Ujung tombak keberhasilan program pemberantasan TB adalah para kader yang mencari, mendampingi, serta mengayomi setiap suspek dan pasien. Selain memiliki jiwa sosial yang tinggi, juga dibutuhkan keberanian mengambil keputusan, meskipun kadang berisiko. Itulah yang dialami oleh kader TB Sumiyati berikut ini.
Sumi, panggilan akrab dari Sumiyati, adalah seorang kader TB Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Sumi merupakan sosok aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di daerahnya, yaitu Kalipasir. Pada usia 40 tahun ini, Sumi aktif sebagai kader posyandu, hal yang sudah ia jalani selama puluhan tahun lalu.
Sumi adalah penduduk asli Kalipasir, kegiatan sehari-harinya sebagai penjual roti keliling. Kegiatan menjual keliling ini sangat disukainya karena, menurut dia, sambil dagang, ia banyak berinteraksi dengan orang sehingga menambah teman dan saudara. Sumi memiliki dua anak berumur 12 tahun dan 3,5 tahun. Anaknya yang besar tinggal bersama ibunya yang tak jauh dari rumahnya. Sumi hanya tinggal bersama suami dan anaknya yang kecil.
Rumah berlantai dua di Jalan Kalipasir Gang Tembok RT 005 RW 010 Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, itu merupakan tempat tinggal Sumi. Rumah tersebut milik orangtua Sumi. Lantai satu dikontrakkan kepada orang lain, sedangkan Sumi tinggal di lantai dua. Rumahnya berukuran 8 meter x 2 meter itu terdiri dari dua kamar tidur, kamar mandi, dan dapur.
Dengan kondisi tempat tinggal yang sederhana dan sempit ini, Sumi harus berbagi tempat tinggal dengan pasien TB yang sedang didampinginya.
Adalah Sofyan (34), laki-laki berperawakan kecil dan kurus pernah mendekam di Lembaga Permasyarakatan (LP) Cipinang karena terlibat kasus narkoba, merasa sudah tak mempunyai keluarga yang peduli terhadap dirinya. Ibu Sofyan sudah meninggal karena sakit dan ayah Sofyan menikah lagi dan tinggal di Serang, Banten. Ayahnya sudah tak peduli lagi kepada Sofyan sehingga dia dirawat dan dibesarkan oleh neneknya di daerah Kalipasir.
Sofyan putus sekolah pada saat kelas IV SD karena tidak ada biaya. Sofyan merasa dirinya sendiri tak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa karena neneknya juga sudah makin tua. Sofyan memutuskan menjadi tukang ojek guna memenuhi segala kebutuhan hidupnya dan membantu kebutuhan sehari-hari nenek dan adiknya.
Kehidupan Sofyan sebagai tukang ojek sangat rawan dengan penyalahgunaan narkoba. Hingga pada suatu hari Sofyan terkena penggeledahan narkoba oleh polisi dan proses hukum menetapkan Sofyan menjadi terdakwa dan dikenai hukuman 4 tahun 8 bulan penjara.
Ketika dalam masa pidana, kerabat dekat Sofyan tak pernah menjenguknya ke LP. Hanya Ibu Sumi (berkerabat jauh dan dipanggil kakak oleh Sofyan) yang mau menengoknya minimal tiga bulan untuk mengetahui bagaimana keadaan Sofyan dan membawa beberapa kebutuhan pakaian atau makanan untuk Sofyan.
Sumber dari : http://cepat-lknu.org/berita/cerita-sukses-dari-kader-tb-sumiyati/