top of page
Single Post: Blog_Single_Post_Widget

Andil Indonesia dalam Pembahasan Tuberkulosis pada Pertemuan PBB ke-78


Peluncuran Coalition of Leaders Against Tuberculosis  Foto milik Stop TB Partnership (Global)
Peluncuran Coalition of Leaders Against Tuberculosis Foto milik Stop TB Partnership (Global)

New York - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi permasalahan besar di dunia dan di Indonesia. Sejak tahun 2018, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)/United Nations (UN) dalam pertemuan tingkat tinggi/High Level Meeting (HLM) membahas isu TBC yang akan kembali didiskusikan dalam pertemuan PBB ke-78 pada Jumat, 22 September 2023.


UN High Level Meeting diselenggarakan Majelis Umum PBB yang mewakili 193 Negara anggota. Kesepakatan diambil untuk topik-topik khusus melalui resolusi dan voting dalam mengatasi permasalahan yang membutuhkan kooperasi dan solusi antar Kepala Negara dan pemerintahan. Hal-hal yang dibahas di PBB adalah permasalahan sosial, ekonomi, dan politik yang membutuhkan perhatian Kepala Negara. Menurut para pemimpin global, TBC juga masalah kesehatan dengan dimensi sosial, ekonomi, dan politik. Tuberkulosis menjadi topik kesehatan ke-5 yang dibahas di tingkat PBB setelah isu HIV, Penyakit Tidak Menular, Ebola, dan Resistensi Antimikroba. Selain itu isu Cakupan Kesehatan Semesta/Universal Health Coverage dibahas untuk kedua kalinya, dan, isu kesiapsiagaan, pencegahan, dan penanggulangan pandemi/Pandemic Preparedness, Prevention, and Response dibahas untuk pertama kali. Tuberkulosis kembali dibahas untuk beberapa alasan.


Pertama, tidak ada Negara yang sudah bebas dari Tuberkulosis. WHO menyatakan setiap tahun 10.6 juta orang sakit TBC di dunia dan TBC menyerang semua kelompok usia terutama kelompok usia produktif. Siapa pun bisa terkena penyakit ini karena menular melalui udara, ketika ia menghirup percikan dahak dari seseorang dengan TBC apalagi jika tidak meminum obat. Di Indonesia, setiap 1 menit, 2 orang sakit TBC di Indonesia. Tahun 2022, hampir satu juta orang di Indonesia sakit TBC dan 724 ribu diantaranya sudah terlaporkan ke Kementerian Kesehatan untuk diobati sampai sembuh.


Kedua, tuberkulosis adalah penyebab kematian tertinggi akibat penyakit menular setelah COVID-19. WHO menyatakan setiap hari 4.100 orang di dunia meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dan diobati ini. Kematian ini bukan hanya masalah kesehatan karena juga mengakibatkan kerugian ekonomi. Kematian akibat TBC mengakibatkan hilangnya produktivitas dan kematian dini. Tahun 2022, 144 ribu orang di Indonesia diperkirakan meninggal oleh WHO. Menurut laporan Global Economic Impact of TB (2017), kematian akibat TBC di tahun 2015-2030 dapat merugikan 0.7% Produk Domestik Bruto Indonesia di tahun 2030.


Tema pada HLM TB kedua ini adalah “Advancing science, finance and innovation, and their benefits, to urgently end the global tuberculosis epidemic, in particular, by ensuring equitable access to prevention, testing, treatment and care” yang difasilitasi oleh Negara Polandia dan Uzbekistan. Pertemuan ini diharapkan akan menerbitkan sebuah Deklarasi Politik untuk memastikan para Kepala Negara terus berkomitmen untuk mendukung upaya ilmiah dan sains, menggalang komitmen pembiayaan, dan mendorong inovasi agar akses terhadap pencegahan, pemeriksaan, dan perawatan TBC adil dan setara.


Menuju pertemuan UN HLM TB 2023, Indonesia telah terlibat secara proaktif dalam menghadiri pertemuan-pertemuan negosiasi Deklarasi Politik tentang Tuberkulosis di PBB melalui Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di New York yang berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kesehatan. Selain itu, pada Selasa, 19 September 2023, Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin juga bergabung dalam ‘Coalition of Leaders Against TB’ yang diprakarsai oleh Stop TB Partnership (global) untuk mengapresiasi negara-negara yang telah mendemonstrasikan kepemimpinan politik yang berdampak dalam penanggulangan TBC (tonton acaranya di sini) yaitu Tanzania, Kenya, Kazakhstan, Filipina, dan Afrika Selatan.


Selanjutnya, Menteri Kesehatan Indonesia juga mempunyai peran penting dalam pertemuan UN HLM TB dalam beberapa hari ke depan. Pertama, Bapak Budi G. Sadikin akan memandu diskusi sebagai co-chair diskusi panel 1 dalam UN HLM TB yang bertajuk “Accelerating multisectoral actions to ensure equitable high-quality people-centred tuberculosis care, and addressing determinants of tuberculosis in the context of universal health coverage”.


Serangkaian kegiatan UN HLM TB dapat diikuti live streaming UN:

Hari dan tanggal: Jumat, 22 September / Sabtu-Minggu, 23-24 September

Waktu Plenary Session: 10.30-17.30 EDT / 21.30-04.30 WIB

Waktu Diskusi Panel 1: 11.00-13.00 EDT / 22.00-00.00 WIB


Kedua, Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Polandia berkolaborasi dengan Stop TB Partnership dan Stop TB Partnership Indonesia akan menyelenggarakan Side Event "Investing Right, Investing Now to End TB" pada pukul 13.30-15.00 EDT, Kamis, 21 September 2023. Kegiatan ini dapat ditonton secara live melalui Youtube 'Kementerian Kesehatan RI' pada Jumat, pukul 00.30-02.00 pagi WIB, Jumat, 22 September 2023. Ikuti diskusinya untuk ketahui apa prioritas investasi dalam upaya penanggulangan TBC kedepannya.

12 tampilan0 komentar

Kommentare


Artikel Lainnya

Artikel Terbaru

bottom of page