top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Isi Piringku: Cegah Stunting, Cegah Tuberkulosis

Memperingati Hari Gizi Nasional 2023

Jakarta, STPI - Halo sobat STPI, tanggal 25 Januari selalu diperingati sebagai Hari Gizi Nasional, lho. Ada yang tahu sejarahnya? Pada tahun 1950 Menteri Kesehatan J Leimena menunjuk Poorwo Soedarmo sebagai Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR). Kemudian di tahun berikutnya, lebih tepatnya pada 25 Januari 1951, pengkaderan Tenaga Gizi Indonesia resmi dimulai yang ditandai dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan oleh LMR, sehingga setiap tanggal 25 Januari ditetapkan sebagai Hari Gizi Nasional.


Permasalahan gizi di Indonesia masih menjadi sorotan pemerintah terkhusus pada kejadian Stunting. Stunting sendiri merupakan kondisi pada balita usia 0-59 bulan mengalami kekurangan gizi dalam jangka waktu cukup lama yang ditandai dengan Tinggi Badan tergolong pendek pada umur seusianya. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka stunting di Indonesia sebesar 24,4%. Angka tersebut menunjukkan penurunan dari 27,7% di tahun 2019. Namun masih harus terus ditekan untuk bisa mencapai target yang ditetapkan Presiden RI Joko Widodo menjadi 14% di tahun 2024.


Secara singkat, kejadian stunting dimulai dari remaja putri yang tumbuh dewasa kemudian mengalami kekurangan asupan nutrisi hingga anemia. Saat hamil, kebutuhan energi dan protein tidak terpenuhi secara maksimal bahkan defisit, ditambah kondisi lingkungan yang kurang sehat dan sanitasi yang buruk dapat memperparah kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK). Kondisi sebelumnya juga disertai dengan ibu hamil yang tinggi badannya <150 cm sehingga berdampak pada bayi lahir <2,5 kg dengan panjang badan <48 cm. Ditambah kurangnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif dapat meningkatkan kejadian stunting yang lebih tinggi.


Balita yang mengalami stunting sangat rentan mengalami penyakit infeksi. Penelitian Jahiroh menunjukkan bahwa Balita yang stunting mempunyai risiko lebih tinggi sakit Tuberkulosis (TBC) dibandingkan Balita dengan gizi normal. Balita pendek dan sangat pendek masing-masing berisiko 3,5 kali dan 9 kali mengalami sakit TBC. Status gizi merupakan faktor penting untuk melawan infeksi termasuk TBC. Balita dengan gizi yang baik mampu mencegah penyebaran penyakit di dalam paru-paru, sementara balita dengan gizi kurang termasuk stunting dapat menderita penyakit paru lebih tinggi.


Memahami hal tersebut, pemerintah menetapkan tema Hari Gizi Nasional tahun ini yaitu “Protein Hewani Cegah Stunting”. Protein hewani dinilai efektif untuk mencegah stunting pada balita. Pangan hewani memiliki kandungan gizi yang lengkap, kaya protein hewani dan vitamin yang sangat lengkap dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Terdapat penelitian dari Headey et.al (2018) bahwa hubungan antara stunting dan konsumsi pangan hewani pada balita 6-23 bulan seperti susu/produk olahannya, daging/ikan dan telur dapat menurunkan kejadian stunting. Penelitian tersebut juga menunjukkan konsumsi pangan yang berasal dari protein hewani lebih dari satu jenis akan lebih menguntungkan daripada konsumsi satu jenis pangan hewani.


Selain itu, mengonsumsi makanan yang sesuai dengan anjuran isi piringku yakni dalam satu piring mengandung karbohidrat (nasi/kentang), sayuran, lauk (daging/telur/ikan/tempe/tahu, dsb), buah dan air mineral dalam satu kali makan akan mampu menjaga sistem kekebalan tubuh yang lebih baik, termasuk dalam melawan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Dengan memperbaiki pola makan gizi seimbang akan mencegah terjadinya stunting dan TBC. Maka dari itu, yuk kita perbaiki pola makan kita mulai dari diri sendiri untuk mencegah stunting dan TBC.

129 tampilan0 komentar

Comments


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

bottom of page