(021) 782 1932

©2018 by Forum Stop TB Partnership Indonesia. Proudly created with Wix.com

The Dose Ep. 1: Pentingnya Komitmen Politis Untuk Pengobatan TBC dan Penanganan Resistensi Antibiotik

Ulasan Episode 1 Podcast oleh Citizen News Service bersama Working Group on New TB Drugs ini menyoroti tantangan dan peluang untuk meningkatkan penanggulangan TBC dan resistensi antimikroba (AMR/anti-microbacterial resistance).

 

Podcast ini di-moderatori oleh Shobha Shukla (Citizen News Service) dengan dua narasumber yaitu Mario Raviglione dari Universitas Milan (sebelumnya bekerja sebagai Kepala TB Program Global WHO) dan Manica Balasegaram (Global Antibiotic Research and Development Partnership (GARDP)). 

 

Tuberkulosis resisten obat adalah salah satu tantangan terbesar dalam situasi resistensi mikroba/AMR secara global. TBC resisten obat menyumbang seperempat dari kematian AMR setiap tahun. Menurut Dr. Mario, masih banyak tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan kualitas program TBC, terutama untuk mengatasi resistensi terhadap pengobatan. Tantangan pertama adalah invoasi dalam meningkatkan kualitas drug-susceptibility testing (DST) atau uji coba kepekaan pengobatan. Kasus TBC resisten obat (RO), terutama Extremely Drug Resistant (XDR) TBC, memerlukan regimen yang berbeda-beda untuk setiap kasus. Tanpa hasil tes yang cepat dan akurat, tentunya dokter akan kesulitan dalam memberikan regimen pengobatan yang tepat sedini mungkin.

 

Kedua, pengobatan TBC resisten obat yang paling sering digunakan mempunyai efek samping yang buruk terhadap pasien seperti gangguan pada pengelihatan, kehilangan pendengaran, dan depresi. Masih ada negara yang belum mengadakan Bedaquiline serta Delamanid dan belum memulai transisi kepada regimen pengobatan TBC RO yang lebih pendek (Baca (eng): WHO Rapid Communication Key Changes to Treatment of MDR/RR TB). Hal ini menandakan bahwa sistim kesehatan yang ada di beberapa negara masih belum berpusat pada kebutuhan pasien dan belum memberikan kualitas pengobatan yang terbaik. 

 

Ketiga, biaya terkait pengobatan TBC RO yang lama ini masih tinggi. Mayoritas orang yang menjadi sakit TBC berasal dari kelompok sosioekonomi menengah ke bawah sehingga keluarga-keluarga tersebut akan kehilangan porsi yang signifikan dari penghasilannya untuk menunjang keberlanjutan pengobatan. Sakit TBC pun mempunyai dampak mikro, misalnya orang dengan TBC dapat kehilangan pekerjaan, yang berarti mereka akan kehilangan sumber penghidupan keluarganya.

 

Keempat, secara makro, dampak dari kekebalan bakteri TBC ini dapat melemahkan sistem kesehatan. Terutama jika tidak tersedia peningkatan kapasitas, sumber pembiayaan, dan sumber daya manusia yang cukup dan tidak responsif mengikuti tatalaksana TBC yang evidence-based. 

 

Dr. Manica juga menjelaskan bahwa Big Pharma tidak menaruh perhatian yang cukup untuk mengatasi AMR dan TBC. Hal ini karena kondisi ini umumnya terjadi di daerah berkembang dan dianggap tidak akan meningkatkan profit perusahaan dengan signifikan. Selain itu, pengobatan TBC RO saat ini juga belum mengakomodir kebutuhan dari anak-anak karena mempunyai efek samping yang cukup berbahaya. Menyadari hal ini, kedua narasumber menyampaikan perlunya sinergi antara upaya mengontrol AMR dan penanggulangan TBC melalui berbagi informasi dan data, melakukan advokasi dan pendekatan kepada donor.

 

Saat ini TB Alliance dan National Institute of Health sudah melakukan banyak investasi untuk meneliti dan mengembangkan obat-obatan untuk TBC. Namun, secara global, masih belum ada transformasi yang signifikan untuk mengobati penyakit Tuberkulosis. Hal ini, menurut Dr. Mario, hanya akan tercapai ketika pemimpin-pemimpin negara menegakkan komitmen politis lintas sektor, berinvestasi lebih banyak pada kegiatan Penelitian dan Pengembangan (R & D) Kesehatan milik negara, dan menekan Big Pharma, serta memberikan insentif untuk sektor privat yang melakukan R & D. Selain itu, Dr. Mario juga menyampaikan diperlukan sebuah strategi Public-Private-Mix (PPM) yang inklusif dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah-masalah terkait peningkatan kualitas penanggulangan TBC di setiap negara terutama dengan beban TBC yang tinggi. 

Please reload