Pesantren Blitar Dilibatkan dalam Penanggulangan Tuberkulosis

Untuk meningkatkan pengatahuan dan pemahaman penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TB) khususnya program DOTS (Directly Observed Treatment Shortcours) bagi Santri di Pondok Pesantren, tanggal 20 Nopember 2014 bertempat di Aula Dinas Kesehatan Blitar diadakan sosilisasi kepada pengurus Pondok Pesantren Kabupaten Blitar. Kegiatan diikuti 24 peserta dari 20 perwakilan pengurus pondok pesantren di Kabupaten Blitar.
Kegiatan dibuka oleh Kasi P2 Dinkes Kabupaten Blitar Eko Wahyudi, S.KM. M,KM dan dihadiri Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Blitar Wijianto, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kabupaten Blitar Ahmad Mudlofi, S. Ag. M.HI dan Koordinator CEPAT LKNU Blitar Nur Laili.
Dalam sambutannya, Eko Wahyudi, SKM, MKM, menyatakan hanya dengan komitmen semua pihak, TB dapat ditanggulangi. Penanggulangan penyakit TB memerlukan peran aktif dari semua elemen masyarakat termasuk kader pesantren yang merupakan salah satu komponen penggerak masyarakat dalam penanggulangan TB.
Menurut Eko Wahyudi, TB dapat dikenali dari beberapa gejala yang ditunjukkan oleh penderita, di antaranya batuk berdahak selama dua hingga tiga minggu. Ada juga yang disertai sesak dan batuk berdarah. Kuman TB ditularkan lewat udara, dari percikan dahak ketika penderita batuk kepada orang di sekitarnya.
Tidak hanya itu, ada juga faktor eksternal yang dapat mempermudah penularan TB, di antaranya lingkungan yang tidak sehat yaitu ventilasi yang tidak baik, ukuran rumah yang tidak seimbang dengan jumlah penghuninya, serta perilaku hidup tidak sehat antara lain meludah di sembarang tempat.
TB dapat disembuhkan dengan pengobatan secara terus menerus sampai tuntas sesuai petunjuk dokter. Obat anti TB (OAT) disediakan oleh pemerintah, sehingga pasien dapat memperolehnya secara gratis baik di Puskesmas maupun rumah sakit yang ditunjuk, kata Kasi P2 Dinkes Kab. Blitar.
Ketua RMI Blitar, Ahmad Mudlofi, S. Ag. M.HI dalam sambutannya menyatakan dalam perspektif Islam terdapat tiga kaidah pengobatan penyakit yaitu ;1. Hifdhu al-shihhah (menjaga kesehatan), 2. Al-himyatu ani al-mu’dzii (melindungi diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit), 3. Istifraghu al-mawadi al-faasidah (mengeluarkan unsur-unsur yang merusak badan).
“Pencegahan penyakit TB dapat dilakukan melalui sentuhan nilai-nilai universal dan kemanusiaan. Misalnya firman Allah dalam surat Al-Baqarah : 195 artinya : Jangan ceburkan dirimu dalam kebinasaan, berbuat baiklah karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik . Hadis Nabi : La dharara wa la dhirar (tidak diperbolehkan menyengsarakan diri sendiri dan menimbulkan kesengsaraan terhadap orang lain). Dalam kaidah fiqih yang kemukakan oleh Imam Jalaluddin as Suyuthi : Al dhararu yuzalu (bahaya itu harus dihilangkan),” jelas Gus Dhofi.
Di akhir acara, Wijianto memimpin diskusi tentang draf kesepakatan bersama antara Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar dengan Pondok Pesantren yang tergabung dalam RMI (Asosiasi Pesantren NU) tentang peningkatan kesehatan di Pondok Pesantren.
Menurut Wijianto, Sekretaris PCNU yang juga fasilitator Cepat LKNU Blitar, ruang lingkup kesepakatan bersama adalah peningkatan kesehatan di lingkungan pondok pesantren yang meliputi; kesehatan lingkungan, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, perilaku hidup bersih dan sehat, peningkatan gizi, promosi kesehatan dan kesehatan reproduksi remaja.