Berkolaborasi dengan berbeda usia bukanlah hal yang sulit. Kuncinya adalah pendekatan emosional dengan sesama pengurus, adanya rasa menghargai dan menghormati terutama dalam berkomunikasi. Dan hal itu sudah dimulai di Kelompok Masyarakat Peduli TB (KMP-TB) Kecamatan Cilincing.
KMP-TB merupakan kelompok masyarakat yang umumnya beranggotakan kader TB, tokoh agama dan tokoh masyarakat, mantan pasien TB dan orang-orang yang mempunyai kepedulian TB untuk bersama-sama melakukan kegiatan penanggulangan kasus TB di lingkungannya. Pada umumnya, anggota KMP TB berusia di atas 35 tahun, atau yang sudah berumah tangga, atau bahkan dikatakan berusia tua. Tapi KMP TB di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara berbeda dengan lainnya, yakni anggota terdiri dari unsur muda mudi seperti Karang Taruna maupun, Gerakan Pemuda Ansor (GP Anshor), selain melibatkankalangan orang dewasa dari Lembaga Masyarakat Kelurahan (LMK).
Sebelum adanya KMP-TB ini, kader seringkali bekerja sendirian baik. Situasi ini kurang begitu mendukung para kader untuk bergerak lebih leluasa. Kebanyakan kader adalah ibu-ibu yang mempunyai komunitas terbatas pada kalangan ibu-ibu. Sehingga perlu melibatkan berbagai unsur masyarakat dari berbagai lapisan usia supaya bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas, sehingga kegiatan skrining TB, maupun saat mendampingi pasien TB dapat lebih optimal. Pemikiran tersebut mendorong untuk membentuk KMP beranggotakan beragam unsur masyarakat.
Menurut Purwanto (Ketua KMP- TB Cilincing) penting sekali pelibatan semua lapisan usia, karena saat ini bukan lagi hanya kader yang kebanyakan ibu-ibu harus bekerja keras sendiri, tapi perlu dukungan dari anak-anak muda. Dia juga menuturkan, “Apakah RT/ RWnya akan tutup mata terhadap warganya yang menderita akibat TB?” Di sinilah peran kaum muda untuk mengambil peran mengkoordinasikan dengan semua pihak.
Baginya, berkolaborasi dengan berbeda usia bukanlah hal yang sulit. Kuncinya adalah pendekatan emosional dengan sesama pengurus, adanya rasa menghargai dan menghormati terutama dalam berkomunikasi. Kebanyakan kaum muda bereuforia dengan kesenangannya sendiri, egois dengan tidak memperhatikan masalah sosial disekitarnya. Namun, Purwanto mengajak kepada Karang Taruna dan juga organisasi kepemudaan lain untuk peduli dengan lingkungan salah satunya adalah masalah kesehatan. Purwanto mengatakan bahwa TB adalah penyakit yang berbahaya, jika tidak diperangi bersama maka akan semakin membahayakan masyarakat. “Toh kita (kaum muda) juga tidak menutup kemungkinan akan terkena imbasnya,” begitu kilahnya.
Salah satu kegiatan rutin KMP adalah periksa dahak massal dengan ketuk pintu ke warga sekitar. Ketuk pintu dilakukan bersama dengan kader TB, petugas TB dari Puskesmas, perwakilan dari Kelurahan dan juga anggota karang taruna setempat. Kegiatan ini didahului dengan meminta izin ke RT/RW setempat.
Menurut Purwanto, ketuk pintu sangat penting karena hal ini juga untuk menyadarkan tokoh masyarakat sekitarnya akan kepeduliannya terhadap TB. “Bukan hanya ketukan hati penderita TB, tapi juga ketukan hati Lurah,” ungkapnya.
Sekarang ini, kader makin semangat bekerja menemukan dan mendampingi pasien TB karena merasa ada mitra di lapangan. Nurhikmah, kader TB Jakarta Utara menyampaikan bahwa sekarang ini makin banyak pelibatan masyarakat, dan lurah sudah mulai perhatian kepada kami, mungkin karena sekarang sudah ada wadahnya yaitu KMP. Disampaikan juga oleh Nurhikmah, dengan adanya kaum muda maka lebih mudah memberi informasi karena mereka lebih cepat menangkap maksud pembicaraan kita (orang tua), dan mereka juga akan menyampaikan informasi ke banyak orang karena biasanya pergaulan anak muda lebih luas dibandingkan dengan ibu-ibu yang pastinya lebih terbatas.
KMP-TB Kecamatan Cilincing ini telah menjalin hubungan baik dengan Kecamatan dan Kelurahan, dan juga akan ikut serta dalam Musrenbang untuk mengajukan anggaran di APB Kelurahan. Begitu juga ada rencana untuk mengajukan dana Corporate Social Responsibility (CSR) ke beberapa perusahaan di sekitar Jakarta Utara. (Elina/ Jakarta)
Sumber dari : http://cepat-lknu.org