Berita Pers
No.85/FSTPI/4/2014


REKOMENDASI PERTEMUAN KE-2 FORUM STOP TB PARTNERSHIP KAWASAN ASIA TENGGARA, PASIFIK BARAT DAN MEDITERANIA TIMUR


Jakarta,28 April 2014.
Setelah berdiskusi yang cukup alot tentang berbagai isu penting dalam menghadapi tantangan pengendalian Tuberkulosis (TB) di Negara-negara kawasan Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Mediterania Timur, pertemuan 2nd Forum Stop TB Partnership untuk kawasan negara tersebut telah menyepakati REKOMENDASI kunci. Selanjutnya rekomendasi tersebut akan diserahkan Bapak Arifin Panigoro, Ketua Forum Stop TB Partnership Indonesia kepada Dr. Lucica Ditiu, Executive Secretary of Global Stop TB Partnership untuk diedarkan kepada seluruh pimpinan negara di dunia, khususnya kepada 22 negara dengan beban TB tertinggi untuk ditindaklanjuti. Rekomendasi Pertemuan 2nd Forum Stop TB Partnership yang berlangsung selama 2 hari tanggal 3 – 4 Maret 2014 diikuti 100 peserta dan pengamat dari 13 negara yaitu Afganistan, Bangladesh, Cambodia, China, India, Indonesia, Jepang, Nepal, Pakistan, Philipina, Korea Selatan, Thailand dan Vietnam adalah :
  1. Membentuk atau memperkuat struktur/perangkat/mitra/forum kemitraan di tingkat nasional dengan bantuan dari Global Stop TB Partnership dalam rangka untuk memastikan tindakan yang efektif, efisien dan struktur yang terlibat dalam pengendalian TB di masing-masing negara.
  2. Aktif melibatkan sektor swasta untuk berkontribusi secara substansial dalam mendukung pengendalian TB melalui berbagai mekanisme, advokasi, dukungan bisnis dan pendanaan.
  3. Memastikan lingkungan yang kondusif di tingkat nasional untuk program pengendalian TB, meliputi:
    • Adanya komitmen politik dengan diterbitkannya Keputusan Presiden atau Keputusan Tingkat Tinggi Pemerintahan sebagai landasan hukum/payung hukum bagi semua stake holder.
    • Menyusun dan melaksanakan peraturan bahwa TB merupakan penyakit yang wajib dilaporkan dengan cara :
      • Advokasi dan mengembangkan lingkungan yang kondusif untuk pelaporan wajib TB;
      • Mengatur sistem informasi untuk mendukung pelaporan wajib TB;
      • Melakukan ujicoba dan penyempurnaan sistem informasi.
    • Membuat regulasi/peraturan untuk mengawasi penjualan obat anti TB.
Menurut laporan WHO, pada tahun 2012 diperkirakan 8,6 juta orang terjangkit TB dan 1,3 juta meninggal termasuk 320.000 kematian diantaranya adalah ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Hal ini ironis, mengingat bahwa untuk mengendalikan penyakit TB sudah tersedia teknologi dan obat untuk menyembuhkannya. Laporan Global Tuberculosis 2013 dan hitung mundur sampai Tahun 2015, masih diperlukan 5 tindakan prioritas untuk mempercepatnya. Ke-lima tindakan prioritas itu adalah :
  • menjangkau kasus TB yang hilang,
  • menjadikan TB-MDR sebagai krisis kesehatan masyarakat,
  • mempercepat respon terhadap TB-HIV,
  • meningkatkan pendanaan untuk menutup kesenjangan sumber daya, dan
  • memastikan penyerapan yang cepat dan melakukan kegiatan-kegiatan yang inovatif.
Berdasarkan data WHO, Wilayah Asia Tenggara dan Kawasan Pasifik Barat secara kolektif menyumbang 58% dari kasus TB di dunia pada tahun 2012. Setengah dari Negara dengan beban tertinggi TB berada di Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Mediterania Timur yaitu 11 negara dari 22 negara dengan beban TB tertinggi.
Pertemuan 2nd Forum Stop TB Partnership yang berlangsung selama 2 hari pada tanggal 4 Maret 2014 ditutup secara resmi oleh Bapak Arifin Panigoro dan Dr. Lucica Ditiu ditandai dengan membunyikan alat musik trasidional Jawa Barat yaitu angklung. Dalam acara penutupan yang berlangsung di Soehanna Hall The Energy Building Jakarta tersebut dimeriahkan dengan tari Saman dari Aceh, mengajak para hadirin untuk bermain angklung yang dipimpin oleh kunduktor dari Sanggar Angklung pimpinan Mang Ujo dari Bandung dan penampilan penyanyi Sastrani Dewantara and friend.
Berita ini disiarkan oleh Sekretariat Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI). Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail : admin@stoptbindonesia.org
                                                                Forum Stop TB Partnership Indonesia                                                Drg. Mariani Reksoprodjo                                                                                                                                        Sekretaris Eksekutif