134 tahun yang lalu tepatnya tanggal 24 Maret 1882, Robert Koch mengumumkan penemuan bakteri penyebab Tuberkulosis (TB). Untuk memperingati ditemukannya bakteri penyebab TB dan sekaligus mengenang jasa Robert Koch, tanggal 24 Maret ditetapkan sebagai TB Sedunia. Tahun ini peringatan hari TB dengan tema Global HTBS adalah "Unite To End TB". Sedangkan Tema Nasional HTBS 2016 adalah "Gerakan Keluarga Menuju Indonesia Bebas TB" melalui Gerakan “Temukan TB, Obati Sampai Sembuh (TOSS TB)".
TB saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat baik di dunia maupun di Indonesia. Menurut data (Global TB Report tahun 2015), di Indonesia terdapat kematian sebesar 64.000 orang per tahun tanpa HIV+TB.
Itu artinya, setiap hari di Indonesia terdapat 175 orang meninggal karena TB. Oleh karena itu TB perlu dikenali, ditemukan dan diobati sampai sembuh serta dicegah agar tidak menular kepada anggota keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Untuk menuju Indonesia bebas TB mari kita bersatu, berjejaring antar semua komponen masyarakat baik pemerintah maupun swasta. Untuk mengenali dan menemukan TB perlu tahu apa itu TB, bagaimana penularannya, bagaimana gejalanya dll.

Apa itu TB
TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). TB lebih sering menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang bagian tubuh lain seperti selaput otak, kulit, tulang, kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lainnya disebut TB ektra paru.
TB bukan penyakit keturunan dan bukan disebabkan oleh kutukan atau guna-guna, stigma di masyarakat yang mengaitkan penyakit TB dengan dunia mistis perlu di luruskan. TB dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, kaya). TB dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, lengkap dan teratur.

Penularan TB
Sumber penularan adalah dahak penderita TB. TB menular melalui udara bila penderita batuk, bersin dan berbicara dan percikan dahaknya yang mengandung kuman TB melayang-layang di udara dan terhirup oleh orang lain.
Catatan : Penderita TB Paru dengan BTA Positif, dapat menularkan kepada 10-15 orang per tahun di sekitarnya. (BTA Positif artinya dalam parunya terdapat bakteri TB)

Gejala TB?
Gejala utama adalah batuk berdahak terus-menerus selama 2-3 minggu atau lebih.
Gejala-gejala lainnya antara lain:
  • Sesak napas dan nyeri pada dada
  • Batuk bercampur darah
  • Badan lemah dan rasa kurang enak badan
  • Kurang nafsu makan dan berat badan menurun
  • Berkeringat pada malam hari meskipun tidak melakukan kegiatan
Diagnosa TB?
Dilakukan pemeriksaan dahak dengan miskroskop. Seseorang dipastikan menderita TB bila dalam dahaknya terdapat kuman TB.
Dahak yang diambil adalah dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS) :
  1. Pada waktu datang pertama kali untuk periksa ke unit pelayanan kesehatan, disebut dahak Sewaktu pertama (S).
  2. Dahak diambil pada pagi hari berikutnya segera setelah bangun tidur, kemudian dibawa dan diperiksa di unit pelayanan kesehatan, disebut dahak Pagi (P).
  3. Dahak diambil di unit pelayanan kesehatan pada saat menyerahkan dahak pagi, disebut dahak Sewaktu kedua (S).
Pengobatan TB?
Pengobatan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal (intensif, 2 bulan) dan tahap lanjutan. Lama pengobatan 6-8 bulan, tergantung berat ringannya penyakit. Penderita harus minum obat secara lengkap dan teratur sesuai jadwal berobat sampai dinyatakan sembuh. Dilakukan tiga kali pemeriksaan ulang dahak untuk mengetahui perkembangan kemajuan pengobatan, yaitu pada akhir pengobatan tahap awal, sebulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan.

Tempat Berobat Penderita TB
Puskesmas, Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4), Rumah Sakit, klinik dan dokter praktek swasta. Di Puskesmas, penderita bisa mendapatkan obat TB secara cuma-cuma (gratis).
Bisa juga datang ke klinik-klinik milik PPTI :
  • Klinik JRC-PPTI Pusat di Jalan Sultan Iskandar Muda No.66A Kebayoran Lama Utara Jakarta Selatan – 12240.
  • Klinik PPTI Wilayah DKI Jakarta, Jl. Baladewa 34 Jakarta Pusat
  • Klinik PPTI Wilayah DKI Jakarta, Jl. Dermaga Muara Angke 1 Jakarta Utara.
  • Klinik PPTI Wilayah Jambi, klinik PPTI Cab. Kota Semarang, Klinik PPTI Cab. Bantul (DIY)
Catatan:
Rumah Sakit, Klinik dan Dokter Praktek Swasta yang sudah bekerjasama dengan program juga menyediakan obat yang sama dan Gratis. Akibatnya bila Penderita minum obat tidak teratur?
  • Penyakit tidak akan sembuh atau bahkan menjadi lebih berat.
  • Penderita tetap dapat menularkan penyakitnya pada orang lain.
  • Penyakit menjadi makin sukar diobati karena ada kemungkinan kuman TB menjadi kebal, sehingga diperlukan obat yang lebih kuat dan lebih mahal. Obat untuk kuman yang kebal tidak tersedia di semua fasilitas kesehatan.
  • Perlu waktu lebih lama untuk sembuh.
  • Penderita dapat juga menularkan kuman yang sudah kebal obat pada orang lain.
Kapan penderita dinyatakan sembuh?
Bilamana pada pemeriksaan ulang dahak satu bulan sebelum akhir pengobatan dan akhir pegobatan tidak ditemukan lagi adanya kuman TB.