdown 3 bulan dapat memundurkan upaya penanggulangan TBC lima hingga delapan tahun ke belakang akibat peningkatan 6,3 juta kasus baru dan 1,4 juta kematian diantara 2020 dan 2025[4]. Survei Stop TB Partnership Indonesia (Juni 2020) bersama Aisyiyah, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama, Perhimpunan Organisasi Pasien, dan Sub Direktorat Tuberkulosis juga mengindikasikan upaya penanggulangan TBC berbasis masyarakat sempat terhenti ketika pandemi melanda[5]. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan cakupan pengobatan TBC secara nasional pada 2020 menurun empat puluh dua persen dari tahun 2019.


Situasi TBC ini merupakan tantangan kolektif yang membutuhkan perhatian pada aspek sosioekonomi seperti perlindungan sosial, pengendalian kepadatan penduduk, kekurangan gizi, stigma dan diskriminasi terhadap pasien dan keluarganya, serta pencegahan dan pengendalian di fasilitas publik.


Program pengendalian TBC nasional harus terus diintensifikasi, akselerasi, ekstensifikasi dan inovasi menuju target eliminasi TBC 2030. Salah satu upaya penting yang harus terus dilakukan adalah membangun kesadaran publik untuk penanggulangan TBC dengan sasaran kaum muda melalui media digital dan publikasi non digital.


Diperkirakan tahun 2045 Indonesia mengalami bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun)[6]. Artinya, untuk saat ini kaum muda tersebut berperan penting dalam memupuk pengetahuan yang positif bagi masyarakat sekitar.

Kaum muda, yang saat ini diwakili oleh generasi Milenial dan generasi Z, merupakan kelompok masyarakat yang paling dekat dengan teknologi digital. Sehingga mereka memiliki kreativitas yang lebih tinggi, rasa percaya diri yang lebih besar, akses informasi yang lebih mudah, pandangan yang lebih inklusif, serta memiliki jaringan yang lebih luas. Keunggulan-keunggulan tersebut dapat “menyulap” generasi muda menjadi para pembelajar yang mandiri, relawan-relawan yang berkesadaran, serta pemimpin yang lebih independen.


Selain itu, Pertemuan kaum muda dan media merupakan babak perubahan sosial, meluasnya istilah digitalisasi, media sosial, teknologi informasi dan sebagainya. Menunjukkan penciptaan nilai, dan norma baru interaksi masa depan. Dampaknya kaum muda dan media telah beradaptasi dengan karakter seperti fleksibilitas-mobilitas, dan kebebasan ruang dan waktu. Data terbaru yang dikutip Kompas 10/03/2015 dari data safety among adolescent in Indonesia 2014 yang diperoleh dari responden anak dan remaja di perkotaan dan pedesaan di 11 provinsi di Indonesia, menunjukkan bahwa kaum muda menggunakan internet untuk pertemanan sebesar 79%, mencari informasi 80%, mencari hiburan 73%, dan membebaskan diri dari rutinitas sebesar 26%, dan mencari bahan-tugas sekolah 18%. Adapun alat yang digunakan kaum muda untuk mengakses internet terbesar masih komputer PC sebesar 69%, telepon seluler 52%, laptop 34%, ponsel pintar 21%, tablet 4%, dan game online 2%. Karakter tersebut cukup jelas untuk mewakili kaum muda sebagai obyek sekaligus subyek media baru.[7]


Mengingat hal tersebut, Stop TB Partnership Indonesia berinisiatif untuk melibatkan kaum muda dalam mengedukasi dan mempromosikan perilaku pencarian kesehatan orang dengan gejala TBC untuk mengakses diagnosis TBC. Kaum muda akan memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar agar mau mengakses layanan kesehatan TBC jika memiliki gejala TBC. Diharapkan para kaum muda dapat memberikan dampak positif untuk mengajak masyarakat serta dapat meningkatkan perilaku untuk memeriksakan diri pada layanan kesehatan ketika memiliki gejala TBC.


[1] Global TB Report 2020 [2] Kementerian Kesehatan RI 2018. Riset Kesehatan Dasar: [3] TB Indonesia. 2021. Data Situasi Tuberkulosis di Indonesia Tahun 2020 [4] Stop TB Partnership, Imperial College, Avenir Health, Johns Hopkins University, & USAID. (n.d.). The Potential Impact of The Covid-19 Response On Tuberculosis In High-Burden Countries: A Modelling Analysis. [5] Stop TB Partnership Indonesia (2020). Survei Monitoring Protokol Pelayanan TBC di Masa Pandemi COVID-19 Diakses dari https://www.stoptbindonesia.org/single-post/hasil-survei-monitoring-protokol-pelayanan-tbc-di-masa-pandemi-covid-19 [6] BKKBN. 2020. Bonus Demografi, Peluang atau Tantangan Menuju Indonesia Emas tahun 2045. Diakses pada 16 Oktober 2020 di https://www.bkkbn.go.id/detailpost/bonus-demografi-peluang-atau-tantangan-menuju-indonesia-emas-2045 [7] https://journal.ugm.ac.id/jurnalpemuda/article


Permasalahan Utama dan Perubahan yang diharapkan

Dalam 2 dekade terakhir, laporan notifikasi atau jumlah penemuan kasus TBC baru di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini merupakan suatu keberhasilan dimana semakin banyak orang dengan gejala TBC mengakses layanan kesehatan dan memulai pengobatan. Akan tetapi, hingga tahun 2019, Indonesia tetap memiliki jumlah missing cases lebih dari 30% estimasi angka kejadian TBC setiap tahunnya.


Menurut Survei Prevalensi TB Nasional (2013-2014), 76,8% responden mengetahui gejala TBC, 69% mengetahui cara penularannya, 78,2% mengetahui dapat disembuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang TB relatif baik. Akan tetapi, memahami tentang penyakit TBC belum tentu berimplikasi pada perilaku mencari layanan kesehatan yang tepat. Menurut Asik, Setyaningsih, Nasution, Parawati et al. (2017), tiga perempat orang dengan gejala TBC mengunjungi layanan kesehatan swasta dan 52 persen diantara mereka mengunjungi farmasi/warung obat terlebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan.

Berdasarkan Survei Prevalensi TB Nasional (2013-2014), terdapat beberapa hambatan untuk mencari layanan kesehatan seperti persepsi yang salah tentang pembiayaan pengobatan, responden memilih fasilitas non-DOTS, sikap tentang layanan publik, stigma, dan norma sosial. Selain itu, diketahui bahwa hambatan dalam diagnosa adalah kurangnya pengetahuan tentang tes/diagnosis, kurangnya pengetahuan tentang lama pengobatan, stigma, dan harapan orang dengan gejala TBC untuk menerima obat tetapi tidak melakukan tes.

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini pandemi COVID-19 semakin menghambat perilaku masyarakat dengan gejala utama TBC (batuk lebih dari 2 minggu) untuk mengakses layanan kesehatan. Sejak pandemi COVID-19 menghantam sistem kesehatan di Indonesia, cakupan pengobatan TBC di Indonesia merosot sekitar 42 persen dan diperikarakan semakin menurun di tahun 2021.


Sumber: TB DIAH (Retrieved Agustus 2021)


Situasi ini mencerminkan bahwa akses terhadap layanan TBC menurun drastis sehingga menjadi ancaman meningkatnya infeksi TBC di rumah tangga dan lingkungan masyarakat. Mendorong orang dengan gejala TBC untuk mengakses layanan kesehatan dan mendapatkan diagnosis penyebab batuknya akan berkontribusi dalam memutus mata rantai penularan TBC di Indonesia.

Stop TB Partnership Indonesia ingin merumuskan dan melaksanakan kampanye publik yang berbasis bukti dan unggul untuk meningkatkan pengetahuan, ekspektasi, dan sikap orang-orang dengan gejala TBC untuk mengakses layanan dengan fasilitas diagnosis TBC di masa pandemi. Perubahan perilaku ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah orang dengan gejala TBC yang diperiksa dengan tepat agar memulai pengobatan yang sesuai standar sampai sembuh.

Untuk memastikan kegiatan kampanye ini spesifik dan memiliki daya ungkit yang tinggi, Stop TB Partnership Indonesia ingin melaksanakan kegiatan di lokasi yang memiliki demografi yang serupa dan beban TBC tinggi. Sasaran utama kampanye ini adalah masyarakat di dua provinsi yang termasuk lima wilayah dengan beban TBC tertinggi di Indonesia yaitu DKI Jakarta dan Jawa Barat. Selain itu, diestimasikan bahwa 41.5 persen estimasi kejadian penyakit TBC di tahun 2022 berada di kedua provinsi tesebut. Kampanye ini diharapkan mampu menjangkau 3 juta penduduk atau 10 kali lipat dari estimasi 350.496 pasien TBC tahun 2022 di kedua provinsi tersebut.


Respon langsung yang ingin dipicu dari sasaran kampanye